Opini

no image

Antisains Versus Komunikasi Sains

20 October 2020
Oleh : Anggota Aipi
Unduh PDF


Di tengah upaya menekan penyebaran Covid-19, dunia menghadapi munculnya kelompok antisains yang menolak penggunaan masker dan pemberian vaksin. Dialog antara ilmuwan dan publik diharapkan menepis pandangan antisains.

Di tengah upaya menekan penyebaran Covid-19 dengan penerapan protokol kesehatan, muncul kelompok antimasker di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski manfaat masker sudah disebarluaskan, informasi soal masker bisa diakses dari gawai di tangan mereka, hingga sejumlah penganut antimasker akhirnya terpapar korona, keyakinan mereka tidak berubah.

Kini, saat sejumlah negara mempersiapkan pemberian vaksin guna menangkal Covid-19, kelompok antivaksin pun bersuara. Keyakinan vaksinasi sama dengan memasukkan bibit penyakit, justru memicu sakit dan kecacatan, hingga tudingan rekayasa industri dan asing selalu digemakan. Padahal, penemuan berbagai vaksin selama dua abad terakhir terbukti menurunkan tingkat kesakitan dan kematian akibat sejumlah penyakit menular.

Kemunculan kelompok antisains, mulai dari kelompok antimasker, antivaksin, antiperubahan iklim, hingga penganut Bumi datar, bukanlah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, kelompok sejenis sudah ada. Mereka muncul di setiap zaman. Repotnya, sebagian orang antisains itu justru memiliki latar belakang pendidikan sains di perguruan tinggi.

Pada 1800-an, muncul kelompok anticuci tangan, perilaku kesehatan dasar yang selama pandemi ini masif diingatkan. Sebagaimana dikutip dari Scientific American, 19 Juli 2018, dokter kandungan asal Hongaria, Ignaz Semmelweis, pada 1847 berpendapat mencuci tangan dapat menurunkan tingkat infeksi di rumah sakit.

 Saat Semmelweis menyampaikan kepada koleganya di Rumah Sakit Umum Wina, Austria, pada 1850 bahwa mencuci tangan sebelum membantu persalinan bisa menurunkan risiko terjadinya demam nifas (childbed fever) yang mematikan, dia hanya mendapat tertawaan dari rekan sejawatnya.

Namun, lebih dari 1,5 abad hingga sebelum pandemi menyerang, imbauan mencuci tangan sebelum dan sesudah menangani pasien nyatanya masih sering digaungkan kepada tenaga kesehatan demi menghindari penyebaran penyakit. Di masyarakat umum, kondisinya lebih memprihatinkan, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan akses air bersih buruk, sehingga meningkatkan kasus diare, kurang gizi, tengkes, serta memperpendek usia harapan hidup.

Tak hanya orang yang berlatar pendidik sains, penyangkalan sains itu juga dilakukan oleh industri guna melanggengkan usahanya dengan topangan dana yang sangat besar. Salah satunya dilakukan oleh industri tembakau dunia yang agresif menahan kebijakan pengendalian tembakau yang disusun berbasis bukti ilmiah dan dilakukan pemerintah.

Memicu keraguan

Keberadaan kelompok antisains dan vokalnya mereka menyuarakan pandangannya memberi pengaruh besar kepada masyarakat lain. Bukan hanya memicu keraguan di masyarakat, melainkan juga menyulitkan upaya pemerintah meningkatkan kesehatan masyarakat dan menghambat kemajuan pembangunan.

Kalangan ilmuwan pun sejatinya terpengaruh oleh pandangan antisains mereka. ”Ketika ada kelompok yang menyangkal pengetahuan yang diperoleh melalui proses keilmuan, mereka seperti menahan semua orang untuk kembali ke belakang,” kata komunikator sains, pelawak, pembawa acara televisi yang juga insinyur mesin asal Amerika Serikat, William Sanford Nye alias Bill Nye, seperti dikutip Space, Rabu (14/10/2020).

Ketika ada kelompok yang menyangkal pengetahuan yang diperoleh melalui proses keilmuan, mereka seperti menahan semua orang untuk kembali ke belakang.

Saat ilmuwan seharusnya bisa berkonsetrasi untuk melakukan riset dan memajukan ilmu pengetahuan, mereka juga harus dipaksa untuk mengomunikasikan pengetahuan mereka dengan cara dan bahasa yang mudah dimengerti awam.

Namun, seperti diungkap Dominique Brossard dari Universitas Wisconsin-Madison, AS, ilmuwan umumnya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam mengomunikasikan sains. Sering kali, ilmuwan bukanlah ahli ”pemasaran” yang baik karena terbatasnya kemampuan komunikasi mereka.

Alih-alih memberikan pemahaman kepada masyarakat, tak jarang kondisi itu justru berbalik hingga menimbulkan kebingungan di masyarakat dan keputusasaan di kalangan ilmuwan. Komunikator sains yang sebenarnya bisa menjembatani situasi itu pun masih terbatas jumlahnya ataupun pengetahuannya.

Di sisi lain, secara neurosains, proses berpikir manusia sering kali mengalami bias konfirmasi. Otak manusia secara sadar sering memilah informasi yang pantas baginya. Situasi itu, menurut Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado Taufiq Pasiak, membuat manusia cenderung memilih dan hanya mau mempercayai informasi yang ingin diyakini atau memperkuat keyakinannya saja.

Kondisi itulah yang membuat dialog yang dilakukan ilmuwan dengan kelompok antisains, termasuk di Indonesia, sering kali tidak membuahkan hasil. Meski banyak ilmuwan telah menjelaskan setiap pertanyaan mereka dengan gamblang dan sabar, kelompok antisains tetap dengan pandangan mereka.

Menghadapi kondisi itu, solusinya tidak ada lain kecuali terus menggencarkan dialog antara ilmuwan dan publik. Pembekalan ilmuwan dengan kemampuan komunikasi yang baik ataupun mencetak lebih banyak komunikator sains sebagai jembatan ilmuwan dengan awam juga perlu terus dilakukan.

Namun, semua itu membutuhkan kesabaran dan upaya berkelanjutan. Meski prosesnya panjang dan sulit, pasti akan memberikan pengaruh positif dalam membangun pola pikir ilmiah masyarakat dan membumikan sains. Karena sekeras apa pun batu, dia tetap akan berlubang jika mendapat tetesan air yang berlangsung lama.

 

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Harian Kompas
Muchamad Zaid Wahyudi

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.