Berita

news_pic

Peremajaan Jurnal Kedokteran Tertua di Indonesia

Media Indonesia, 25 November 2017 - GENEESKUNDIG Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (GTNI)merupakan sumber penting bagi penelitian sejarah kedokteran di Indonesia sejak masa Hindia-Belanda.

Hampir seluruh artikel ilmiah tentang penemuan, misalnya, vitamin B1 dan definisi penyakit beri-beri, dipublikasikan melalui jurnal ini pada 1980-1927. Atas dasar penelitian itu pula, Christiaan Eijkman mendapatkan Nobel Kedokteran pada 1929.

Baru-baru ini GTNI diulasi kembali oleh Leo van Bergen, Liesbeth Hesselink, dan Jan Peter. Sebagian besar isinya terangkum dalam buku The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942.

Berbagai macam isu kesehatan di Hindia-Belanda, termasuk pola penyebaran wabah penyakit berikut cara pencegahan dan penanganannya hingga perilaku para dokter di masa itu, tercatat di dalamnya.

Menurut Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Sangkot Marzuki, GTNI tidak hanya menjadi catatan penting untuk kedokteran di Indonesia, tetapi juga sebagai catatan sejarah kedokteran tropis di dunia. "Oleh karenanya, catatan ini menjadi pondasi penting untuk penelitian kedokteran di masa yang akan datang," katanya saat memberi sambutan dalam kegiatan peluncuran sekaligus bedah buku The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Kamis (16/11).

Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI Sjamsuhidajat Ronokusumo menambahkah, kesadaran akan kebutuhan untuk mencatat dan mendokumentasikan kemajuan ilmu kedokteran, peningkatan kesehatan, dan ekspektasi kehidupan sangatlah penting bagi para ilmuwan. Ia yang turut menulis pengantar buku The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942 mengatakan, seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran pada 1850-an dan beberapa dekade berikutnya, hampir semua kebijakan kesehatan di Hindia-Belanda mengalami perubahan secara signifikan.

"Apa yang telah dicapai dalam dunia medis sebelum pecahnya Perang Dunia II pada 1942 telah menjadi kekayaan pengetahuan dan kemajuan dalam penanganan medis di Hindia-Belanda. Namun, perkembangan medis selama pendudukan Jepang di Hindia-Belanda pada 1942-1945, dan setelahnya tidak bisa lagi dilacak dari GTNI," imbuh Sjamsuhidajat.

 

GTNI sebagai rujukan

Sejarawan Universitas Gajah Mada (UGM) Ravando Lie merupakan akademisi yang pernah melakukan penelitian dengan merujuk GTNI. Penelitian Ravando lebih tertuju pada sejarah rumah sakit di Hindia-Belanda, sedangkan rumah sakit (RS) yang pernah menjadi objek penelitiannya misalnya RS Jang Seng Ie (RS Husada) di Jakarta, dan Panti Kosala (RS Dr Oen) di Surakarta. Ravando memperhatikan dua tempat tersebut lantaran Dr Oen Boen Ing, yang biografinya juga ditulis Ravando, pernah menjabat kepengurusan di sana.

"Saya melihat GTNI itu banyak memberikan sumbangsih terhadap dokter-dokter Tionghoa dan juga sebaliknya, yaitu dokter-dokter Tionghoa banyak menulis di dalamnya. Jadi yang menarik, masyarakat Tionghoa yang diidentikkan dengan sektor ekonomi, pada zaman Hindia-Belanda mereka identik dengan sektor kesehatan," jelas Ravando.

Akademisi lain yang pernah merujuk GTNI sebagai sumber penelitian ialah Pengajar Departemen Sejarah dan Filologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Gani Ahmad Jaelani. Gani, yang pada awal tahun ini telah menyelesaikan disertasi, membaca GTNI untuk melakukan penelitian soal higienitas. Menariknya lagi, dari jurnal kedokteran tertua di Indonesia itu, Gani dapat menemukan medical statistics yang dibuat pada masa awal publikasi GTNI. Gani juga berhasil menemukan medical topography (pemetaan kawasan sehat) yang kala itu sering dilakukan dokter dari Belanda.

"Kenapa mereka melakukan itu? Karena pada saat itu migrasi orang-orang Eropa ke Hindia-Belanda sudah semakin banyak. Mereka merasa butuh jaminan, apakah Hindia-Belanda itu tempat yang sehat atau tidak. Jadi mereka buatlah topografi itu," terang Gani.

 

Diterbitkan harian Media Indonesia: Galih Agus Saputra