Opini

no image

”Lockdown” dan ”Herd Immunity”

03 June 2020
Oleh : Antonius Suwanto
Unduh PDF


Artikel ini pertama kali diterbitkan di Harian Kompas

Memberikan kesempatan untuk yang muda dan sehat tetap beraktivitas, khususnya untuk menjalankan roda ekonomi, sembari memberi perhatian pada para tetuanya, mungkin merupakan alternatif yang lebih manusiawi.

Semua makhluk hidup—mulai dari bakteri, cendawan, tanaman, hewan, hingga manusia—punya naluri untuk memelihara, membesarkan, dan melindungi keturunannya. Bahkan bakteri pun memiliki tingkah laku altruistik (rela berkorban untuk kelangsungan hidup keturunannya) dengan mekanisme yang sangat indah dan dramatis.

Mangga, durian, avokad, rambutan, salak, dan beragam buah-buahan pada umumnya enak dan sangat bergizi. Namun, bukan bijinya. Biji tanaman jika dimakan mentah pada umumnya beracun atau bersifat antinutrisi. Daging buah itu adalah hadiah dari sekelompok tanaman tertentu bagi manusia yang telah membantu menyebarkan bijinya. Biji itu berisi bayi tanaman sehingga sang induk sangat berkepentingan melindungi keturunannya.

Tanaman memang tidak dapat menghindar atau melawan secara fisik, tetapi sangat piawai dalam memproduksi berbagai senjata kimia. Tanaman adalah makhluk yang paling pintar membuat berbagai kombinasi senyawa kimia di alam, termasuk yang beracun untuk manusia. Itulah sebabnya manusia pada umumnya tidak dapat mengonsumsi beras, jagung, kedelai, kacang tanah, dan berbagai biji-bijian lain dalam kondisi mentah.

Ayam, singa, gajah, sampai manusia pasti akan secara total berusaha melindungi keturunannya. Meskipun demikian, hewan manakah yang muda dan gagah, tetapi mau membantu atau berempati terhadap tetuanya?

Rasanya belum pernah melihat ayam, singa, atau gajah muda gagah perkasa yang berusaha merawat ibunya yang sudah tua, cacat, atau sakit-sakitan. Karena itulah, prinsip alam: survival of the fittest. Menyeleksi yang paling bugar. Hanya manusialah yang bisa berempati pada manusia lain yang sudah tua, cacat, atau sakit-sakitan. Sebagian manusia bahkan juga menyayangi hewan atau tanaman peliharaannya dan berusaha merawatnya sampai akhir hayat hewan dan tanaman tersebut. Inilah survival of the kindest.

Tulisan biologiwan Charles Darwin tentang seleksi alam memang berdasarkan pada survival of the fittest. Meskipun demikian, dalam bukunya, The Descent of Man, Darwin memaparkan bahwa survival of the kindest lebih tepat untuk menjelaskan kesuksesan manusia dalam mendaki tangga evolusi secara efektif dan efisien.

Padi yang sudah berbulir bernas akan segera mengering, menyusut, dan akhirnya mati untuk memberi ruang, cahaya, dan nutrisi bagi kecambah-kecambah padi penerusnya. Singa yang sudah tua atau sakit akan tertinggal dari komunitasnya dan menjadi santapan predatornya.

Tetua setiap makhluk hidup akan selalu berusaha menghidupi dan melindungi keturunannya, khususnya yang masih muda atau lemah. Pada akhirnya mereka juga mesti memberi jalan untuk kesuksesan keturunannya. Meskipun demikian, hanya pada manusia ada usaha dari yang muda untuk tetap memelihara, bahkan menghormati yang tua dan sudah lemah.

Alternatif lebih manusiawi

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau karantina merupakan usaha yang muda dan sehat untuk melindungi yang tua, cacat, atau sakit-sakitan dari infeksi SARS-CoV-2. Bagi individu yang muda dan sehat, Covid-19 pada dasarnya dapat dianggap mirip dengan penyakit flu biasa. Kalaupun mereka terinfeksi, sering kali tidak menampilkan gejala (asymptomatic) atau menampilkan gejala ringan saja dan hampir semuanya akan sembuh kembali.

Data epidemi Covid-19 dunia menunjukkan, yang rentan kena Covid-19 itu adalah manusia yang relatif sudah lanjut usia atau yang sudah punya penyakit lain (comorbid). Kalau dibiarkan sesuai hukum alam, sudah dapat diperkirakan kelompok manusia mana yang umumnya akan sintas.

Kegiatan yang mutlak membutuhkan kehadiran fisik seperti kegiatan praktikum di institusi pendidikan sebaiknya diutamakan untuk dosen-dosen muda. Mahasiswa, yang umumnya masih muda, tetap dimonitor temperatur tubuhnya untuk bisa masuk ruang laboratorium atau ruang kelas. Dosen-dosen lansia diberi prioritas untuk melakukan kerja dari rumah.

Kelompok lansia atau yang berpenyakit bawaan lain sebaiknya tidak diperkenankan mengunjungi ruang-ruang publik yang cenderung penuh kerumunan, seperti pasar basah, stadion olahraga, festival seni, dan sejenisnya. Apabila memungkinkan dapat diberikan waktu atau ruang khusus bagi kelompok yang rentan ini. Meskipun demikian, aktivitas seperti pasar basah itu tetap dapat dijalankan seperti oleh yang muda dan sehat.

Tampaknya lockdown keras (strict lockdown) atau sebaliknya, yaitu sama sekali tanpa restriksi sosial (membiarkan herd immunity menjalankan fungsinya secara alami), bukanlah pilihan yang tepat untuk Indonesia. Memberikan kesempatan untuk yang muda dan sehat tetap beraktivitas, khususnya untuk menjalankan roda ekonomi, sembari memberi perhatian pada para tetuanya, mungkin merupakan alternatif yang lebih manusiawi.

Antonius Suwanto,
Guru Besar Mikrobiologi IPB; Anggota Komisi Ilmu Rekayasa, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.