Siaran Pers AIPI
Jakarta, 15 Juli 2024. Pemenuhan kebutuhan pangan rakyat adalah urusan yang paling penting dan harus dapat ditunaikan oleh negara. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki keragaman budaya dan sumberdaya alam, dirasa belum dapat mengelola dan memanfaatkan potensi bangsa secara optimal dan berkeadilan. Sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, negara berkewajiban menjamin kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Disisi lain, secara kasat mata kekayaan alam Indonesia ternyata masih saja banyak dieksploitasi oleh bangsa asing secara secara masif, sejak dulu hingga kini, baik secara legal maupun illegal.
Prakiraan jumlah penduduk Indonesia pada 2050 nanti, sebanyak 328,93 juta (prakiraan BPS,2023), ditengah jumlah penduduk dunia yang akan mencapai sekitar 9,1 miliar jiwa, berdasarkan proyeksi FAO pada tahun yang sama. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia tersebut, diperlukan peningkatan produksi pangan secara keseluruhan dan berkelanjutan. Hampir semua komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebanyak itu.
Sementara itu, dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir ini, pemerintahan lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur, dan kurang memperhatikan komunitas rakyat agromaritim (petani, peternak, pekebun, dan nelayan), yang semakin banyak mengalami keterpurukkan dan berakibat mati usahanya. Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang berakibat meningkatnya kebutuhan bahan pangan belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh komunitas rakyat agromaritim tersebut. Ketidakmampuan rakyat dalam memenuhi seluruh kebutuhan bahan pangan membuat pemerintah dan pengusaha harus import. Cara penyelesaian paling mudah, tetapi di sisi lain komunitas rakyat agromaritim makin hancur.
Sebagai negara besar dengan penduduk terpadat ke-4 di dunia, dan memiliki sumberdaya alam penghasil bahan pangan, ternyata Indonesia masih harus mengimpor berbagai bahan pangan dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan bangsa yang jumlahnya makin lama makin besar. Disisi lain, pada umumnya tingkat pendidikan mayoritas komunitas agromaritim (peternakan, pertanian, perkebunan, dan perikanan) rata-rata hanya sampai jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini menjadi salah satu penyebab utama ketidakmampuan bangsa Indonesia mewujudkan negara berdaulat pangan. Mereka pada umumnya tidak memiliki kemampuan intelektual dan juga memiliki banyak keterbatasan dalam mengelola lahan agromaritimnya secara proporsional dan professional.
Fakta hari ini menunjukkan bahwa perubahan besar di dunia seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital makin meninggalkan komunitas agromaritim yang pada dasarnya sebagai pelaku utama dalam menghasilkan sumber bahan pangan bagi bangsa Indonesia. Makin banyak sumberdaya alam dikelola pihak asing melalui kebijakan investasi yang tersistem. Di satu sisi, peran investor asing mempercepat Pembangunan dalam banyak aspek, tetapi di sisi lain masih banyak warga negara hanya menjadi pekerja para investor asing.
Potensi dan sumberdaya agromaritim yang tersebar di setiap jengkal wilayah Indonesia semestinya mampu dioptimalkan dan bisa surplus (swasembada) pangan jika ada perubahan manajemen bisnis yang menjanjikan kesejahteraan para pelakunya. Namun tidak mungkin membiarkan para rakyat agromaritim bekerja sendiri secara konvensional dengan skala kepemilikan rendah, berlatar belakang pendidikan hanya SMP, dan tidak berorientasi bisnis. Komunitas rakyat agromaritim harus didampingi minimal tiga unsur esensial yaitu (i) pemerintah sebagai regulator, (ii) perguruan tinggi sebagai edukator dan pendamping transfer iptek, dan (iii) pengusaha sebagai pemilik modal dalam membentuk sinergi dan kolaborasi mewujudkan kedaulatan pangan, melalui Sistem Integrasi Horizontal Industri Pangan Bangsa (SINTHAL-IPB).
Berdasarkan berbagai persoalan di atas, diperlukan diskusi dan interaksi sepadan yang terus menerus antar semua pihak, utamanya empat pilar (tetrahelix) yaitu pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha, dan komunitas rakyat di sektor pertanian/peternakan dan perikanan. IPB-University telah menyiapkan konsep dasarnya khususnya dalam pemberdayaan komunitas masyarakat agromaritim sejak 2013 (Muladno, 2023).
Berbekal pengalaman panjang ini, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Minapoli, dan NAPINDO MEDIA ASHATAMA bermaksud mengadakan seminar nasional dengan tujuan mendiskusikan konsep SINTHAL-IPB dan menggalang kerjasama lebih erat dengan semua pihak terkait untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui Revolusi Pangan.
Seminar bertajuk Revolusi Pangan; Membangun Sistem Integrasi Horisontal Industri Pangan Bangsa ini akan diselenggarakan pada Kamis. 18 Juli 2024, pukul 09.00-17.00 WIB bertempat di Assembly 1, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Target peserta adalah dari Kalangan Pemerintah Pusat dan Daerah, Akademisi, Pelaku Usaha, Asosiasi dan Proktisi, BUMN, Komunitas Rkyat Agromaritim, Media cetak dan Elektronik, dan masyarakat umum.
