Siaran Pers
Menata Ulang Cara Kita Memahami Bencana di Bumi Nusantara
Jakarta, 25 April 2026.
Di tengah meningkatnya kejadian bencana ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, cara kita memahami “bencana” menjadi semakin krusial. Apakah banjir bandang, tanah longsor akibat hilangnya hutan, dan krisis ekologis yang terjadi akhir-akhir ini murni akibat fenomena alam? Ataukah itu merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia yang melampaui batas daya dukung lingkungan?
Peristiwa bencana besar di Sumatera pada akhir 2025 menjadi pengingat keras bahwa Indonesia berada dalam situasi rentan. Curah hujan ekstrem dan fenomena iklim memang menjadi pemicu, tetapi dampak yang meluas dan destruktif tidak dapat dilepaskan dari praktik manusia—seperti deforestasi, eksploitasi sumber daya alam, dan tata kelola lingkungan yang abai terhadap prinsip keberlanjutan.
Dalam perspektif keilmuan mutakhir, fenomena ini dikenal sebagai “antroposen”—sebuah era di mana aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang membentuk kondisi bumi. Dalam konteks ini, batas antara “bencana alam” dan “bencana akibat ulah manusia” semakin kabur.
Sayangnya, dalam wacana publik dan bahkan kebijakan, istilah “bencana alam” masih lebih dominan digunakan. Penyederhanaan ini berisiko menutupi akar persoalan yang sesungguhnya, sehingga solusi yang diambil sering kali tidak menyentuh penyebab utama.
Untuk menjawab pertanyaan strategis itu, Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Universitas Budi Luhur akan menggelar Seminar Nasional Hibrida bertajuk: “Mengkritisi Realita dan Wacana: Bencana Alam dan/atau Bencana Antroposen?”
Seminar ini akan diselenggarakan pada hari Rabu, 29 April 2026, pukul 13.00-16.30 WIB, bertempat Ruang Teater, Lantai 4, Gedung Unit 6, Universitas Budi Luhur, Jl. Ciledug Raya, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12260. Seminar Nasional ini dihelat secara hibrida (luring dan daring) dapat pula diikuti secara daring melalui aplikasi Zoom dengan tautan https://s.id/MengkritisiBABA, dengan Meeting ID: 989 6472 5918 dan Passcode: 087267. Acara ini dapat pula diikuti melalui Aplikasi YouTubedengan tautan di https://bit.ly/webnas2026.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian kajian strategis AIPI tahun 2026 dengan mengusung tema besar “Quo Vadis Bencana Antroposen: Cegah Kehancuran Bumi Nusantara”. Seminar tidak sekadar menghadirkan paparan ilmiah, tetapi juga mengusung pendekatan kritis antardisiplin—menggabungkan analisis wacana, kajian empiris kebencanaan, hingga refleksi filosofis dan ideologis berbasis nilai-nilai Pancasila. Dengan melibatkan para akademisi terkemuka, peneliti, praktisi kebencanaan, hingga pemangku kebijakan, forum ini diharapkan mampu meluruskan kerancuan pemahaman publik yang selama ini cenderung menyederhanakan bencana sebagai fenomena alam semata.
Seminar ini hadir untuk: 1) meluruskan pemahaman publik tentang jenis dan penyebab bencana; 2) mendorong kebijakan yang lebih tepat dan berbasis ilmu pengetahuan; dan 3) menguatkan kesadaran kolektif bahwa bencana bukan sekadar takdir, tetapi juga hasil pilihan manusia.
Kegiatan Seminar Nasional ini dirancang dengan penyajian kasus bencana, ulasan para narasumber, tanggapan dan sintesis oleh para penanggap, serta dialog dengan peserta luring maupun daring dengan narasumber. Agenda Seminar terbagi dalam 4 sesi. Sesi Pertama – membahas kerangka konseptual tema Seminar tentang kebencanaan dengan menghadirkan narasumber 1) Prof. Dr. Yasraf A. Piliang – anggota Komisi Kebudayaan AIPI – yang akan mempresentasikan “Analisis Wacana Kritis dengan mengambil kasus bencana Sumatera 2025 dan sejumlah bencana lain di luar wilayah Sumatera”; 2) Prof. Dr.Prudensius Maring, M.A. – Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Budi Luhur – yang akan mempresentasikan bencana di NTT dengan judul “Siklon Tropis Seroja di NTT: Membaca Bencana Alam dalam Landskap Antroposen”; 3) Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A. – dosenUniversitas Al Muslim, Bireuen, Aceh – memaparkan kasus bencana di Aceh dan perkembangannya berjudul “[ACEH NGOP] Bencana Aceh: Jejak Antroposen di Aceh”; 4) Dr. Rawa El Amady, M.A. – dosen Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau – akan melaporkan kasus bencana di daerah Riau berjudul “Bencana sebagai Kontruksi Kekuasaan: Perspektif Ekologi Politik atas Krisis Antroposen di Riau dan Kepulauan Riau”; 5) Dr. Wika A. Rumbiak, S.T., M.Sc. – Head of Forest and Wildlife for Papua Program,WWF Indonesia – menyampaikan tema “Klarifikasi Wacana Bencana & Antroposen – Studi Empiris 3 Kampung Pesisir Tambrauw”.
