Siaran Pers AIPI
Jakarta, 14 Oktober 2023.
Sudah menjadi tradisi, setiap peringatan HUT Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), yang jatuh pada 13 Oktober, selalu menyelenggarakan 3 rangkaian kegiatan utama: Sidang Paripurna, Widjojo Nitisastro Memorial Lecture (WMNL), dan Kajian Tematik atau Bedah Buku. Kali ini, rangkaian acara HUT ke 33 itu akan digelar pada 16-17 Oktober 2023 di Kawasan Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdaka Selatan No. 11, Jakarta. Tema yang diusung adalah “Sains di Medan Merdeka”, yang diselenggarakan secara hybrida, daring maupun luring.
Rangkaian kegiatan pertama, Sidang Paripurna AIPI, yang hanya dapat diikuti terbatas bagi anggota dan mitra AIPI, digelar di Ruang Pertemuan AIPI, Lantai 17 Gedung Perpusnas, pada 16 Oktober 2023, mulai pukul 14.00WIB. Acara diselenggarakan secara hibrida, akan mendengarkan laporan pimpinan AIPI, mengevaluasi program kerja yang telah dijalankan, dan menetapkan program kerja mendatang, serta membahas isu-isu penting dan strategis bagi pemajuan dan peningkatan peran AIPI dalam mengemban misi mendorong budaya ilmiah unggul di Indonesia.
Kegiatan kedua adalah meneruskan tradisi ilmiah yang dibangun sejak 2019. AIPI dengan bangga mempersembahkan Widjojo Nitisastro Memorial Lecture (WMNL) 2023 sebagai puncak acara HUT AIPI, dengan menyelenggarakan orasi ilmiah dari tokoh ilmuwan yang akan menyampaikan kuliah dengan mengambil tema khusus dari berbagai masalah krusial yang dihadapi bangsa dan harus diatasi, serta mengajukan usulan penyelesaikan komprehansif. Acara digelari di Auditorium Perpustakaan Nasional Selasa, 17 Oktober 2023 pukul 10.00-12.00 WIB dengan mengundang pejabat lembaga internasional, kalangan kedutaan besar, dan tokoh-tokoh nasional dari kalangan Kementerian/Lembaga pemerintah, lembaga legislatif, cendekiawan, ilmuwan dan lainnya, mengikuti acara secara luring. Acara WNML juga dapat diikuti kalangan umum lainnya melalui aplikasi Zoom atau siaran live melalui kanal Youtube.
Kegiatan ketiga adalah bedah buku AIPI berjudul “Membangun Bangsa Cerdas” yang telah diluncurkan pada 20 Juni 2023 di Auditorium Perpusnas saat perhelatan Seminar Internasional “Science Literacy in the Digital Age” atas kerjasama AIPI, Inter-Academy Partnership (IAP), dan the Association of Academies & Societies of Sciences in Asia (AASSA).
Buku setebal 671 halaman ini menghimpun 37 judul buah karya pemikiran karya 38 anggota AIPI yang berbasiskan penguasaan bidang keilmuan yang mendalam dari anggota AIPI. Diharapkan buah karya ini dapat dijadikan mata air jernih gagasan untuk membangun bangsa cerdas. Acara ini terbuka untuk umum, diselenggaran secara hibrida, pada Selasa, 17 Oktober 2023 pukul 13.30-15.00 WIB, dari Ruang Pertemuan AIPI, Lantai 17 gedung Perpusnas.
Bedah buku dengan narasumber Prof. Mayling Oey-Gardiner dan Prof. Ivandini Tribidasari Anggraningrum dari AIPI dan Pembahas adalah Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, dan Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI dan yang juga Guru Besar Pulmonologi & Kedokteran Respirasi, FK UI. Acara ini terbuka pula untuk umum yang dapat diikuti secara daring melalui aplikasi Zoom dengan tautan https://s.id/BedahBuku_AIPI2023; Meeting ID: 846 0515 0122 dengan Passcode: BEDAHBUKU, atau dapat disaksikan melalui kanal YouTube melalui tautan https://s.id/YT_BedahBuku_AIPI2023.
Pada perhelatan WNML 2023 ini, AIPI akan menampilkan orasi ilmiah terkait masalah gizi global dan di Indonesia, yang menurut Lembaga PBB, bukan hanya menyebabkan tengkes (stunting), tapi juga Anak Kurus/Wasting, dan Kegemukan/Overweight, disamping masalah mikro gizi khususnya pada anemia ibu hamil. Prof. Soekirman, Guru Besar Emeritus Ilmu Gizi IPB yang sangat berpengalaman tentang masalah ilmu gizi, dari tingkat lokal hingga global, dipilih untuk menyampaikan orasi ilmiah tersebut, Prof Soekirman memformulasikan judul kuliah ilmiahnya sebagai “Kelembagaan dan Kepemimpinan Gizi nasional dan Global dalam Pembangunan: dari Christiaan Eijkman, Poerwo Soedarmo sampai Widjojo Nitisastro”.
Dalam orasinya, Prof. Soekirman akan berkisah tentang sejarah perkembangan ilmu gizi modern, yang sejatinya berangkat dari temuan vitamin B1 oleh Lembaga Eijkman, yang kemudian dianugerahi hadial Nobel kepada Eijkman pada 1929; masalah gizi dunia termasuk Indonesia; keberhasilan kelembagaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor, dengan karya besarnya penelitian vitamin A di Aceh yang oleh WHO dijadikan dasar kebijakan dunia untuk menanggulangi masalah kekurangan vitamin A; dan pemikiran penanggulangan masalah gizi dengan pemanfaatan teori THIO (Technoware-Humanware-Infoware-Organoware). Karya besar riset vitamin A di Aceh itu menghantarkan Presiden Soeharto mendapat award “The Spirit of Helen Keller” dari WHO pada tahun 1994.
Perhelatan WNML ini diselenggarakan pada Selasa, 17 Oktober 2023 pukul 10.00-12.00 WIB di Auditorium Perpusnas secara luring untuk tamu undangan Kedutaan, Kementerian/Lembaga pemerintah, kalangan ilmuwan, peneliti, dan dosen, serta lainnya. Kalangan umum dapat pula mengikuti acara awcra daring melalui Aplikasi Zoom dengan tautan https://s.id/WNML2023, atau Meeting ID: 882 7431 5377 dan Passcode: WNML2023. Acara disiarkan pula secara live YouTube melalui tautan https://s.id/YT_WNML2023.
Rangkaian acara akan dibuka oleh Prof. Daniel Murdiyarso, Ketua AIPI, diikuti Sambutan oleh Prof. Dr. dr. Widjaja Laksmi Kusumaningsih, mewakili keluarga Prof. Widjojo Nitisastro, menyampaikan kisah-kisah yang dialami dan disaksikannya sebagai anak tentang kiprah perjuangan ayahnda membangun Indonesia. Prof. Widjojo dikenal sebagai Menteri Indonesia, arsitek utama perekonomian orde baru, yang pernah menjabat pula sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971- 1973 dan Menko Ekuin sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-1983. Prof. Widjojo sering dijuluki sebagai “Pemimpin para Menteri di bidang ekonomi dan keuangan” penentu kebijakan ekonomi Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto.
Pengantar Memorial Lecture akan disampaikan Prof. Sangkot Marzuki, Direktur Lembaga Eijkman 1992-2014 dan Ketua AIPI 2008-2018, yang juga sekaligus akan menutup Memorial Lecture dari Prof. Soekirno. Wakil Presiden RI 2009-2014 juga dujadwalkan memberikan Sambutan kesaksian masalah pembangunan gizi di era pemerintahannya. Keseluruhan rangkaian acara akan ditutup dengan Kata Akhir oleh Prof. Harkristuti Harkrisnowo, Wakil Ketua AIPI.
Tema orasi ilmiah Prof Soekirman disarikan dari karya ilmiah yang diterbitkan di World Nutrition Journal edisi Maret 2022, berjudul “Institutional building and leadership in nutrition in Indonesia”, membahas tentang program gizi Indonesia terutama dari aspek kelembagaan atau institusinya.
Dalam paparannya itu, Soekirman akan mengingatkan ulang bahwa ilmu pengetahuan – termasuk ilmu gizi dan pendukungnya – terus berkembang dari masa ke masa, bahkan dalam dua tiga dasa warsa terakhir diakui oleh PBB, gizi sebagai bagian pokok dari Pembangunan dunia, SDGs. Indonesia memiliki 3 tokoh besar gizi dan kelembagaannya dan satu tokoh global. Mereka itu adalah Christiaan Eijkman, Poerwo Soedarmo, Widjojo Nitisastro dari Indonesia, dan Alan Berg dari Bank Dunia. Selanjutnya Soekirman yang merupakan satu-satunya murid langsung dari Prof. Poerwo Soedarmo itu, ingin menerapkan karya besar para tokoh gizi tersebut dengan ingin mengaplikasikan teori manajemen THIO dari Nawaz Sharif dalam teknologi bisnis untuk menghadapi tantangan kemajuan teknologi di negara maju di Asia, seperti Jepang dan China. Soekirno menyarankan agar pendekatan pemecahan masalah gizi di masa yang akan datang dapat menggunakan pendekatan teori THIO itu. Karena itu perlu dikembangkan kurikulum Pendidikan gizi selain pemahaman nutrition for medicine tetapi juga nutrition for life and development.
Mengawali paparannya, Soekirno akan menyampaikan perkembangan masalah gizi global dan di Indonesia. Ringkasnya sejarah Gizi Modern memasuki abad ke-20 dimulai di Batavia, Indonesia tahun 1930 oleh Eijkman dengan Lembaga Eijkmannya. Selanjutnya akan diuraian ringkas sejarah kelembagaan dan program gizi di Indonesia dari 1960-1990an, diikuti dengan penyampaian suatu teori teknologi manajemen program yang diperkenalkan oleh pakar manajemen internasional, Nawaz Sharif dengan teori THIO untuk meningkatkan produktivitas kelembagaan gizi.
Sejarah gizi modern yang diakui sebagai disiplim ilmu pada abad 20, sesudah berbagai penemuan kimia oleh Lavoiser (1743–1794), faal pencernaan oleh Beumont (1785–1853), dasar-dasar penemuan protein, lemak, dan karbohidrat oleh Leibig (1803–1908), dan perintisan penemuan kalorimeter oleh Voit (1831–1908) dan Rubner (1854–1934), memberikan dasar disusunnya dalil-dalil ditegakkannya gizi sebagai ilmu pengetahuan. Di antara berbagai penemuan tersebut, yang penting adalah rintisan oleh Lavoiser dan Laplace tahun 1762 mengenai percobaan binatang dengan menggunakan kalorimeter. Lavoiser dikenal sebagai Bapak Ilmu Kimia dan Biologi, dan juga dikenal sebagai Bapak Ilmu Gizi Dunia.
Memasuki abad ke-19, tepatnya 1899 seorang peneliti dan dokter tentara Belanda di Batavia, Christiaan Eijkman dan Gerrit Grijns sebagai penerusnya menemukan “clue” penyebab penyakit beri-beri yang mewabah di berbagai negara termasuk Indonesia. Dengan penemuan itu, Eijkman d anugerahi hadiah Nobel tahun 1929. Penemuan itu hasil penelitian 35 tahun di Laboratorium Patologi dan Bakteriologi, yang selanjutnya menjadi Laboratorium Kedokteran yang didirikan oleh Eijkman. Pada tahun 1930 Eijkman meninggal. Untuk memperingati jasa Eijkman, Laboratorium Kedokteran di Indonesia diubah menjadi Eijkman Instituute tahun 1930. Gedung Lembaga tersebut masih berdiri tegak di Jl. Diponegoro Jakarta. Hadiah Nobel untuk Eijkman oleh Mozaffarian dianggap sebagai awal dalam sejarah Ilmu Gizi modern. Dengan demikian, sejatinya Lembaga Eijkman di Indonesia adalah lembaga gizi pertama dalam sejarah ilmu gizi modern di dunia.
Memperhatikan laporan WHO, UNICEF dan World Bank tentang tentang perkembangan masalah gizi global yang berjudul “Level and Trends in Child Malnutrition” terutama stunting, wasting, dan overweight pada tahun 2023, prevalensi stunting sebesar 22.3%, atau 148.1 juta anak balita di tahun 2022. Sedangkan data defisiensi mikronutrien tidak disebutkan dalam laporan ini, namun pada referensi lain, secara global, sekitar 40% ibu hamil mengalami anemia. Laporan Riskesdas 2018, prevalensi masalah gizi di Indonesia mulai dari stunting (30,8%), wasting (10,2%), overweight pada balita (8%), dan anemia pada ibu hamil sebesar (48,9%), dan data mengenai zat gizi mikro lain belum dimutakhirkan.
Aspek Manajemen Institusi Kegizian waktu ke waktu di Indonesia dijelaskan dengan pendekatan mengikuti teori yang dikembangkan Nawas Sharif untuk mengelola dan memajukan suatu program, diperlukan 4 komponen kelembagaan yang secara terpadu maju bersama melaksanakan misi program mencapai tujuan. Empat komponen tersebut adalah yang mampu menguasai “technological assets”. Menguasai 4 aset teknologi ini sangat penting untuk bersaing maju. Ke-4 kategori asset teknologi tersebut adalah Technoware, Humanware, Infoware dan Organoware.
