Berita

news_pic

Menyoroti Kemajemukan Indonesia dari Berbagai Sisi

Jakarta, (BERITA AIPI) - Dua anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menjadi pembicara dalam Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII-2017 yang diselenggarakan di Museum Nasional, Kamis, 9 Februari 2017. Kuliah bertema Kemajemukan dan Keadilan itu berupaya mengangkat kembali arti kemajemukan dan pluralisme yang sebetulnya telah berlangsung selama berabad-abad di bumi nusantara. Bukan hanya dari segi budaya, kemajemukan malah sudah ditujukkan di tataran sel tubuh manusia Indonesia. Oleh sebab itu, kemajemukan masyarakat Indonesia semestinya tak perlu menjadi persoalan yang berpotensi memecah persatuan.

Prof. Herawati Soedoyo dari Komisi Ilmu Kedokteran menyampaikan materi berjudul “Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia”, hasil penelitiannya bersama tim dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Ia membuka kuliahnya dengan menyebut pertanyaan yang jamak disampaikan oleh orang Indonesia ketika berkenalan: “Aslinya, (dari) mana?”.  Rupanya, pertanyaan yang terdengar sederhana itu menyimpan jawaban yang kompleks. Bukan sekadar jawaban standar, “Saya dari Sumatera Barat,” atau, “Saya asli Makassar,” yang biasa disampaikan. Asal-usul manusia Indonesia tersimpan dalam sel-sel di tubuh kita.

“Manusia Indonesia itu beragam sejak DNA,” ujar Prof. Herawati Soedoyo.  Berdasarkan hasil studi terhadap masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, dari barat hingga ke timur, terlihat jejak pembauran jejak genetik Asia dan Melanesia dari kromosom yang diteliti oleh tim.

Pembauran genetik Asia dan Melanesia terlihat dari barat ke timur. Semakin ke timur, semakin kuat pula jejak DNA Melanesia yang terlihat. Sebaliknya semakin ke arah barat, semakin kuat jejak DNA Asia yang dimiliki penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa asal-usul manusia Indonesia sangat kompleks, populasinya berasal dari beberapa sebaran. “Tidak ada gen murni. Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika dan semuanya pada dasarnya berasal dari Afrika,” katanya.

Ia merujuk pada berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa manusia pertama berasal dari Afrika, yang kemudian bermigrasi ke berbagai penjuru dunia. Hanya saja, seiring berjalannya waktu dan proses migrasi manusia, ciri fisik seperti warna kulit, rambut, dan postur tubuh bisa berubah karena pengaruh lingkungan dan paparan sinar ultraviolet.

Selanjutnya, anggota AIPI dari Komisi Kebudayaan, Yudi Latif, PhD., memaparkan persoalan kemajemukan dari perspektif sosial. Salah satu kunci untuk menjaga kehidupan yang damai di tengah keberagaman budaya, etnis, ekonomi, dan agama, terdapat pada aspek pemersatu yaitu Pancasila. Ideologi dasar Indonesia ini mengedepankan pentingnya menjunjung keadilan, termasuk di bidang sosial dan ekonomi agar tak terjadi kecemburuan antarkelompok. “Berkaca dari pengalaman Malaysia, pemerataan kesenjangan berdasarkan etnis atau agama tidaklah sukses,” katanya. Ia memberi contoh Malaysia yang membuat kebijakan khusus untuk menurunkan kesenjangan ekonomi antara penduduk beretnis Cina dan Melayu. Setelah 50 tahun, ternyata tak semua penduduk beretnis Melayu berhasil maju secara ekonomi. Hal ini menyebabkan kesenjangan sosial tetap terjadi dan kohesi sosial tidak tercapai.

“Kesenjangan tidak hanya dialami kelompok etnis atau agama tertentu,” katanya. Menurut Yudi Latif,  kesenjangan ekonomi di Indonesia dirasakan oleh berbagai kalangan yang tidak memiliki akses terhadap berbagai sumber daya. Oleh sebab itu, menurut Yudi Latif, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempererat kohesi sosial di Indonesia, yaitu:

  1. Menghindari komunitas atau ghetto kelompok etnis atau agama yang terlalu rapat, seperti di lingkungan tempat tinggal atau sekolah.
  2. Berbagai posisi publik seperti pegawai negeri sipil maupun politisi harus terbuka bagi etnis atau agama apapun agar semua kalangan memiliki akses yang setara.   

 

Makalah lengkap untuk kedua topik ini dapat diunduh di situs Forum Kajian Antropologi Indonesia : http://fkai.org/makalah-koentjaraningrat-memorial-lectures-xiii2017-kemajemukan-dan-keadilan/