Indonesia, Rumah Seniman Tertua di Dunia?

30 November 2014 | 3444 hits
ilustrasi-maros-375x200jpg_BAZYV.jpg

Maros (BERITA AIPI) - Indonesia bisa jadi merupakan tuan rumah salah satu seniman prasejarah tertua di dunia. Manusia purba yang dulu menempati gua-gua di kawasan yang kini bernama Maros, Sulawesi Selatan, mungkin sudah mengenal seni di era yang sama dengan saudaranya di Eropa. Dugaan terbaru itu tersingkap dari hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan dari Australia dan Indonesia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Nature itu menyebutkan lukisan dinding itu diperkirakan berusia 17.400 hingga 39.900 tahun. "Ini merupakan lukisan stensil tangan tertua di dunia," ujar Dr. Maxime Aubert dari Universitas Griffith, Australia, yang ikut meneliti usia lukisan itu, seperti dikutip BBC News.

Usia lukisan diteliti menggunakan metode uranium dating terhadap kerak air yang membatu di atas lukisan gua. Hasilnya, lukisan tertua berupa cap tangan di Gua Leang Timuseng diduga berusia lebih dari 39.000 tahun. Sementara itu lukisan babi rusa kemungkinan berumur sekitar 35.000 tahun.

Temuan terbaru itu bisa saja mengubah kiblat studi tentang dimulainya seni prasejarah yang kini masih terpusat di Eropa. Sebelumnya, lukisan gua paling uzur diyakini terdapat di El Castillo, Kota Puente Viesgo, Cantabria, Spanyol.

Pandangan lama meyakini sains dan seni pertama kali dikenal oleh manusia purba di Eropa. "Tapi temuan lukisan serupadi Indonesia bisa mengubah pandangan ini," ujar Profesor Chris Stringer dari Museum Natural History di London.

"Lukisan ini menunjukkan pelukisnya punya kemampuan berpikir abstrak," ujar Tomas Sutikna, anggota peneliti di Maros. Munculnya kemampuan berpikir dan seni diyakini sebagai awal mula munculnya peradaban dan teknologi sederhana.

Lukisan-lukisan gua di Maros itu sebenarnya sudah ditemukan sejak 50 tahun lalu. Namun sebelumnya, karya seni itu diyakini hanya berumur sekitar 10.000 tahun. Soalnya seni seperti itu umumnya tak bertahan lama dalam iklim tropis.

Sayangnya, situs arkeologi penting itu kini terancam dengan aktivitas industri marmer oleh warga setempat. Belum lagi ulah tangan-tangan jahil yang ikut mencoret-coret dinding gua.

Pembuat Artikel: Smithsonian - BBC - DW - Anggrita Desyani
Editor : Uswatul Chabibah

Hak Cipta © 2014 - 2024 AIPI. Dilindungi Undang-Undang