Opini

no image

Capaian Pendidikan Tak Ditentukan oleh UN

08 January 2020
Oleh : Satryo S. Brodjonegoro
Unduh PDF


Artikel ini pertama kali diretbitkan di Harian Kompas

Pendidikan adalah proses pemberdayaan yang bernilai tambah yang memampukan individu untuk berkarya mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Keutamaan individu dalam proses pendidikan akan sangat menentukan efektivitas dan keberhasilannya. Yang paling mengetahui dan merasakan keberhasilan dad pendidikan adalah individu peserta didik, bukan pendidiknya, apalagi pengelolanya. 

Dengan pemahaman di atas, pendidikan tidak dapat diterapkan seeara masif karena akan mengehilangkan faktor individu yang justru menjadi faktor utama. Pendidikanyang masif cenderung memarjinalkan peran peserta didik dan lebih mengedepankan peran pengelola dan pendidik, artinya tidak sesuai  dengan makna pendidikan yang  sesungguhnya. 

Masifikasi pendidikan dijadikan dalih karena jumlah peserta didik yang sangat banyak sehingga penilaian yang dilakukan bersifat administratif bukan substantif.  Indonesia adalah negara dengan tingkat keberagaman paling kompleks didunia dan keberagaman adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari. Dengan demikian, keberagaman harus dirawat, dirajut, diperkuat, dan dikokohkan melalui pendidikan.

Hanya pendidikanlah yang berpeluang menjadikan keberagaman suatu kekuatan yang mampu menjadikan negara maju dan berdaulat, Hakikat pendidikan sejatinya membekali peserta didik kemampuan berpikir kritis dan analitis yang sudah harus dimulai sejak dini sejak pendidikan dasar. Tentu saja kemampuan itu harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan pisikologis peserta didik sesuai tingkat kematangan individu.

 Belum mampu 

Pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu membentuk kemampuan berpikir individu dan belum memembuhkan kebutuhan belajar individu. Strategi untuk perubahan pendidikan harus dilakukan dengan perubahan pola pikir para pelaku pendidikan, di mana para pendidik seyogianya mampu membelajarkan para peserta didik bukan sekedar mengajari dan melatih mereka. Membelajarkan peserta didik jauh lebih sulit daripada sekadar mengajari dan melatih mereka karena harus bersifat individual, tidak dapat dilakukan secara masif dan penuh dengan variasi keberagaman. 

Paradigma lama pendidikan yang mengutamakan kepatuhan dan ketaatan harus diubah dengan paradigma baru yang memampukan berpikir dan belajar sepanjang hayat, Perubahan ini harus didukung oleh kemauan politik pemerintah diawali dengan penghapusan ujian  nasional (UN) karena UN jelas bertentangan dengan hakikat pendidikan. 


Satryo Soemantri Brodjonegoro, 
Dirjen Dikti (1999-2007); Guru Besar Emeritus ITB; Ketua AIPI, Konsil Kedokteran Indonesia.

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.