ANUGERAH HABIBIE PRIZE: Tiga Ilmuwan AIPI Meraih Habibie Prize 2024

12 November 2024 | 6064 hits
HabibieP.jpg

Jakarta, 11 November 2024. 

Tiga ilmuwan Anggota AIPI meraih Anugerah Habibie Prize 2024 dari lima ilmuwan Indonesia yang diganjar pengakuan tertinggi terhadap talenta unggul Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan kelima pemenang Habibie Prize itu di Auditorium BJ Habibie, Senin 11 November 2024. Pemberian penghargaan disampaikan langsung oleh Kepada BRIN Dr. Laksana Tri Handoko. 

Tiga ilmuwan Anggota itu adalah Prof. Bachti Alisjahbana, dr.,SpPD-KPTI, Ph. D. penerima anugerah di Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi; Prof. Anita Lie, MA., Ed.D. di Bidang Ilmu Sosial, Ekonomi, Politik, dan Hukum; dan Prof. Dr.Muhammad Amin Abdullah untuk Bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Dua ilmuwan lainnya penerima Habibie Prize 2024 adalah Prof. Ir. Felycia Edi Soetaredjo, S.T., M.Phil, Ph.D., IPM, ASEAN.Eng - Guru Besar Univeristas Katolik Widya Mandala – Surabaya, untuk Bidang Ilmu Dasar,  dan Prof. Brian Yuliarto, ST., M.Eng., Ph.D. – Guru Besar Institut Teknologi Bandung – untuk Bidang Ilmu Rekayasa. 

Sepanjang 25 tahun penyelenggaran penghargaan tertinggi dan bergengsi bagi ilmuwan Indonesia ini sampai dengan 2024 telah terpilih 80 tokoh dan ilmuwan penerima Anugerah Habibie di lima Bidang Keilmuan.  Sebanyak 20 (25%) tokoh penerima Anugerah) adalah ilmuwan Anggota AIPI. 

“Habibie Prize diberikan murni berbasiskan ekselensi dari rekam jejak yang tercatat dan diakui oleh komunitasnya,” demikian Handoko menjelaskan.  

Pemenang anugerah Habibie Prize merupakan tokoh yang diseleksi sangat ketat oleh tim juri yang independen. Dalam penjelaan tertulis BRIN, pemenang Anugerah Habibie Prize adalah mereka memiliki integritas dan telah menjalani  pengabdian panjang di bidang keilmuan yang digelutinya. Para ilmuwan itu telah nyata menunjukkan rekam jejak tercatat memberikan kontribusi yang berpengaruh secara signifikan pada perkembangan iptek, dan aktif memberikan sosialisasi dan motivasi kepada masyarakat, dan bisa dijadikan idola baru dengan menekuni bidang iptek yang ditekuni, serta tokoh yang memberikan inspirasi dalam penyebarluasan iptek

Peraih Anugerah Habibie Prize juga diwajibkan untuk menuliskan kontribusi signifikannya untuk bidang keilmuannya.  Mengawali pengumuman penerima Anugerah Hibibie Prize 2024, penyelenggara membacakan dan menayangkan video profil masing-masing penerima, yang melandasi keputusannya. 

Prof. Bachti Alisjahbana, adalah Guru Besar FK Universitas Pandjajaran. Penyandang gelar Philosophical Degree dari Radboud University Medical Centre Nijmegen, Belanda pada 2007 dengan thesis berjudul Tuberculosis, Host Response and Patient Care ini, menjadi Anggota Komisi Ilmu Kedokteran AIPI sejak 2021. Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang gemar meneliti ini menuliskan makalah ringkas kontribusinya dalam bidang diagnosis penyakit infeksi berjudul “Tantangan menuju Kemandirian dalam Diagnosisi Penyakit Infeksi di Indonesia”. 

Dalam rekomendasinya Bachti menyarankan agar para peneliti bioteknologi dan laboratorium diharapkan dapat berkontribusi mengembangkan alat diagnostik yang diperlukan serta tepat guna untuk dimanfaatkan di fasilitas kesehatan. Dia menyarankan agar pemerintah sebaiknya memberikan dukungan upaya penelitian dan pengembangan dengan dana yang cukup dan system administrasi yang fleksibel dalam mengembangkan produk alat dianostik baru mendukung dan memperkuat ketahanan industri alat diagnostik baru. 

