Berita

news_pic

Mensejahterakan Masyarakat Lewat Sekolah Peternak Rakyat

Bogor, 3 Agustus 2017-Tingginya harga daging sapi selalu menjadi masalah yang tak kunjung terpecahkan. Salah satu penyebabnya adalah sistem kerja para peternak yang masih tradisional. Selain itu, skala kepemilikian yang kecil—lebih dari 98% sapi dimiliki oleh peternak rakyat yang rata-rata hanya memiliki 2,53 sapi per orang—membuat pemuliaan ternak sulit dilakukan. Akibatnya, produktivitas dan reproduktivitas ternak lokal makin menurun dari waktu ke waktu.

Masalah ini diangkat dalam kuliah inaugurasi Prof. Dr. Muladno, MSA sebagai anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), pada Kamis, 3 Agustus 2017. Acara tersebut terselenggara atas kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor. Prof Muladno saat ini mengabdi sebagai dosen dan Kepala Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB.

Dalam pidato inaugurasinya, Prof Muladno mengangkat pentingnya meningkatkan kemampuan peternak rakyat dari berbagai aspek teknis maupun nonteknis, khususnya dalam aspek bisnis.  “Eksistensi sapi lokal di Indonesia tergantung jutaan peternak rakyat. Tidak ada cara lain dalam meningkatkan kemampuan para peternak kecuali melalui bisnis kolektif,” ujarnya. Dengan begitu, akan ada skala minimum kepemilikan ternak sehingga dapat dikembangkan dan berdaya saing lebih tinggi. Sayangnya peran dan ketekunan para peternak sapi lokal ini dinilai belum cukup mendapat perhatian dari pemerintah maupun akademisi.

Sejumlah usaha pemerintah untuk meningkatkan populasi ternak lokal dinilai masih kurang tepat sasaran. Contohnya membagikan sapi betina indukan dan meningkatkan kemampuan kelompok peternak. Masalahnya, para sapi betina indukan itu belum tentu sudah berusia siap kawin dan kerap dijual saat peternak terdesak. Selain itu banyak pula peternak yang ikut dalam program ini bukanlah peternak tulen

Untuk mengatasi masalah itu, ia mengembangkan konsep Sekolah Peternakan Rakyat Seribu Seratus Sepuluh Satu (SPR-1111) dan Kemitraan Mulya 60 (KM-60). SPR-1111 adalah konsep kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk mengembangkan usaha peternak rakyat. Kerja sama dengan skema SPR-1111 kini telah diterapkan di 24 lokasi di 13 kabupaten/kota, di antaranya Muara Enim, Sumatera Selatan; Pasuruan, Jawa Timur; dan Sumbawa, Nusa Tenggara Bara. Sementara itu KM-60 adalah skema kerjasama antara peternak dan investor kecil di bawah pengawasan birokrat dan perguruan tinggi.

Saat ini ada sekitar 100 SPR yang telah didirikan di berbagai wilayah Indonesia. Sedikitnya telah terdokumentasi sekitar 100 ribu ekor sapi indukan, 900 tokoh peternak berpengaruh, 40 ribu peternak, 100 manajer, 100 dokter hewan, dan sekitar 300 inseminator yang terlibat di dalamnya. Mereka berbisnis secara kolektif dengan peternak lokal sebagai pemeran utamanya.  

Menurut Prof. Muladno, bukan hanya para aktor dalam SPR yang akan diuntungkan dengan skema ini. Setidaknya ada lima sektor yang akan tersentuh oleh SPR, yaitu kedaulatan dan kemandirian pangan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen bisnis, sumber daya alam dan energi, serta sosial masyarakat/demografi.

Dalam pidato inaugurasinya, Prof. Muladno juga menggarisbawahi pentingnya peran akademisi dalam mensejahterakan masyarakat. Ia mengkritik sistem penilaian dosen yang lebih menitikberatkan pada pendidikan dan pengajaran di kampus. “Padahal kegiatan pengabdian merupakan media alih ilmu pengetahuan dan teknologi dari kampus ke masyarakat, dalam hal ini para peternak tulen dan biasanya berskala kecil,” katanya. Mestinya pemikiran dan pengembangan ipteks di perguruan tinggi—dalam hal ini di bidang peternakan—seharusnya didedikasikan kepada peternak rakyat sebagai mayoritas penerus keberadaan ternak lokal bagi kebutuhan bangsa.

Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki mengapresiasi topik yang disuguhkan dalam pidato inaugurasi ini karena amat penting bagi masyarakat. “AIPI, sebagai penasihat bangsa berdasarkan ilmu pengetahuan, turut berperan memberi masukan kepada pemerintah dalam mengembangkan sektor yang berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyat,” katanya. Pidato Prof. Muladno menunjukkan bahwa kuliah inaugurasi anggota sangat penting dilakukan sebagai cara memperkenalkan anggota AIPI yang baru terpilih kepada masyarakat ilmiah Indonesia. “Ini juga merupakan pertanggungjawaban AIPI kepada  masyarakat untuk membuktikan kebenaran pilihan dalam memilih anggotanya,” ujarnya.

 

 

Pembuat Artikel : Anggrita D. Cahyaningtyas