Seminar Nasional Hibrida “Membaca Konstelasi Geopolitik dan Geoekonomi Global: Posisi Strategis dan Implikasi terhadap ASEAN dan Indonesia”

Latar Belakang
Dinamika geopolitik global yang berkembang saat ini mencerminkan pergeseran tatanan dunia multipolar, yang mana kondisi ini menciptakan ketidakpastian dan risiko terhadap stabilitas dunia. Ketegangan meningkat di berbagai kawasan, seperti perang Ukraina-Rusia, konflik di Timur Tengah, seperti Palestina-Israel dan Iran-Israel, eskalasi di Laut China Selatan (LCS), Selat Taiwan, serta rivalitas antara negara adidaya Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Persaingan kekuatan besar tidak hanya ditandai oleh kemampuan militer, tetapi juga oleh konstelasi geoekonomi melalui penggunaan instrumen ekonomi seperti tarif, sanksi ekonomi, dan kontrol investasi guna mencapai kepentingan nasional. Persaingan yang semakin intensif antara AS dan Tiongkok juga semakin diperburuk oleh kebijakan tarif yang diberlakukan secara sepihak oleh AS pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
Di saat yang sama, meletusnya krisis di Timur Tengah yang masih berlangsung mengganggu stabilitas ekonomi dunia, seperti perdagangan, arus investasi, dan rantai pasokan global. Krisis tersebut juga menciptakan efek domino pada sektor energi yang menyebabkan peningkatan volatilitas harga minyak global, biaya pengiriman, dan operasional transportasi udara. Situasi tersebut menjadi tantangan bagi middle power—termasuk ASEAN dan Indonesia—untuk menavigasi tata kelola dunia yang terfragmentasi.
Dalam konteks regional, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang diselenggarakan pada tanggal 7–9 Mei 2026 di Cebu, Filipina, para pemimpin negara ASEAN telah membahas berbagai implikasi eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap negara-negara ASEAN, terutama dalam aspek perdagangan, ketahanan pangan dan energi, serta keselamatan dan mobilitas masyarakat ASEAN. Hasil pembahasan tersebut kemudian dituangkan dalam ASEAN Leaders’ Statement on the Response to the Middle East Crisis. Para pemimpin ASEAN menegaskan pentingnya komitmen kolektif guna mewujudkan kawasan ASEAN yang lebih tangguh, responsif, dan berorientasi ke depan dalam menghadapi ketidakpastian global. Beberapa inisiatif telah dicetuskan sebagai upaya konkret untuk mengejawantahkan komitmen tersebut, di antaranya melalui penjajakan seluruh mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR), percepatan ratifikasi ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) yang diperbarui pada Oktober 2025, bersamaan dengan penguatan implementasi ASEAN Power Grid (APG) dan Trans-ASEAN Gas Pipeline (TAGP), serta pembentukan regional fuel stockpile. Terlepas dari berbagai upaya tersebut, respons ASEAN lebih berfokus pada mitigasi ekonomi daripada memainkan peran sentral dan aktif dalam menengahi konflik. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai relevansi sentralitas ASEAN dalam mengelola tatanan perdamaian kawasan. Terlebih lagi, di tengah pembahasan penyelesaian Code of Conduct (CoC) di LCS yang ditargetkan rampung tahun ini, ASEAN juga dihadapkan pada potensi limpahan konflik akibat blokade Selat Hormuz dan ketegangan di Selat Taiwan, yang dapat meningkatkan kerentanan LCS sebagai arteri perdagangan dan distribusi energi dunia.
Indonesia juga tidak luput dari dampak ketidakstabilan geopolitik dan geoekonomi global. Dari sisi geoekonomi, krisis di Timur Tengah ini berpengaruh signifikan terhadap Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya, dengan proporsi mencapai sekitar 54%. Gejolak di Timur Tengah juga turut berkontribusi terhadap pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS dan dapat memperburuk tekanan inflasi domestik di Indonesia. Mengingat ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor di berbagai sektor industri masih mencapai 70%, krisis dan dampak yang muncul akan berpotensi menimbulkan trickle-down effect negatif terhadap berbagai sektor ekonomi nasional. Di sisi lain, perkembangan geopolitik global juga menuntut Indonesia untuk dapat bertindak secara responsif, strategis, dan terukur dalam menavigasi ketidakpastian dan ketidakstabilan yang semakin meningkat—tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar tata kelola pemerintahan demokratis, terutama partisipasi publik, akuntabilitas, dan supremasi hukum. Dinamika geopolitik kontemporer turut dipicu oleh menguatnya praktik-praktik otoritarianisme di sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini kemudian menyebabkan tatanan global yang semakin terpolarisasi dan terfragmentasi serta turut menggerus nilai-nilai demokrasi yang juga berpotensi memberikan efek domino terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia perlu bijak dalam merespons perubahan lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia. Kebijakan luar negeri “bebas aktif” Indonesia perlu dijalankan dengan orientasi strategis dengan tujuan yang jelas berdasarkan kepentingan nasional, alih-alih hanya sebagai justifikasi atas kebijakan yang reaktif dalam merespons perkembangan global.
