MENUJU KTT S20, MEMACU DAN MEMICU ATASI TANTANGAN KINI DAN MASA DEPAN.

26 July 2022 | 1340 hits
2728.jpg

Siaran Pers: Presidensi G20 Indonesia

Jakarta, 25 Juli 2022. Pertemuan secara hybrid Pra-KTT S20 (Science-20) – Engagement Group G20 - akan dihelat pada 27–28 Juli 2022 di Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdeka Selatan No 11, Jakarta. Pertemuan akan dihadiri oleh seluruh negara anggota G20 yang mewakili kelompok S20 baik secara luring atau pun daring. Secara berurutan dalam waktu 5 menit, perwakilan S20 negara G20 dari Akademi Ilmu Pengetahuan dan Akademi Ilmu-ilmu Sosial, akan menyampaikan pandangan, pendapat dan berbagai usulan perbaikan terhadap draf dokumen komunike yang telah disirkulasikan sebanyak 3 putaran. Mereka semua mendapatkan hak yang sama untuk mengemukakan pemikiran-pemikirannya berbasiskan kepentingan spesifik negaranya, untuk dibahas bersama, dan akan berujung pada komunike S20 sebagai sumbangsih pemikiran warga sains S20 kepada G20.

Perhelatan ini terbuka dan dapat disaksikan oleh siapa saja secara pasif - tanpa interaksi lisan secara langsung - dapat diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, ilmuwan, cendekiawan, dan publik umum. Acara sidang-sidang berlangsung selama 2 hari dan dihelat Rabu, 27 Juli 2022 jam 14.00 – 20.00 WIB, dapat diikuti melalui tautan https://bit.ly/PreS20-D1 dengan passcode: S20D1 atau https://youtu.be/UPhkd7sFfgI; sedangkan agenda sidang-sidang hari Kamis, 28 Juli 2022 dapat disaksikan dengan berkunjung ke tautan https://bit.ly/PreS20-D2 dengan passcode: S20D2 atau https://youtu.be/QrICQNoDHCU. Pemilihan waktu sidang tersebut mempertimbangkan kesempatan waktu terbaik bagi perwakilan negara-negara yang secara geografis terletak di balik belahan dunia lainnya.

Keketuaan S20 dalam Presidensi G20 Indonesia – seperti lazimnya di negara-negara G20 – dipegang oleh ketua akademi ilmu pegetahuan negara setempat, dalam hal ini Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, yang dibantu oleh 4 co-chair, Dr. Bambang Susantono dari IKN, Dr. Mego Pinandito dari BRIN, Prof. Ali Berawi dari UI, dan Dr. Ahmad M. Saeed dari ADB. Mekanisme kerja forum S20 dalam menyusun komunike berbeda dengan pola kerja G20 seperti pada Ministrial Meeting, Deputy/Sherpa Meetings, Working Group Meetings, dan Engagement Group Meetings lainnya. S20 Indonesia menyusun konsep draf komunike S20 2022 - seperti konvensi sebelumnya - dengan berbasiskan pada kurang lebih 70% muatan konten isu-isu strategis tahun sebelumnya dan 30% konten isu-isu kekinian berasal dari kepentingan Indonesia dan dunia pada umumnya.

Usulan awal draf komunike S20 dari Indonesia itu, hingga kini telah mengalami 3 kali sirkulasi telaah oleh negara-negara anggota S20 sejak diedarkan akhir Januari 2022. Dokumen yang akan diperbincangkan dalam forum Pra-KTT nanti itu, adalah dokumen draf komunike hasil kolaborasi pendapat dan usulan yang telah melalui proses panjang. Tema besar yang diangkat mengerucut pada judul “Cara ke Depan untuk Mengatasi Tantangan Saat Ini dan yang Akan Muncul”.

Gambaran besar keinginan komunitas S20 itu dapat diringkaskan secara jelas dalam draf komunike S20 tersebut adalah ingin membawa pertimbangan saintifik menjadi dasar untuk memicu dan memacu landasan untuk mengatasi tantangan kini dan masa depan dunia.

Dalam komunike disodorkan, S20 mempromosikan rekomendasi kepada pemerintah G20 untuk berusaha mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di seluruh dunia, dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup. Berbagai rekomendasi diusulkan terkait penanganan tantangan dalam isu prioritas meliputi: (1) membangun sistem kesehatan yang tangguh; (2) meningkatkan kapasitas adaptif sistem kesehatan terhadap perubahan iklim dan sistem Kesehatan; (3) memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi multi-disiplin untuk kesiapsiagaan pandemi dan perubahan iklim; (4) menjamin bahwa masyarakat berada di pusat; dan (5)  memperkuat hubungan antara data-penelitian-kebijakan-praktik untuk perubahan iklim, kesiapsiagaan pandemi dan pemulihan ekonomi.