Prof. Anita Lie adalah Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan Unika Widya Mandala Surabaya. Anita dipilih menjadi Anggota AIPI sejak 2024. Anggota Badan Akreditasi Nasional 2023-2028 ini juga memperoleh beberapa penghargaan, anatar lain sebagai Cendekiawan Berdedikasi oleh Harian Kompas pada 2018; penghargaan penelitian dari American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) Luce Fellowship Research Grant; dan 2011 menjadi Research Fellow di University of California, Berkeley. Dalam Habibie Prize 2024 ini, Anita menuliskan makalah yang menggambarkan kedalamannya risetnya terkait Pendidikan di Indonesia berjudul “Transformasi Pendidikan Dalam Lensa Ilmu Pengetahuan: Evaluasi dan Implikasi.” Ia mengungkapkan pentingnya transformasi paradigma dalam pendidikan sebagai respons terhadap krisis yang muncul akibat anomali dalam praktik dan teori pendidikan yang ada demi kemajuan Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan. 

Anita mencontohkan, fenomena seperti ketergantungan pada teknologi digital dan respons negara seperti Finlandia yang Kembali menggunakan buku cetak, menunjukkan perlunya penyesuaian terus-menerus terhadap kebijakan dan metode pendidikan. Proses transformasi paradigma, menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan—termasuk pendidikan— terjadi bukan hanya karena adopsi metode baru, tetapi juga karena evaluasi kritis dan penyesuaian berkelanjutan berdasarkan bukti empiris. Karena itu, untuk memastikan keberhasilan inovasi dalam pendidikan, menjadi penting untuk secara metodologis menguji dan menilai praktik baru serta terus memperbarui pendekatan agar sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan tantangan yang muncul.

Prof. Amin Abdullah dikenal sebagai seorang filsuf, ilmuwan, pakar hemenneutika dan cendekiawan muslim Indonesia. Prof Amin adalah Guru Besar Filsafat dan Studi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1999, menjadi Anggota AIPI sejak 2011, dan diamanahi menjadi Ketua Komisi Kebudayaan AIPI. Amin Abdullah menjadi Rektor IAIN-UIN selama 2 periode (2002-2010). Ia juga menjadi Anggota Dewan Pengarah BPIP (2022-2027), dan baru-baru ini menyelenggarakan FGD ke berbagai lembaga/universitas di 7 kota besar untuk menjaring dan mendengarkan pendapat tentang Pancasila dan Runtuhnya Etika Berbangsa. Ia juga aktif menulis penelitian dan pandangannya di berbagai media dan jurnal keilmuan. Atas sponsor Departemen Agama dan Pemerintah Republik Turki, Amin Abdullah mulai tahun 1985 mengambil Program Ph.D. bidang Filsafat Islam, di Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1990). Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005) ini mengikuti program Post-Doktoral di McGrill University Canada (1997-1998). 

“Agama, Filsafat dan Budaya,”adalah tema makalah yang disampaikan Amin Abdullah kepada Penyelenggara Habibie Prize 2024, bidang yang telah lama menjadi perhatian dan dedikasi tema-tema penelitiannya. Penulis buku monumental berjudul “Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin – Metode Studi Agama & Studi Islam di Era Kontemporer” ini sangat getol dan tekun mengkampayekan gagasan pendekatan integrasi-interkoneksi keilmuan dalam rangka mengakhiri kecenderuangan penembangan ilmu yang bersifat monodisiplin.  Relasi hubungan Agama dan ilmu Pengetahuan (Religion dan Saince) menjadi perhatiannya. Corak hubungan yang terjadi adalah Konflik, Independen, Dialog dan Integrasi, menjadi penting dipahami dan dianalisis bagaimana hubungan antara keduanya dalam kehidupan masyarakat dalam praktik budaya. Ia menyarankan filsafat dapat diposisikan menjadi pandu kehidupan yang kebijaksana, karena integritas intelektual memerlukan filsafat. Agama, filsafat, dan budaya semestinya menjadi satu paket bahasan yang terintegrasi. 

Website

:

aipi.or.id  

Instagram

:

aipi_Indonesia

Tweeter 

:

AIPI_id

Youtube

:

AIPI_Indonesia

Penyusun Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa,
humas@aipi.or.id
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI

 

Hak Cipta © 2014 - 2024 AIPI. Dilindungi Undang-Undang