Opini

no image

Derau Kebudayaan

01 February 2026
Oleh : Yasraf Amir Piliang
Unduh PDF


 Diperlukan ’manajemen derau’ untuk mengelola informasi dan derau dalam banjir, pandemi, dan tsunami informasi, sehingga kita mampu membedakan pesan dan derau.

Kita adalah bangsa yang dikepung bom informasi (teks, citra, tontonan), yang meledak di ruang-ruang sosial, ekonomi, politik dan budaya kontemporer, melalui media televisi, WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, atau Tik Tok.

Bom itu menghantam persepsi, mengguncang pikiran, dan mengaduk emosi. Informasi lahir dari rahim ”ekologi informasi,” yang dilewati cincin api penuh patahan, palung, dan gunung berapi, yang sewaktu-waktu memuntahkan ’material informasi’, menimbulkan gempa, pandemi, dan tsunami informasi. Menjalar viral, tsunami informasi itu meledakkan histeria, menambang jutaan like, dan memicu banjir bandang komentar.

Bom informasi yang paling kuat menggema, menyeret massa ke dalam pengaruhnya, baik sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Padahal, banyak gema itu tak mengandung kebenaran, kebaikan atau kebajikan. Sebaliknya, ia semata lengkingan ”derau” (noise), yang justru mengganggu, mengacaukan, dan membelokkan aliran sungai informasi.

Derau yang bergaung memekakkan itu menumpulkan akal sehat, membutakan hati, dan mengeringkan nurani, yang menjauhkan kita dari kebenaran, kebaikan dan kebajikan. Derau itu merecoki tubuh politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Ia merecoki tubuh budaya dengan merusak nilai, perilaku, cara pikir, ideologi, dan makna.

Tetapi, derau tak bertahan lama. Setelah badai informasi mereda, kita kembali hidup seperti sediakala, setia pada kebiasaan lama. Kita tetap gersang jiwa, hampa makna, dan nalar tertutup fatamorgana. Sehingga, tak mampu memperoleh pengetahuan apa-apa, hingga datang badai, pandemi dan tsunami informasi berikutnya—la belle noiseuse.

Ekologi informasi

Dalam limpah ruah informasi, kita justru tak mampu menambang pengetahuan berguna atau gagasan segar bernilai. Lantaran kita diseret oleh gelombang raksasa derau ke dalam lorong gelap informasi, yang membuat mata rabun senja, sehingga tak dapat lagi membedakan informasi berguna dan tak berguna, konstruktif, dan destruktif, mencerahkan, dan memabukkan.

Ironisnya, informasi yang ditunggangi derau itu yang kini digemari, yang mendorong kita menempelkan jutaan likesubsrcibe, tanda jempol, bintang, dan lonceng. Ini karena derau itu memukau, menghibur, dan menyenangkan. Akibatnya, informasi bermuatan pengetahuan, kebenaran dan kebajikan ditinggalkan. Kita malas membaca buku, membuka jurnal, atau mengikuti kelas sarat ilmu.

Kita dibuat rabun, hingga tak paham bahwa informasi itu urat nadi kebudayaan, bahan baku perajutan ”makna”, dan penegakkan ideologi. Makna sendiri hanya menjadi ruh sosial bila disampaikan melalui komunikasi. Inilah batu ujian bagi kemampuan membedakan antara pesan dan derau, data dan informasi, yang berguna dan tak berguna (Pierce, 1981; Stone, 2015).

Derau berefek ganda pada mata rabun, kuping tuli, nalar tumpul dan jiwa gersang, yang tak mampu mengurai ketidakpastian, chaos, entropi, turbulensi, dan galat, lalu tenggelam di dalamnya. Akibatnya, kelimpahruahan informasi gagal dikonversikan menjadi ide kreatif dan pengetahuan berguna, karena kita hanya sibuk menahan hantaman tsunami informasi—the inertia force.

Kita tak sadar, bahwa kita hidup di lingkungan bermuatan jutaan informasi, dengan kekayaan, interaksi, proses, dan relasi-relasi mutualnya, yaitu ”infosfera”. Di dalamnya, informasi dan derau berperilaku seperti organisme hidup, lahir, berkembang biak, menua, dan mati, digantikan informasi dan derau generasi baru (Floridi, 2014; Szendy, 2025)

Kita menganggap informasi itu penuh kepastian, padahal ketidakpastian. Karenanya, kita harus cerdas memisahkan pesan dan derau, informasi berguna dan tak berguna, yang hanya bekerja kalau didukung pengetahuan memadai. Bila tidak, kita tak mampu memprediksi arah informasi, menggiring pada keputusan salah: sederet sampah informasi dan derau tak berguna.

Di dalam infosfera, kita harus mampu mendeteksi ranjau, perangkap dan jebakan informasi. Salah satunya adalah kelimpahruahan informasi, yang justru dapat berubah derau, yang bagai banjir bandang dapat merusak ekologi informasi (Malaspina, 2018). Dalam politik, banjir bandang informasi dibuat para buzzer, untuk mengacaukan ekologi informasi politik.

Informasi dan derau kini hidup di dalam ekologi ”masyarakat kontrol”, yaitu masyarakat yang justru ’bahagia’ dikendalikan. Padahal, mereka boleh jadi sedang digiring, diangon, diperdaya, bahkan ditipu. Dilucuti dari daya kritis, mereka menjelma ”mayoritas diam”, yang memamah biak dan menelan setiap banjir bandang informasi (Baudrillard, 1983; Deleuze, 1992).

Manajemen derau

Derau memang sering mengganggu, memperdaya, menyesatkan, mengacaukan, bahkan menipu kita, tetapi apakah ia adalah musuh bersama yang harus dibasmi? Apakah dunia sosial, politik, ekonomi, dan budaya harus dibersihkan dari derau? Untuk itu, kita harus memahami informasi dan derau di dalam ekologinya.

Esensi derau adalah latar belakang informasi, persepsi, budaya, pikiran, logika, bahkan kehidupan. Derau adalah parasit. Dan seperti parasit, ada yang merusak dan mutualistik. Derau adalah unsur perangkat lunak logika, residu, atau limbah dari pesan. Tak ada hidup tanpa limbah, sampah, residu, dan sisa buangan. Tak ada kebenaran tanpa derau. Derau adalah latar kehidupan itu sendiri (Serres, 1999).

Seperti informasi, derau juga bertumbuh, berkembang biak dan beregenerasi di dalam infosfera. Sebagai latar informasi dan kehidupan, derau tak pernah berhenti beregenerasi. Ia tumbuh tanpa batas, berkelanjutan, tanpa ujung dan tak dapat dibasmi. Layaknya parasit dan virus, sekeras apa pun kita memekikkan derau untuk membungkam derau, ia tetap ada (Serres, 1999).

Akan tetapi, pertumbuhan derau yang melampaui batas akan mendorong sifat parasit merusak, yaitu mengambil semuanya dan tak memberi apa pun: kerakusan informasi. Informasi jatuh ke tangan parasit merusak, yang tak pernah berbagi. Ia digerakkan libido mendominasi (libido dominandi) tak terpuaskan, yang menggunakan segala cara mendapatkan kekuasaan politik, ekonomi, dan kultural (Serres, 1998).

Mutualisme hanya dapat hidup bila ada relasi timbal-balik saling menguntungkan di dalam ekologi informasi: atensi, respek, kontemplasi, keseimbangan, dan keinginan berbagi (Serres, 1995, 1998). Di sini derau tak lagi dilihat sebagai parasit perusak, tetapi komponen pembangun bentuk baru pengetahuan dan inovasi, dilandasi sifat saling menghargai dan berbagi (Malaspina, 2018).

Untuk itu, diperlukan ’manajemen libido’, yang diarahkan pada penggunaan informasi lebih mencerahkan dan memajukan, untuk memperkuat ”libido pengetahuan” (libido sciendi), yaitu rasa ingin tahu tak terpuaskan, hasrat tak bertepi akan pengetahuan, kecintaan mendalam pada kebenaran, dorongan untuk memahami, meneliti, dan mendapatkan pengetahuan dunia.

Penggunaan informasi bagi hasrat pengetahuan dapat berjalan bersama dengan informasi bagi pemenuhan dorongan libido demi mendapatkan kesenangan (libido sentiendi). Inilah dorongan kesenangan badani, pengalaman indrawi, sublimasi estetik, dan pendewasaan emosi. Di sini, karya seni memegang peran sangat besar bagi pengasahan kepekaan rasa, etika, dan estetika (Serres, 1998).

Ironisnya, dunia akademik dan intelektual—yang mestinya berperan besar dalam mengelola informasi, chaos, dan derau, untuk menghasilkan pengetahuan berguna dan gagasan baru—justru ikut terseret di dalam arus besar histeria like, subsrcibe, jempol, dan tanda lonceng bersifat permukaan. Lalu, siapa lagi yang bisa mengembangkan pengetahuan berdasarkan kerumitan informasi, kedalaman pikiran dan daya kreativitas?

Di sini, diperlukan ’manajemen derau’ (noise management), untuk mengelola informasi dan derau dalam banjir, pandemi, dan tsunami informasi, sehingga kita mampu membedakan pesan dan derau, informasi berguna dan sampah informasi, demi menambang pengetahuan berguna, untuk dikonversikan menjadi ladang pemikiran kreatif.

Dunia akademik—dengan dukungan pemerintah—mestinya berperan sentral dalam manajemen informasi di dalam ekologi informasi dan infosfera, yang di dalamnya informasi dan derau terus bertumbuh, berkembang-biak dan beregenerasi tanpa henti, yang sewaktu-waktu dapat memicu banjir, pandemi, dan tsunami informasi.

Harta karun informasi dan derau harus dijadikan bahan baku ekspedisi pengetahuan, penjelajahan kebenaran, dan petualangan ilmiah, didukung aliran sungai informasi untuk pengayaan hati, penajaman kepekaan rasa, dan etika, untuk melawan taring-taring kekuatan hegemonik, yang memanipulasi informasi dan derau demi kekuasaan—libido dominandi.

 

Yasraf A Piliang,
Pemikir Sosial dan Kebudayaan ITB, dan Anggota Akademi Ilmu pengetahuan Indonesia (AIPI).

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Harian Kompas 01 Februari 2026.

Hak Cipta © 2014 - 2024 AIPI. Dilindungi Undang-Undang