DISKUSI PUBLIK HIBRIDA: Transformasi Sistem Pangan untuk Kedaulatan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045: "Sinergi Pangan Lokal, Budaya, Sains dan Teknonogi."

07 December 2023

Urusan pangan bukanlah sekedar persoalan mengisi perut warga bangsa. Bukan pula semata masalah pemenuhan agar konsumsi pangan kita cukup mengenyangkan, bergizi, tersedia dan terjangkau, serta terjamin keberlanjutannya. Lebih dari itu. Pangan adalah kunci pembangunan warga dunia. Pangan merupakan puncak dari sistem yang lebih luas dan rumit, yang mendukung pencapaian target ambisius yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Indonesia, sebagai warga bangsa dunia, harus bisa, mampu mengambil peran dan tanggungjawabnya, dengan melaksanakan transformasi sistem pangan yang khas untuk Indonesia, merawat kedaulatan pangan, menyinergikan keberagaman pangan lokal, yang berbasiskan budaya, sains dan teknologi dengan kekhasan Indonesia pula. 

Pasca UN Food Systems Summit +2 Stocktaking Moment, yang dilangsungkan di Roma 24-26 Juli 2023, negara-negara peserta KTT anggota FAO didorong untuk membahas kebutuhan-kebutuhan mendesak akan perombakan total sistem pangannya. Dalam perhelatan itu negara-negara anggota FAO didorong untuk mengevaluasi kembali dan memperkuat komitmen mereka untuk bertindak dan bertukar contoh kisah-kisah suksesnya yang inspiratif.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman dan kekayaan sistem pangannya, berkontribusi secara signifikan dan memainkan peranan penting. Dalam perjalanan panjang sejarah pembangunan pertanian, tercatat masih terdapat beberapa tantangan yang dihadapi terutama menyangkut kesejahteraan petani, pertanian berkelanjutan, serta kekurangan gizi. Menurut laporan ketahanan pangan PBB, menyatakan hampir 70% masyarakat Indonesia tidak mampu membeli pangan bergizi.

Terlepas dari tantangan-tantangan yang masih menghadang, Indonesia dinilai telah meraih capaian yang berarti menyangkut penurunaan angka tengkes (stunting) pada anak di bawah 5 tahun ke tingkat terendah dalam lebih dari dua dekade. Pada 2021 penyandang tengkes anak Indonesia berusia dibawah 5 tahun masih tercatat 24,4%, dan angka ini membaik menjadi 21,6% pada 2022. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menganggap tengkes sebagai masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang kronis, dengan prevalensi melebihi 20%. Asupan gizi yang tidak mencukupi selama 1.000 hari pertama kehidupan, sanitasi yang buruk, dan terbatasnya akses ke air bersih dituding menjadi faktor utama penyebabnya. 

Itulah sekelumit persoalan-persoalan yang masih tersisa terkait dengan kebijakan pangan. Persoalan yang lebih luas lagi menyangkup aspek kearifan lokal, kedaulatan pangan; sains, teknologi dan inovasi untuk kedaulatan pangan; serta pangan sebagai pemajuan kebudayaan bangsa – akan dibahas dan diskusikan secara mendalam oleh para pakar AIPI dalam acara Diskusi Publik bertajuk Transformasi Sistem Pangan untuk Kedaulatan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045: "Sinergi Pangan Lokal, Budaya, Sains dan Teknonogi."

Tema-tema yang dibahas dalam diskusi publik ini lebih menekankan pada dimensi-dimensi penting antara lain: (i) Pangan sebagai jalan Pemajuan Kebudayaan; (ii) Kearifan Sistem Pangan Lokal untuk Transformasi Sistem Pangan; (iii) Peran Sains dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan; dan (iv) Peran Ilmu Dasar dan Terapan dalam mendukung Kedaulatan Pangan. 

Diskusi publik ini akan diselenggarakan secara hibrida, pada Kamis, 7 Desember 2023 pukul 09.30–12.00 WIB, bertempat di Ruang Pertemuan AIPI, Lantai 17, Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta Pusat. Perhelatan Diskusi Publik ini dapat juga diikuti melalui tautan aplikasi Zoom https://s.id/KEDAULATAN_PANGAN, dan disiarkan pula melalui kanal Aplikasi YouTube melalui tautan https://s.id/YTKEDAULATAN_PANGAN. 

Diskusi publik ini bertujuan untuk menghimpun masukan dari para pihak mengenai bagaimana prinsip-prinsip kebudayaan dan kearifan lokal, inovasi sains dan teknologi serta pengetahuan transdisiplin mampu mendorong terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia. Harapannya akan menambah himpunan kesepahaman untuk memformulasikan rekomendasi kebijakan kedaulatan pangan sebagai strategi transformasi sistem pangan di Indonesia 

Prof. Daniel Murdiyarso, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, akan hadir untuk menyampaikan kata sambutan pembuka acara diskusi sekaligus menjadi penyampai Pemakalah Kunci. Acara ini akan di tutup oleh ini Prof. Dr. Muljowidodo Kartidjo, Ketua Komisi Ilmu Rekayasa, AIPI. 

Diskusi Publik yang dihelat secara hibrida ini akan menghadirkan narasumber kompeten. Narasumber pertama Ir. Ahmad Arif, M.Si. (Harian Kompas), akan mengevaluasi dan mendiskusikan tema Pangan, Kearifan Lokal dan Kedaulatan Pangan. Narasumber kedua adalah Prof. Antonius Suwanto, (AnggotaKomisi Ilmu Rekayasa - AIPI) akan membahas serta mendiskusikan soal kontribusi Sains, Teknologi dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan. Narasumber ketiga adalah Prof. Melani Budianta (Anggota Komisi Kebudayaan - AIPI) yang beberapa bulan lalu menerima anugerah Sarwono, akan berbicara mengenai Pangan sebagai Jalan Pemajuan Kebudayaan Bangsa. 

Sesi diskusi dan tanya-jawab akan dihelat setelah semua narasumber menyelesaikan papaprannya. Seluruh rangkaian Acara Diskusi Publik Hibrida akan dipandu oleh moderator Prof. Dr. Damayanti Buchori, Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar yang juga sebagai CTSS IPB. 

Hasil diskusi akan dijadikan bahan-bahan rekomendasi kebijakan menyangkut transformasi sistem pangan. Disamping itu akan digunakan pula sebagai bahan rujukan policy paper AIPI terutama terkait dengan kedaulatan dan transformasi sistem pangan di Indonesia. 


Hak Cipta © 2014 - 2024 AIPI. Dilindungi Undang-Undang