Dalam sejarah kelembagaan ilmu gizi dan ilmu pendukungnya yaitu kimia, faal dan biologi adalah ilmu-ilmu yang bersifat lintas disiplin. Bahkan di Amerika, awal perkembangan ilmu gizi erat kaitannya dengan ilmu pertanian dan Kesehatan. Pada abad ke-20, ilmu gizi bukan hanya berarti food is medicine seperti pada tahun 1960-an. Sejak tahun 1970-an ilmu gizi telah berkembang menjadi ilmu gizi “modern” yaitu nutrition is life dan nutrition is human development. Marion Nestle menyebutkan Ilmu Gizi tidak hanya menyangkut ilmu biomedik dan kesehatan, tetapi juga bagian dari ilmu-ilmu ekonomi, teknologi, manajemen, sosial, pendidikan, komunikasi dan lain-lain, termasuk ilmu politik.
Konferensi Pangan Sedunia 1974 di Roma menyatakan dalam resolusi ke 5, bahwa semua Pemerintah dan komunitas internasional secara keseluruhan, sesuai dengan tekad mereka untuk menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi dalam waktu satu dekade, merumuskan dan mengintegrasikan rencana dan kebijakan pangan dan gizi yang terpadu yang bertujuan untuk memperbaiki pola konsumsi dalam perencanaan sosio-ekonomi dan pertanian mereka, dan untuk tujuan tersebut menilai karakter, tingkat dan derajat malnutrisi pada semua kelompok sosial-ekonomi serta prasyarat untuk meningkatkan status gizi mereka.
Lebih jauh Soekirman, ketua Dewan Pembina Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), membeberkan tokoh gizi dan kelembagaannya yangberpengaruh dalam sejarah. Tokoh pertama adalah Christiaan Eijkman. Ia meraih hadiah Nobel di bidang kedokteran 1929 atas penelitiannya tentang penyakit beri-beri yang disebabkan oleh kekurangan senyawa yang terdapat pada kulit beras, sebuah konsep yang menjadi awal penemuan vitamin. Penemuan vitamin pertama oleh Eijkman dan penerusnya dianggap merupakan awal ilmu gizi modern. Eijkman adalah tokoh besar pertama ilmu gizi di Indonesia sebagai scientist yang mendirikan lembaga penelitian makanan dan gizi sebagai bagian dari lembaga Eijkman yang kemudian menjadi Instituut voor Volksvoeding yang dipimpin oleh Van Veen yang kemudian berganti nama menjadi Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada 1950, dan pada 1960 menjadi Direktorat Gizi di Kementerian Kesehatan.
Tokoh kedua adalah Poerwo Soedarmo, Direktur pertama Lembaga Makanan Rakyat tahun 1950. Guru besar Ilmu Gizi pada 1960 membuka departemen ilmu gizi di Fakultas Kedokteran UI, dan selanjutnya di di UI juga didirikan lembaga pendidikan lanjut ilmu gizi SEAMEO. Satu jasa dan karya Poerwo Soedarmo adalah keberhasilannya dalam menyebarkan pengetahuan gizi kepada masyarakat secara sederhana antara lain dengan menciptakan slogan “4 Sehat 5 Sempurna” pada tahun 1952, yang masih dikenal oleh sebagian masyarakat sampai saat ini. Slogan ini telah diganti menjadi Pedoman Gizi Seimbang pada tahun 1995.
Tokoh ketida adalah Prof. Widjojo Nitisastro, yang diakui oleh dunia sebagai Arsitek Pembangunan Ekonomi Indonesia. Hanya saja tidak banyak yang tahu bahwa Widjojo adalah juga tokoh besar gizi, oleh karena beliau adalah Menteri/Ketua BAPPENAS pertama yang untuk pertama kalinya mencantumkan masalah pangan dan gizi di dalam kebijakan Pembangunan Nasional, REPELITA III (1979–1984). Sebagai arsitek utama pembangunan ekonomi Indonesia, Widjojo percaya bahwa program gizi harus menjadi bagian integral dari REPELITA. Keberhasilan “Trilogi Pembangunan,” yaitu Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Pemerataan, dan Stabilitas juga telah berdampak pada perbaikan gizi masyarakat pada saat itu. Widjojo menekankan bahwa “Gizi bukan tanggung jawab satu sektor, tetapi melibatkan berbagai sektor, dan berbagai bidang. Oleh karena itu memerlukan sinkronisasi dalam perencanaan, dan koordinasi yang tepat dalam pelaksanaannya” pesanya dalam Konferensi Pertama Program Nasional Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 1978.
