Siaran Pers AIPI
Jakarta, 7 November 2023.
Kelemahan mendasar peternakan rakyat di Indonesia pada umumnya karena mereka adalah peternak kecil, belum mampu bergerak dan berorientasi pada usaha skala keekonomian, karena itu tingkat produktivitasnya masih rendah, kurang modal, pengetahuan dan ketrampilan; yang mencakup soal reproduksi, pakan, pengelolaan pasca panen, sanitasi ternak, pencegahan penyakit, dan lain sebagainya.
Pendek kata, untuk pemberdayaan, perlu adanya gerakan mengkonsolidasikan para peternak rakyat, mengajarkan ilmu beternak modern, meninggalkan cara-cara tradisional dan mendorong bergotong-royong menjadi peternak kolektif untuk maju bersama, ikut serta menjadi bagian membangun ketahanan pangan, pengembangan agribisnis, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani peternak.
Untuk mengatasi persoalan itu, sejatinya sudah sejak 2013, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB) mengembangkan konsep Sekolah Peternakan Rakyat, yang dilabeli sebagai SPR-1111. Kurikulum sekolah rakyat ini ingin mengubah karakter dan pola pikir peternak tradisional-individual menjadi pengusaha kolektif berjamaah. Caranya adalah dengan menerapkan program pembelajaran bersifat partisipatif, dari hulu sampai hilir, dengan sasaran pada peternak di kawasan tertentu. Peternak kawasan tertentu dikonsolidasikan, sekurang-kurangnya telah terkumpul memiliki 1000 indukan sapi dan maksimal terdapat 100 pejantan. Polanya tentu milik gabungan para peternak kecil.
Capaian apa yang telah dihasilkan oleh SPR-1111 hingga saat ini? Sejak berdiri pada 6 Mei 2013, SPR-1111 telah diterapkan di 28 kabupaten meliputi 14 provinsi di seluruh Indonesia. Deklarasi SPR-1111 terbaru dilaksanakan di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat pada 22 Juni 2023. Dengan dukungan para pakar IPB, dan semangat yang berangkat dari peternak itu sendiri, serta sinergi antara Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, dan komunitas peternak rakyat, diajak untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya alam dan ternaknya.
Yang terjadi adalah perubahan signifikan pada komunitas peternak rakyat sebelum dan sesudah mengikuti SPR-1111 telah nyata dapat ditunjukkan di beberapa daerah. Perubahan itu meliputi: (i) dari usaha sambilan menjadi usaha utama; (ii) dari asal-asalan dalam beternak menjadi bisnis terukur; (iii) dari penggunaan alat tradisional menjadi alat berteknologi. Dalam mewujudkan perubahan itu, SASPRI — sebagai himpunan alumni SPR — telah berperan nyata dan oleh karena itu perlu terus digalakkan di seluruh wilayah Indonesia.
Perkumpulan Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI) yang dilahirkan 10 November 2018, di AIPI (Gedung Perpustakaan Nasional RI) telah berkembang. Kini SASPRI telah memiliki 22 SASPRI-Kawasan sebagai pemilik kedaulatan, yang beranggota peternak, dengan anggota bervariasi dari puluhan orang sampai dengan ratusan orang.
Dalam rangka menjaga semangat dan militansi komunitas peternak rakyat yang terdidik dan terkonsolidasi dalam wadah SASPRI itu, setiap tahun dilaksanakan rapat kerja nasional dan setiap lima tahun dilaksanakan kongres. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3-IPB) bersinergi dan berkolaborasi dengan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar-Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (KIPD-AIPI) dan Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI) serta Yayasan Karya Bhakti Bumi Indonesia (YKBBI) akan menyelenggarakan Lokakarya Nasional Pemberdayaan Peternak Rakyat, dibarengi dengan Wisuda ke-7 SPR-1111 IPB, Peluncuran buku Songo Wali SASPRI, dan Kongres ke-2 SASPRI.
Tema yang diusung adalah “Alumni SPR tinggal landas mewujudkan pengusaha kolektif berjamaah berbasis sistem integrasi horizontal. ” Agenda utamanya adalah 1) mengapresiasi Pencapaian prestasi berupa wisuda SPR-1111, dan inaugurasi; 2) Lokakarya nasional dengang mengundang narasumber kompeten dari Bapennas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Dikbudristek, dan Yayasan KBBI; 3) konsolidasi internal SASPRI dengan melaksanakan Kongres ke-2 SASPRI, Workshop Perencanaan, dan refleksi 5 tahun perjalanan SASPRI.