Berdasarkan latar belakang di atas, Komisi Ilmu Sosial-Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan The Habibie Center bersama Badan Keahlian DPR RI, berkolaborasi untuk menyelenggarakan seminar nasional bertema “Membaca Konstelasi Geopolitik dan Geoekonomi Global: Posisi Strategis dan Implikasi terhadap ASEAN dan Indonesia”. Seminar ini akan menghadirkan praktisi, akademisi, dan wakil dari anggota DPR RI yang berpartisipasi aktif untuk memberikan masukan dan mempertemukan berbagai perspektif mengenai dinamika geopolitik dan geoekonomi global dan dampaknya terhadap ASEAN dan Indonesia. Seminar ini akan turut menghadirkan Bapak Muhammad Takdir, S.H., L.LM., selaku Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yang akan menyampaikan pidato kunci. Selain itu, Prof. Dr. Daniel Murdiyarso, selaku Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta Prof. Dr. Bayu Dwi Anggono, Kepala Badan Keahlian DPR RI akan turut hadir untuk menyampaikan kata sambutan. Seminar ini akan ditutup oleh kata penutup Dr. Mohammad Hasan Ansori, selaku Direktur Eksekutif The Habibie Center.
Tujuan
Adapun tujuan dari seminar ini antara lain:
1. Memahami perkembangan dinamika geopolitik dan geoekonomi global serta pengaruhnya terhadap tatanan dunia.
2. Menganalisis implikasi konstelasi geopolitik dan geoekonomi terhadap ASEAN dan Indonesia dari sisi politik-keamanan, ekonomi, dan sosial
3. Menelaah posisi dan strategi ASEAN dan Indonesia dalam menavigasi dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia.
Agenda
| Sesi | Waktu | Deskripsi | ||
|---|---|---|---|---|
| Registrasi | 09:00 – 09:30 |
Registrasi |
||
| Pembukaan | 09:30 – 09:35 |
Pewara (Master of Ceremony / MC) |
||
| Lagu Kebangsaan Indonesia Raya | 09:35 – 09:40 |
Lagu Kebangsaan Indonesia Raya |
||
| Kata Sambutan | 09:40 – 09:50 |
Prof. Dr. Bayu Dwi Anggono, S.H., M.H. (Kepala Badan Keahlian DPR-RI) |
||
| Kata Sambutan | 09:50 – 10:00 |
Prof. Dr. Daniel Murdiyarso (Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) |
||
| Pembicara Kunci | 10:00 – 10:10 |
Muhammad Takdir, S.H., L.LM. (Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia) |
||
| Perkenalan Pembicara oleh Moderator | 10:10 – 10:15 |
Prof. Syarif Hidayat, Ph.D. (Ketua Komisi Ilmu Sosial AIPI dan Dosen Ekonomi Politik dan Desentralisasi, Universitas Nasional) |
||
| Presentasi Pembicara 1 | 10:15 – 10:30 |
Prof. Dra. Evi Fitriani, M.A., M.I.A, Ph.D. (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia)
|
||
| Presentasi Pembicara 2 | 10:30 – 10:45 |
Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar (Anggota KIS-AIPI dan Ketua Dewan Pengurus, The Habibie Center)
|
||
| Presentasi Pembicara 3 | 10:45 – 11:00 |
Andi Widjajanto (Penasihat Senior, LAB 45, dan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (2022-2023))
|
||
| Presentasi Pembicara 4 | 11:00 – 11:15 |
Dr. Dave Akbarshah Fikarno Laksono (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
|
||
| Sesi tanya jawab | 11:15 – 11:45 |
|
||
| Kata Penutup | 11:45 – 11:55 |
Dr. Mohammad Hasan Ansori (Direktur Eksekutif The Habibie Center) |
||
| Penutupan | 11:55 – 12:00 |
|
Kerangka Acuan / Term of References
Penyelenggara