Pada Sesi Kedua Seminar akan diarahkan untuk pembahasan paparan kasus-kasus empiris bencana di ketiga kawasan di atas untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam dan komprehensif, tidak terbatas pada faktor-faktor penyebab dan pemicu terjadinya peristiwa bencana itu, tetapi juga pemilahan yang lebih tajam antara “bencana alam, bencana antroposen, atau kombinasi di antara keduanya”. Narasumber yang dihadirkan adalah; 1) Miming Saepudin, M.Si. yang banyak menanganiBidang Meteorologi Publik, BMKG membahas tentang fenomena alam terkait dengan konsekuensi perubahan iklim yang terjadi di wilayah katulistiwa, di Indonesia dalam dekade terakhir, khususnya menjelang akhir 2025, serta potensi bencana serupa di masa datang; 2) Prof. Ir. Masyhur Irsyam, M.S.E., Ph.D.-anggota Komisi Ilmu Rekayasa, AIPI: akan menjelaskan dan mengidentifikasi kriteria bencana alam dan mengulas fenomena alam yang menjadi pengondisi dan pemicu bencana di keempat kawasan yang dibahas pada Sesi Kesatu; 3) Prof. Jatna Supriatna, Ph.D.- Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, AIPI – akan memaparkan keterlindanan kedua fenomena: bencana alam dan bencana antroposen, serta implikasinya pada relung hidup manusia, fauna, dan flora; 4) Prof. M. Amin Abdullah, Ph.D.- Ketua Komisi Kebudayaan, AIPI – memaparkan tema berjudul “Bencana Antroposen di Nusantara”, faktor penyebab utama kerentanan kondisi alam dalam peristiwa ekstrem sebagai konsekuensi perubahan iklim, serta implikasinya pada kelangsungan hidup manusia dalam relung hidupnya.
Selanjutnya pada Sesi Ketiga, adalah sesi dialog interaktif, dengan dipandu oleh moderator Prof. Yunita T. Winarto, Ph.D. – anggota Komisi Kebudayaan AIPI – peserta Seminar daring maupun luring didorong berpartisipasi aktif dan mendapatkan kesempatan luas untuk ikut menanggapi, mendiskusikan, dan menanyakan bahasan bencana yang telah dipaparkan oleh narasumber di Sesi Pertama atau pun Sesi Kedua. Pada Sesi Keempat, mengalokasikan ruang dan waktu bagi “tanggapan dan rangkuman” dengan tujuan agar terdapat sintesis dari paparan konseptual, realita empiris, kajian analitis, dan pokok bahasan yang diajukan oleh publik. Narasumber yang mengampu Sesi Terakhir ini adalah Prof. Izak Y.M. Lattu, Ph.D. – anggota Komisi Kebudayaan, AIPI ; dan Dr. Didik H. Raharjo, S.Pd., M.Pd, Ketua Prodi Manajemen Kebencanaan, Universitas Budi Luhur. Seluruh rangkaian acara Seminar Nasional ini akan dibuka oleh Rektor Universitas Budi Luhur, Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M. Sc., dan Penyampaian Sambutan Tematik Seminar oleh Wakil Ketua AIPI, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D.
Dari serangkaian diskusi yang berkembang dalam Seminar – yang terbuka untuk umum, kalangan perguruan tinggi, peneliti, akademisi, para mahasiswa, pengambil kebijakan sector kebencanaan, dan pemangku kepentingan lainnya – akan terhimpun pandangan-pandangan yang dapat dijadikan bahan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam bentuk risalah kebijakan (policy brief), misalnya, naskah akademik untuk buku ilmiah atau pun dapat menjadi kontribusi bermakna bagi “Pandangan AIPI” untuk Pemerintah.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Penulis Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI.