Berita

news_pic

Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality, Mengidentifikasi Masalah, Menelaah Bukti dan Informasi, Serta Mengeksplorasi Solusi

Jakarta, 14 Desember 2017- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia kembali menyelenggarakan forum komunikasi pemangku kepentingan dalam program Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia pada 4-5 Oktober 2017. Lokakarya dan diskusi kelompok bertajuk “Dialog Pengembangan Kebijakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia: Penggunaan Bukti dan Informasi, serta Pelibatan Pemangku Kepentingan” itu turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek.

Diskusi itu melibatkan lebih dari 70 pemangku kepentingan dari puluhan institusi, termasuk Kementerian Kesehatan RI, BPJS Kesehatan, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, perwakilan dari lembaga pendidikan, organisasi non-pemerintah, maupun lembaga-lembaga internasional yang turut terlibat dalam upaya mengatasi masalah kematian ibu dan bayi baru lahir. Menteri Kesehatan mengatakan bahwa Indonesia masih mempunyai tantangan besar dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Ia mendorong AIPI untuk meneruskan penelitian-penelitian berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan oleh Evidence Summit.

“Melalui forum-forum semacam ini kita berharap untuk mendapatkan penyelesaian yang sangat fundamental. Barangkali memang betul, kita harus lebih radikal dalam melakukan intervensi guna mengatasi persoalan kematian ibu di Indonesia,” ujar Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, salah satu pemangku kepentingan yang ikut berpartisipasi dalam forum tersebut.

 

Tujuan6 Dialog tersebut adalah:

1. Mengonfirmasikan kembali hasil atau temuan telaah bukti mengenai kesehatan ibu dan bayi baru lahir, untuk mengidentifikasi bukti-bukti yang memadai maupun yang tidak memadai, serta kesenjangan bukti yang ada;

2. Memperkaya hasil telaah bukti dengan mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan;

3. Merumuskan wilayah yang diprioritaskan untuk pilihan kebijakan;

4. Merumuskan draf rekomendasi dan tindakan nyata untuk menjaga keberlangsungan Evidence Summit (termasuk prioritas penelitian lebih lanjut);

5. Membangun konsensus di antara para pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas rencana aksi untuk melaksanakan program kolaboratif.

Kegiatan diskusi dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi berdasarkan 6 area kajian atau topic area (TA) menggunakan metode nominal group technique (NGT). Metode NGT digunakan untuk menghimpun sebanyak-banyaknya masukan dari para pemangku kepentingan untuk kemudian menghasilkan sebuah konsensus.

Berbagai masukan dari para pemangku kepentingan berhasil dijaring dalam forum tersebut. Fransiska Hadi dari Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) mengatakan, selama ini upaya-upaya promotif dan preventif dalam mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi masih kurang tergali. “Pembicaraan tentang masalah tersebut lebih banyak di tatanan fasilitas dan layanan kesehatan. Kita perlu menggali lebih dalam inti masalah di area tersebut, menyelenggarakan lebih banyak penelitian, sehingga harapannya bisa menciptakan intervensi yang lebih bersifat promotif dan preventif,” tuturnya.

 

Lihat ulasan lengkapnya di www.esaipi.org

Penulis: Alia An Nadhiva

Editor: Anggrita Cahyaningtyas