Perhelatan seminar Revolusi Pangan ini bertujuan untuk: 1) mendiskusikan konsep SINTHAL-IPB dalam rangka memperbaiki ekosistem bisnis masyarakat agromaritim; 2) menggali pengalaman para tokoh nasional tentang semangat kolektif berjamaah sebagai landasan dalam melakukan kegiatan ekonomi; dan mengevaluasi kegiatan ekonomi di bidang agromaritim (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan) yang tampaknya tidak kondusif bagi semua pelaku usaha.
Peserta yang ingin mengikuti acara seminar gratis ini dapat mendaftarkan diri dengan memindai QR code di flyer di atas. Seluruh rangkaian agenda Seminar juga dapat diunduh dengan memindai QR code Rundown Seminar.
Seminar yang berlangsung seharian ini akan menghadirkan pakar dan parktisi yang mumpuni dari unsur tetrahelix, yang terbagi menjadi Sesi Pembukaan, Sesi I yang akan dimoderatori oleh Arya Wishnuardi S.E., M.Si., Sesi II dikomandani juga oleh Arya Wishnuardi S.E., M.Si., dan Sesi III akan dihela oleh Prof. Dr. Drh. Agik Suprayogi M.Sc. Agr.
Seminar dimulai dengan, Sesi Pembukaan, akan diawali dengan Registrasi dan Coffee Break, Pembukaan dan Doa, Penyampaian Laporan oleh Ketua Panitia Harry Widyantoro SKM, M.H., Sambutan oleh Ketua AIPI Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S., dan dilanjutkan dengan Penandatanganan Kesepakatan Bersama “Mewujudkan Sistem Integrasi Horizontal Industri Pangan Bangsa (SINTHAL-IPB)”. Sesi Pembukaan akan diakhir dengan paparan Pembicara Kunci H. Arief Prasetyo Adi, ST, MT – Kepala Badan Pangan Nasional bertajuk “Implementasi Hilirisasi mewujudkan Cadangan Pangan Pemerintah”
Pada Sesi I, perhelatan Seminar akan diisi oleh paparan Narasumber: 1) Ir. Suryopratomo berjudul “Peluang dan Tantangan Adopsi Konsep SINTHAL-IPB dalam Sinergi Industri Agromaritim”; 2) KH. Nazaruddin Umar bertemakan “Pentingnya Berjamaah dalam Pengembangan Industri Kecil di Sektor Agromaritim”; 3) Jarot Indarto, SP, MT, MSc, Ph.D. berjudul “Komitmen Pemerintah dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan Berbasis Kerakyatan”; dan 4) Yeka Hendra Fatika menyampaikan paparan “Komitmen Komisi Ombudsman untuk Mengawal SINTHAL-IPB (Sistem Integrasi Horizontal Industri Pangan Bangsa)”. Dalam Sesi II ini akan diselingi pula dengan Pelantikan Pengurus SASPRI Nasional, dilanjutkan dengan Ishoma.
Perhelatan Seminar Revolosi Pangan pada Sesi II diawali dengan paparan dari Laksma TNI Judijanto M.Si, MADS berjudul “Membangun Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Berbasis Kerakyatan”, diikuti paparan pemikiran Prof. Dr. Ir. Muladno MSA IPU dalam “Membangun Peradaban Baru Melalui Program Pembelajaran Partisipatif”; yang dilanjutkan Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, dengan menyampaikan presentasi berjudul “Interkoneksi Sains dan Religi sebagai Landasan Membangun Sistem Integrasi Horizontal Industri Pangan Bangsa”. Dalam sesi ini pun selanjutnya dibuka diskusi, tanya-jawab dan diakhiri dengan foto bersama para Narasumber.
Pada Sesi terakhir, Sesi III, yang dimoderatori oleh Prof Dr drh Agik Suprayogi M.Sc. Agr., akan menampilkan 4 orang pembicara narasumber yaitu: 1) Ir. Maxdeyul Sola, MM bertajuk “Konsolidasi Petani untuk Memproduksi Bahan Pangan dan Pakan (ternak dan ikan)”; 2) Prof. Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M. Sc. menyampaikan paparan bertema “Solidaritas Petani Gurem untuk Kedaulatan Pangan”; 3) Alvino Antonio “Pengembangan SINTHAL-IPB dalam Mewujudkan Pemenuhan CPP dan Makan Bergizi Gratis “; dan Ir. Suaedi Sunanto, S. Pt., MBA., IPU menyampaikan materi berjudul “SINTHAL IPB: Transformasi Penyediaan Pangan”, yang ditutup dengan diskusi, tanya-jawab dan foto bersama narasumber.
Prof. Dr. Ernan Rustiadi, di pengujung acara seminar nasional inin akan menyampaikan Kesimpulan dan Kata Penutup mengakhiri Seminar yang diselenggarakan seharian penuh ini.
Pembaca Budiman,
Ikuti terus diskusi, seminar, dan event2 lain terkait dengan perbincangan ilmiah yang diselenggarakan oleh AIPI maupun bersama dengan pemangku kepentingan lainnya. Kami berharap apa yang dilakukan AIPI ini menjadi sumbangsih pencerahan kepada publik secara lebih luas.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Pembuat Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa,
humas@aipi.or.id
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI