Opini

no image

PANGAN HARUS AMAN

12 October 2019
Oleh : Purwiyatno Hariyadi
Unduh PDF


Artikel ini pertama kali diterbitkan di Republika

Sejak 1979, dunia mendeklarasikan Hari Pangan Sedunia (HPS) dan memperingatinya setiap 16 Oktober. HPS dideklarasikan dan diperingati untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya masalah pangan.
 
Selain itu, memperkuat solidaritas dalam perjnangan melawan kelaparan dan kekurangan gizi. Namun, kesadaran mengenai arti penting pangan biasanya lebih menekankan pada aspek kecukupannya. 

Aspek kualitas, terutama keamanan pangan belum mendapatkan perhatian, Padahal, keamanan pangan merupakan aspek penting bahkan prasyarat dalam pencapaian tujuan Sustainable Development Goals. 

Pangan tak aman akan menyebabkan penyakit dan kekuragan gizi, terutama jika dikonsumsi golongan rentan, seperti ibu mengandung, bayi anak kecil, orang tua, dan orang sakit. Bahkan, pangan tak aman bisa juga menyebabkan kematian. 

Organisasi Kesehahm Dunia (WHO) menyatakan, keamanan pangan merupakan salah atu penyebab kematian, Perkiraan WHO, pangan tak aman menyebabkan satu dari 10 orans jatuh sakit dan 420 ribu di antaranya meninggal setiap tahunnya. 

WHO juga menekankan, anak balita berisiko sangat tinggi. Setiap tahunnya, terdapat 125 ribu anak meninggal akibat pangan tak aman. Data lain yang berasal dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS menyebutkan, pangan tak aman mengakibatkan kematian hingga 5.000 orang. 

Di Indonesia, menurut laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM, 2015) selama periode 2009-2013, hanya dari kasus kejadian luar biasa keracunan pangan telah menyebabkan 2.500 orang meninggal dunia setiap tahunnya.
 
Ekonomi keamanan pangan 
Permasalahan pangan tak aman juga mengakibatkan beban ekonomi serius, berupa biaya dan kerugian yang bams ditanggung konsumen, industri, dan pemerintah CDC menyatakan, pangan tak aman setiap tahun menyebabkan 76 juta kasus sakit. 

Sekitar 325 ribu orang dirawat di RS dan menelan biaya sekitar 7,7 miliar hingga 23 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 100 triliun hingga Rp 299 triliun. Ini antara lain akibat cemaran Salmonella pada produk kacang olahan (2009) sebesar 70 juta dolar AS.

Cemaran Salmonella pada tomat (2008) 250 juta dolar, cemaranbakteri E Coli pada bayam (2006) 350 juta. dolar. Di Indonesia, BPOM melaporkan (2016) hanya dari kasus KLB keracunan pangan kerugian ekonomi meneapai sekitar Rp 2,9 triliun per tahun. 

Dalam perdagangan global, pangan tak aman akan ditolak importir dan menjadi beban ekonomi bagi pengekspor. Komoditas pala Indonesia, misalnya, mempunyai risiko tercemar mikotoksin sehingga berpotensi mengalami penolakan ekspor. 

Dewan Rempah Indonesia menyatakan, potensi kerugiannya bisa mencapai 3,58 juta dolar AS . Komoditas ekspor Indonesia lainnya yang berpotensi ditolak karena alasan keamanan pangan, antara lain, produk perikanan, udang, dan sawit.

Arti strategis keamanan pangan juga berimplikasi pada kualitas SDM dan daya saing bangsa, Keamanan pangan akan mengurangi frekuensi sakit, biaya medis, dan biaya sosial. Dalam jangka panjang, ini akan meningkatkan produktivitas kerja SDM.
 
Bahkan, konsumsi pangan tak aman yang terjadi pada bayi dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu sejak terbentukuya janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, memiliki konsekuensi jangka panjang.

Asupan pangan tak aman bisa menyebabkan bayi stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting juga menghambat perkembangan kognitif dan motorik. 

Keamanan panganjasmani dan rohani 
Pengertian keamanan pangan, diuraikan dan ditetapkan dalam UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012. UU ini menyatakan, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dan kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. 

Jadi, UU Pangan mempersyaratkan, produk pangan harus aman secara jasmnni (tidak mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia) dan secara rohani (tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat). 

Keamanan pangan secara jasmani atau secara fisiologis adalah rasa aman yang diperoleh konsumen karena produk pangan yang dikonsumsinya tidak tercemar bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. 

Beberapa contoh bahan berbahaya, misalnya mikroba patogen yang menyebabkan orang sakit atau keracunan, cemaran kimia yang dapat menimbulkan penyakit akut ataupun kronis, serta bahan asing yang secara fisik dapat mencelakai konsumennya. 

Keamanan pangan secara rohani (atau psikologis) ini adalah rasa aman yang secara psikologis diterima konsumen karena produk pangan yang dikonsumsinya sesuai latar belakang budaya, sosial, kepercayaan, agama, ataupun gaya hidup yang lain.

Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia yang beragama Islam, kehalalan tidak bisa ditawar-tawar, Maka itu, diterbitkan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang berlaku 17 Oktober 2019. Semua produk pangan harus dijamin halal. 

Karena itu, terkait pangan maka hal pertama dan utama adalah mengenai keamanan pangan secara jasmani dan rohani. Setiap orang, insan pangan, bisnis pangan, perlu memastikan bahwa pangan yang dikembangkan, diproduksi, dan dipasarkan hams aman.

Harus dipastikan, pangan yang dikembangkan, diproduksi, dan dipasarkan tidak akan mengganggu, merugikan, Mumembahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinah, dan budaya masyarakat. Jika tidak aman, sesungguhnya produk tersebut bukanlah pangan. 


Purwiyatno Hariyadi, 
Guru Besar Teknologi Pangan IPB, Anggota Akademi llmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.