Membangun Bangsa Sehat Dan Cerdas

08 November 2023 | 26062 hits
BERITA_BEDAH_BUKU.jpg

Berita AIPI,. PADA Oktober 2023 lalu, saya menjadi narasumber pembedah buku pada acara yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), bersama dengan Prof. Dr. Ko­maruddin Hidayat.

Buku yang kami bahas ber­judul “Membangun Bangsa Cerdas”, berisi kumpulan 37 artikel yang ditulis oleh anggota AIPI dari lima Komisi.

Kelimanya, yakni Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Ilmu Kedokteran, Komisi Ilmu Rekayasa, Komisi Ilmu Sosial dan Komisi Kebudayaan.

AIPI adalah suatu lembaga mandiri yang menghimpun para ilmuwan terkemuka Indonesia.

Walaupun pendiriannya baru diundang-undangkan pada tahun 1990, pentingnya keberadaan suatu “Akademi Ilmu Pengeta­huan” nasional sudah dirasakan sejak awal kemerdekaan Indo­nesia.

Akademi Ilmu Pengetahuan merupakan perangkat peradaban bangsa.

Dari tahun 1928, misalnya, telah ada “Natuurwetenschap­pelijke Raad voor Nederlandsch-Indie (Science Council of Netherlands-Indies)” yang berfungsi sebagai akademi ilmu pengetahuan Hindia-Belanda.

Anggotanya juga anggota akademi ilmu pengetahuan Be­landa (Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen; KNAW) yang didirikan tahun 1808.

Pada tahun 1956 Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) didirikan sebagai cikal bakal AIPI, dengan tugas membimbing perkembangan ilmu pen­getahuan di Indonesia, dan memberi pertimbangan kepada pemerintah dalam hal kebijakan ilmu pengetahuan.

Saya mengawali pembahasan dengan memberi apresiasi bahwa AIPI kembali menerbit­kan buku, yang bahkan sampai 658 halaman.

Komponen penting untuk ke­cerdasan tentu adalah kesehatan. Ada tiga aspek yang bisa diba­has tentang situasi kesehatan di negara kita.

Pertama, pernyataan Menteri PPN/Kepala Bappenas pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI Juni 2023 yang menyebutkan bahwa 10 indikator RPJMN dalam bidang kesehatan terancam tidak akan tercapai di tahun 2024.

Salah satu di antaranya adalah tuberkulosis, penyakit yang dibahas dalam tulisan Bachti Alisjahbana “Dikotomi Publik vs Swasta dalam Upaya Pengen­dalian Tuberkulosis” di buku ini.

Beberapa indikator lain yang terancam tidak akan tercapai antara lain adalah angka stunting, eliminasi malaria dan kusta, cakupan imunisasi, terwujudnya Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan penyediaan tenaga kesehatan sesuai standar di Puskesmas.

Artinya, kita masih meng­hadapi masalah-masalah amat mendasar dalam kesehatan bangsa kita, yang perlu ditangani dengan baik.

Kedua, saya beberapa kali di­minta ikut partisipasi dalam rapat Bappenas dalam penyusunan indikator dan kegiatan menuju situasi Indonesia Emas 2045.

Tulisan Budi Wiweko berjudul “Indonesia Genome Institute (INA GENIUS): Menjawab Peluang dan Tantangan Indone­sia 2045 di buku AIPI ini juga membahas aspek kesehatan menjelang Indonesia Emas 2045 ini, kendati yang dibahas dari aspek genomik.

Ada juga beberapa tulisan tentang genomik di buku ini, yaitu “Kedokteran Presisi dan Kanker” oleh Sofia Mubarika Haryana dan “Tantangan pada Era Genomik: Profesi dan Pelayanan Genetika di Indone­sia” oleh Sultana MH Faradz.

Semuanya menunjukkan peran penting genomik dan bio­medik dalam ilmu dan pelayanan kesehatan di negara kita, dan juga di dunia.

Apa yang perlu disiapkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 tentunya juga meru­pakan salah satu topik yang tentu amat menarik bila dapat disajikan pula oleh AIPI.

Ketiga, kita tahu bahwa untuk menyelesaikan masalah kesehatan bangsa maka kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif perlu semua berjalan dengan baik.

Tidak bisa hanya dengan mengatasi mereka yang sudah jatuh sakit saja.

Sudah sejak lama sekali, dan sampai sekarang, selalu disebut bahwa promotif preventif amat penting, tetapi selalu juga per­hatian dan sumber daya lebih banyak diarahkan ke kegiatan kuratif, seperti pembangunan rumah sakit serta penanganan mereka yang sudah jatuh sakit.

Pola hidup sehat oleh semua anggota masyarakat merupakan salah satu sendi utama terwujud­nya kesehatan bangsa, yang pada gilirannya akan berkontribusi amat penting dalam mewujud­kan bangsa yang cerdas.

Akan penting pula dalam setiap aspek pembangunan bangsa maka pertimbangan kesehatan perlu jadi perhatian penting, bahkan sebaiknya ke arah pembangunan berwawasan kesehatan.

Aspek ini memang tidak se­cara spesifik dibahas di buku ini, dan akan baik kalau dikaji secara mendalam pula.

Dalam kaitan tentang kesehatan dunia maka tentu berbagai aspek pandemi Covid-19 kini dan masa datang merupakan salah satu topik utama pembangunan kesehatan dunia.

Buku “Membangun Bangsa Cerdas” ini memuat tulisan yang berkait dengan Covid-19, walau memang bukan kesehatan, antara lain adalah “Cerdas Mengindustrikan Aneka Ragam Pangan Lokal: Pembelajaran Serius dari Pandemi Covid-19 dan Perang Rusia-Ukraina” oleh M. Aman Wirakartakusumah & Purwiyatno Hariyadi dari kelom­pok Ilmu Rekayasa.

Serta, “Tsunami Pestisida, Risiko Perubahan Iklim, dan Pandemi Covid-19: Mengapa Memanusiakan Manusia Masih Jauh Panggang dari Api?” oleh Yunita T. Winarto dari kelompok Ilmu Kebudayaan dan dalam beberapa tulisan lainnya.

Ini sedikit banyak menunjuk­kan bahwa pandemi Covid-19 berdampak amat luas pada ber­bagai segi kehidupan manusia.

Setidaknya ada tiga hal penting yang kita pelajari dari pan­demi covid-19. Pertama, pan­demi sebelum Covid-19 adalah karena penyakit Influenza H1N1 pada tahun 2009.

Sesudah pandemi H1N1 2009 dinyatakan berhenti oleh WHO pada 2010 maka dunia sebenarnya sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masalah kesehatan mendatang.

Namun, ketika datang pan­demi Covid-19 di tahun 2020 maka praktis seluruh negara di dunia terdampak hebat, artinya persiapan itu tidak berhasil.

Kedua, dengan Covid-19 yang sudah mereda, kita perlu sadar bahwa pasti akan ada pandemi berikutnya.

Hanya saja, kita belum tahu kapan akan terjadi dan penyakit apa yang menyebabkannya.

Untuk itu maka kita semua perlu sejak sekarang memper­baiki pola kehidupan kesehatan dunia, yang pada Presidensi Indonesia di G20 disebut Presiden Jokowi sebagai tata ulang arsitektur kesehatan global.

Dalam konteks ini, mem­bangun bangsa cerdas tentunya punya aspek luas. Bukan hanya untuk bangsa kita, tetapi juga peran bangsa kita untuk kesehatan dan kesejahteraan dunia.

Ketiga, kita memerlukan ke­tahanan kesehatan yang baik untuk menjalani kehidupan kini, tantangan di waktu mendatang dan juga kemungkinan pandemi berikutnya.

Dalam kaitan ketahanan kita secara umum, Djoko T. Iskandar menyajikan tulisan “Membina Ketahanan Bangsa Menghadapi Era Globalisasi” di buku ini.

Tulisan David Handoyo yang berjudul “Sinergi Penelitian Dasar dan Terapan untuk Mem­bangun Ketahanan Individual dan Komunitas: Penelitian Ke­sehatan sebagai Model” juga membahas tentang ketahanan kesehatan, dalam kaitannya dengan model penelitian.

Saya menutup pembahasan buku “Membangun Bangsa Cerdas” ini dengan konsep “Satu Kesehatan”, atau “One Health”, yang menyelaraskan kesehatan manusia, kesehatan hewan, tana­man dan kesehatan lingkungan.

Ada beberapa tulisan di buku ini yang berkaitan dengan hal ini, yang di kelompok ilmu Pengetahuan Dasar, antara lain “Pengaderan Perekayasa, Inovator, dan Inventor Pengembang Keanekaragaman Hayati” oleh Mien A. Rifai.

Juga, “Keanekaragaman Hayati Alternatif bagi Indonesia Keluar dari Krisis Multidimensi” oleh Endang Sukara.

Serta, “Pariwisata Alam Hidu­pan Liar: Menyinergikan Pelestarikan Spesies dan Pember­dayaan Ekonomi” oleh Jatna Supriatna.

Dari aspek lain, kendati kita belum tahu apa penya­kit yang akan menjadi biang keladi pandemi berikut tetapi penyakit zoonosis dari hewan ke manusia diperkirakan salah satu kemungkinannya, atau seti­daknya penyebab wabah lokal mendatang.

Ini menjadi salah satu alasan pula perlunya penyelarasan aspek kesehatan manusia, he­wan, tanaman dan lingkungan.

Ketika Indonesia memegang Presidensi G20 di tahun 2022, kita menghasilkan “The Lombok G20 One Health Policy Brief”.

Sementara dalam Keketuaan ASEAN 2023, kita menginisiasi dan mengkoordinasikan dilahir­kannya “ASEAN Leaders Decla­ration on One Health Initiative”.

Kepeloporan kita di tingkat global dan regional ini tentu perlu nyata diwujudkan juga di dalam negeri, demi bangsa

 


Tulisan ini pertama kali diterbitkan Harian Rakyat Merdeka, halaman 3, Rabu 8 November 2023.

Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes

 

Hak Cipta © 2014 - 2024 AIPI. Dilindungi Undang-Undang