Berita

news_pic

Menakar Ancaman Terhadap Persatuan dan Kemajemukan Indonesia

Jakarta, (BERITA AIPI) 24 Agustus 2017, Berbagai dinamika sosial yang terjadi pada beberapa waktu terakhir, seperti rangkaian aksi bela Islam, memperlihatkan adanya berbagai pandangan yang berkembang dan saling bertumbukan di masyarakat. Selain itu, tatanan geo-ekonomi-politik dunia juga sedang bertransformasi secara signifikan. Padahal di era modern, berbagai ide dan gagasan dapat menyebar dengan cepat berkat adanya teknologi.

Perkembangan tersebut menyebabkan munculnya berbagai isu dan gagasan yang berpotensi mengancam kesatuan dan kemajemukan Indonesia. Ketimpangan yang dirasakan masyarakat kelas menengah dan bawah menyebabkan mereka mudah dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dan politik. Gerakan ultranasionalisme juga muncul di berbagai negara seperti Inggris dengan Brexit dan penolakan pengungsi Suriah di Eropa Timur. Sementara itu kekecewaan terhadap globalisasi dan demokrasi juga memicu berkembangnya gagasan di sejumlah kelompok muslim untuk beralih ke sistem khilafah.  Gagasan ini dapat dengan mudah menjalar ke Indonesia.  Melihat kecenderungan ini, Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia kemudian menyelenggarakan seminar bertajuk “Indonesia dalam Pusaran Global” pada 24 Agustus 2017 di Hotel Santika Bintaro.

Seminar ini bertujuan mengupas berbagai faktor yang mengancam keutuhan dan kemajemukan Indonesia, dan seberapa serius ancaman tersebut bagi kita. Berbagai faktor, termasuk kepentingan ekonomi, politik, dan ideologi juga turut didiskusikan dalam seminar sehari tersebut.

Seminar tersebut menghadirkan topik dan narasumber sebagai berikut:

  1. Populisme Islam dan Globalisasi (Dr. Luthfi Assyaukanie)
  2. Perempuan dalam Terorisme (Prof. Dr. Musdah Mulia)
  3. Bangkitnya Kelas Menengah Muslim dalam Hubungannya dengan Pasar dan Konsumerisme
    (Prof. Dr. Noorhaidi Hasan).

 

Moderator: Dr. Tamrin A. Tomagola

Narasumber pertama Luthfi Assyaukanie menyampaikan bahwa populisme Islam adalah istilah baru dari wacana yang berkembang di dunia global. Istilah tersebut kini digunakan untuk menyebut konsep yang berkembang dari konservatisme Islam, radikalisme Islam dan ekstremisme Islam. Populisme juga terjadi di negara-negara barat seperti yang dialami Amerika Serikat dengan kemenangan Donald Trump. Populisme pada dasarnya terjadi karena ada kelompok termarjinalisasi yang berusaha mengkritik pemerintah karena dianggap sebagai elit yang tak memihak rakyat. Hanya saja di barat, Islam dianggap sebagai salah satu faktor yang memicu munculnya populisme, sementara di negara-negara seperti Indonesia dan Timur Tengah para penduduk muslim cenderung menganut populisme.

Namun menurut Luthfi, populisme Islam di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di Timur Tengah. Ia juga menilai populisme Islam tak akan terlalu mengancam Indonesia. “Aksi Bela Islam yang terjadi beberapa waktu lalu bukanlah bentuk populisme Islam melainkan perpaduan antara ultranasionalisme, konservatisme, dan politik,” katanya. Itulah sebabnya, aksi-aksi tersebut kemudian tak berlanjut saat kegaduhan politik sudah usai. “Setelah Ahok dipenjara, usaha-usaha mengumpulkan massa gagal karena unsur modal dan pragmatismenya sudah tidak ada,” katanya.

Pembicara lainnya, Noorhaidi Hasan, juga optimistis bahwa Indonesia akan bertahan dari ancaman radikalisme. “Indonesia punya Pancasila dan masyarakat madani (civil society) yang kuat seperti Muhammadiyah dan NU; kelas menengah yang terus tumbuh; dan demokrasi,” katanya. Ancaman lebih besar justru datang dari konservatisme dan intoleransi, yang harus diakui masih marak di Indonesia. Intoleransi tumbuh subur di beberapa kalangan kelas menengah muslim yang masih merasa kemapanannya terancam oleh kelompok yang secara ekonomi dinilai lebih kuat.

Sementara itu, Musdah Mulia menyampaikan sisi lain dari radikalisme dengan menyorot peran perempuan dalam terorisme. “Meskipun perempuan juga berperan aktif dalam terorisme, mereka sebenarnya tetap menjadi korban karena termakan doktrin-doktrin radikal,” ujarnya. Menurut Musdah perempuan masih menjadi target indoktrinasi karena cenderung memberikan loyalitas penuh, tidak dicurigai, mudah didoktrin, dan lebih mudah didekati. Hal ini tentu harus diwaspadai, terlebih propaganda-propaganda radikal itu dibungkus dengan cara yang sangat menarik. “Harus diakui bahwa kelompok-kelompok Islam moderat kalah bersaing dalam mempromosikan gagasannya dibandingkan kelompok teroris dan kelompok radikal,” katanya. Tetapi ada juga titik cerah dimana sejumlah perempuan mantan kombatan kini turut membantu usaha penanggulangan terorisme.

Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, Prof. M. Amin Abdullah menilai dinamika yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa masyarakat sedang mencari keseimbangan baru antara keislaman dan globalisasi. Ada harapan bahwa di masa depan, kelas menengah muslim akan mendorong lahirnya kombinasi antara Islam, modernitas dan demokrasi. “Yang kita butuhkan adalah para pemimpin di berbagai bidang yang bisa menjembatani pandangan-pandangan agama dan nasional,” katanya.

 

 

Pembuat Artikel: Anggrita D. Cahyaningtyas