Perhelatan ini bertujuan untuk: 1) menunjukkan kepada publik adanya perubahan dan kemajuan komunitas peternak rakyat, setelah mengikuti program pembelajaran partisipatif SPR-1111 IPB; 2) mendiskusikan komitmen dan peran aktif institusi pemerintah dalam memberdayakan komunitas peternak rakyat yang terdidik dan terkonsolidasi; dan mengkonsolidasi internal organisasi SASPRI secara nasional dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik kepada para alumni SPR yang tersebar di Indonesia
Acara dapat diikuti secara luring bagi undangan dan wisudawan serta wali SASPRI-Kawasan dan dapat pula diikuti melalui Aplikasi Zoom dengan tautan https://s.id/SINERGI_KOLABORASI untuk agenda hari pertama yang diadakan di Auditorium Lantai 2 Perpusnas. Sedangkan Lokakarya diselenggarakan di Ruang Pertemuan AIPI Lantai 17 Gedung Perpusnas dan dapat diikuti pula melalui Aplikasi Zaoom dengan tautan https://s.id/AIPI-SASPRI.
Lokakarya Pemberdayaan Peternak akan menghadirkan Narasumber: 1) Jarot Indarto, SP, MT, MSc, Ph.D. (Direktur Pangan dan Pertanian, Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA Bappenas), akan menyampaikan tema SPPR sebagai proyek strategis nasional untuk mendukung ketahanan pangan: kolaborasi tetrahelix; 2) Prof. Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M. Agr. (Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemendikbudristek) mengusung tema paparan Replikasi SPPR pada perguruan tinggi lain dalam rangka peningkatan kapasitas peternak rakyat; 3) Raziras Rahmadillah, S. STP. (Plt. Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerjasama Kemaritiman dalam Negeri) mendiskusikan tema berjudul Implementasi SPPR untuk pencapaian SDGs: peran dan dukungan pemerintah daerah; 4) Drs. Laoli M.M (Direktur Karya Bhakti Bumi Indonesia) menyampaikan paparan bertajuk Dukungan Yayasan Karya Bakti Bumi Indonesia terhadap percepatan SPPR di Kabupaten berpulau dan berpesisir.
Seluruh rangkaian acara akan diawali dengan Sambutan Pembuka oleh Wakil Ketua AIPI Prof. Harkristuti Harkrisnowo dan akan dibuka dengan resmi oleh Rektor IPB University, Prof. Arif Satria.
Inilah rangkaian posesi wisuda para peternak yang telah bertransformasi menjadi pengusaha kolektif berjamaah. Mereka telah menyelesaikan SPR-1111, sebanyak 11 kelompok, masing-masing SPR terdiri dari 9 orang peternak, berasal dari berbagai Kabupaten: Lampung Tengah, Bogor, Pemalang, dan Lamongan. Secara simbolik proses transformasi itu digambarkan dengan tangan kiri membawa 10 batang lidi berganti menjadi memegang seikat sapu lidi, dan tangan kanan semula memegang sabit berganti menjadi akrap memegang pena. Posesi wisuda mereka juga dihadiri oleh masing-masing Wali SASPRI-Kawasan — para Bupati dan/atau Kepala Dinas Peternak, sebagai orang tua “wisudawan” — dan disaksikan tamu undangan dan pejabat pemerintah pusat. Perhelatan ini sengaja diselenggarakan untuk memberikan rasa bangga para peternak yang – berasal dari kampung-kampung berbagai Kabupaten – diwisuda oleh Rektor IPB University, di gedung megah Perpustakaan Nasional RI di Kawasan Monas, Pusat Pemerintahan di Jakarta. Semoga para wisudawan, peserta inaugurasi dan peserta kongres SASPRI, pulang ke daerahnya membawa kesan mendalam, terutama bagi para peternak — yang selanjutnya diharapkan menjadi motivator bagi kawan-kawan peternak lain di daerahnya.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Penulis Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan AIPI