Tokoh keempat adalah tokoh gizi global, Alan Berg, alhi gizi berkebangsaan Amerika serikat yang pada usia 40an menjadi Deputy Director White House Food for Peace” pada masa Presiden Kennedy dan Johnson. Alan Berg pernah menjadi Deputy Assistant Secreraty of State dan Co-chaired The First White House Task Forsce on Nutrion, yang Deputy Assistant Secretary of State dan Co-chaired yang tugas utamanya merencanakan bantuan pangan penduduk negara-negara miskin dan bantuan pendidikan lanjut tenaga gizi antara lain dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan dan beasiswa pendidikan S2 dan S3 bidang International Nutrition di Amerika Serikat. Tahun 1972- 1995, Alan direkrut oleh President Bank Dunia, Robert McNamara menjadi Deputy Director Population and Nutrition. Selama 23 tahun, Alan Berg bertugas di Bank Dunia, banyak negara berkembang termasuk Indonesia mendapat bantuan berbagai proyek gizi melalui sektor-sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, pembangunan desa, dan perlindungan sosial.
Alan Berg, pada 2023 mendapat kehormatan dari perkumpulan komunitas gizi internasional sebagai “the Lifetime Achievement of Alan Berg” pada ulang tahunnya ke 90 dan 50 tahun bukunya “Nutrition Factor Its Role in National Development” yang terbit pertama kali tahun 1973 dan tidak pernah direvisi. Sampai saat ini, buku tersebut menjadi “best seller” dan menjadi buku wajib di beberapa Universitas seperti MIT, Cornell, Tufts dan lain-lain untuk mata kuliah “Nutrition International Development”.
Pelajaran penting Alan Berg tentang gizi adalah: 1) gizi adalah masalah Kesehatan, tetapi penanggulangannya tidak akan efektif hanya dengan pendekatan medik atau system pelayanan Kesehatan saja; 2) masalah gizi hakekatnya kekurangan pangan, jawabannya tidak dengan sendirinya berupa peningkatan produksi atau penyediaan pangan, di negara berkembang masalahnya lebih banyak menyangkut penyediaan pangan pada tingkat rumah tangga, masalah gizi diperluas dari masalah kesehatan menjadi masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja; 3) masalah gizi merupakan sindrom kemiskinan, tetapi dalam kasus-kasus tertentu pemecahannya dimungkinkan tanpa harus menunggu dulu perbaikan ekonomi yang pada memakan waktu lama; 4) masalah gizi termasuk dalam domain ilmu biomedik tetapi untuk pemecahannya memerlukan analisis ekonomi dan manajemen, diperlukan perencanaan yang bersifat holistik sehingga menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan nasional.
Sebagai simpulan Soekirman menyampaikan bahwa Ilmu Gizi modern berawal dari Indonesia dengan tonggak 1929 pemberian hadiah Nobel kepada Eijkman atas temuan vitamin B1 pertama di dunia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor, dengan salah satu karya besarnya yaitu penelitian vitamin A di Aceh, hasilnya oleh WHO dijadikan dasar kebijakan dunia untuk menanggulangi masalah kekurangan vitamin A. Karya besar ini menghantarkan Presiden Soeharto mendapat award “The Spirit of Helen Keller” pada tahun 1994. Sayang kedua Lembaga yang sangat berprestasi tersebut sudah dihilangkan. Masalah gizi dunia tidak hanya stanting tetapi 3 besar masalah gizi yaitu Stunting (148,1 juta), Anak Kurus/Wasting (45 juta) dan Kegemukan/Overweight (37 juta), disamping itu, ada masalah gizi mikro khususnya anemia ibu hamil. Untuk menanggulangi masalah gizi, diperlukan adanya kelembagaan gizi yang mempunyai kemampuan mendayagunakan keempat aset THIO.
Mengapa pendekatan pidato ilmiah kali ini melalui telaah sejarah? Agaknya Carl Segan dan Martin Luther King Jr, memiliki jawaban yang tepat. Kata Carl Sagan: “You have to know the past to understand the present, “dan kata Martin Luther King Jr: “We are not makers of history. We are made by history… (of nutrition!)
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Informasi lebih lanjut siaran pers ini dapat pula ditanyakan ke e-mail AIPI melalui aipi.indonesia1990@gmail.com
Penulis Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan AIPI.