Para pakar dunia yang tergabung dalam S20 bersepakat bahwa, Perubahan Iklim dan Pandemi COVID-19 adalah ancaman eksistensial – nyata adanya - dengan pola penyebab interaksi yang kompleks. Keduanya mengarah pada konsekuensi yang tidak terduga dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ada kesejajaran antara skala dan cakupan dampaknya dan tanggapan yang ditimbulkannya. Oleh karenanya, memahami faktor-faktor pendorong bersama, kerentanan yang tergabungkan, dan kriteria untuk tanggapan yang efektif; akan membantu masyarakat di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi ancaman masa depan terhadap perubahan iklim dan pandemi yang tidak dapat diprediksi. Adaptasi dan mitigasi terhadap segala ancaman itu perlu dipersiapkan.

Ditengarai pula bahwa peringatan dari komunitas ilmiah tentang risiko pandemi, dunia sebagian besar tetap tidak siap untuk krisis saat ini, dan tindakan yang tidak memadai telah diambil terhadap perubahan iklim. Ada banyak alasan yang keragaman dalam penanganan pandemi di tingkat lokal. Ketahanan dan kapasitas warga negara untuk bertahan dan merespon krisis yang tidak terduga harus ditingkatkan, melalui reformasi skema dan kebijakan perlindungan sosial menjadi lebih adaptif, antisipatif, dan dapat disesuaikan. Hal ini dapat dilakukan melalui perlindungan sosial adaptif dan kebijakan adaptif. Pihak swasta maupun pemerintah perlu memberikan dukungan yang dibutuhkan. Untuk meningkatkan motivasi sektor swasta, insentif publik dan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan dapat dipercepat. Namun demikian, sistem politik dan kemampuan untuk menangani pandemi, kebijakan dan keputusan publik dengan baik sangat bergantung pada ketersediaan analisis data berbasis ilmiah.

Dalam membangun kembali perekonomian G20 pasca pandemi COVID-19, kita dituntut memiliki kemampuan dan kemauan untuk mempertimbangkan kembali jenis kegiatan ekonomi global yang kita perlukan untuk masa depan yang berkelanjutan. Transisi hijau yang dapat diterapkan dan terjangkau yang memperhatikan cara hidup dan praktik khusus atau unik untuk situasi lokal yang berbeda sangat penting untuk mengurangi perubahan iklim dan mengurangi krisis lingkungan. Kemitraan berkualitas tinggi untuk era baru pembangunan global juga harus diperkuat untuk pembangunan global yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih sehat. Pemulihan sistemik seperti itu hanya dapat berjalan jika pembuat kebijakan dipandu oleh visi, kebijakan, dan strategi yang jelas, yang melibatkan sektor publik dan swasta; meningkatkan produktivitas; berinvestasi dalam infrastruktur; mencapai net-zero emisi gas rumah kaca; mengimplementasikan Perjanjian Paris dan Agenda 2030 untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Di sektor pendidikan, re-imajinasi dan re-design untuk membangun kembali menjadi lebih baik sangat penting. Sudut pandang ini mengambil prinsip-prinsip di balik inisiatif Pendidikan Masa Depan UNESCO untuk menyoroti pentingnya mereka dalam pemulihan pasca COVID-19. Pandemi telah mengungkapkan banyak area masalah potensial dan kesenjangan peluang. Komunitas dapat meningkatkan basis pendidikan dan pengetahuan bagi generasi muda, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, dan orang-orang dari segala usia dan lapisan masyarakat. Mengatasi tantangan pendidikan harus menekankan pendekatan multidimensi, saling berhubungan, dan holistik.

KTT G20 2022 mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, dengan tujuan mengembangkan rencana aksi nyata untuk pemulihan ekonomi global yang hijau, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan setelah pandemi COVID-19. Tiga pilar topik utama G20 yang ditujukan untuk memastikan masa depan yang optimal bagi umat manusia adalah: Arsitektur Kesehatan Global, Transformasi Ekonomi Digital, dan Transisi Energi.

S20 adalah forum kerjasama multilateral yang beranggotakan 19 negara dan Uni Eropa (EU).  S20 adalah salah satu kelompok pelibatan yang berumur paling muda, berdiri sejak 2016, dibandingkan G20 yang telah berdiri sejak 1999. Forum G20 ini merupakan salah satu forum paling berpengaruh di dunia lantaran anggotanya mewakili 2/3 penduduk dunia, dan menguasai 75% perdagangan dunia dan mencakup 80 % produk domestik bruto (PDB) dunia.

S20 mendukung G20 dengan mendorong dialog resmi dengan komunitas ilmiah dan biasanya dipimpin oleh akademi ilmu pengetahuan negara tuan rumah. Tujuan inti dari grup keterlibatan S20 adalah untuk memberikan rekomendasi berbasis konsensus kepada pembuat kebijakan untuk topik yang menjadi isu kekinian dan masa depan. Rekomendasi berbasis sains ini dirumuskan melalui gugus tugas yang terdiri dari para ahli internasional. Setiap gugus tugas berfokus pada satu topik yang mencakup yang relevan bagi para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Seperti mekanisme kepemimpinan G20, S20 memiliki sekretariat bergilir tidak tetap dan beroperasi seperti forum daripada sebagai organisasi

Dalam Pra-KTT ini, setelah mendengarkan pandangan para anggota S20, akan disusun ulang naskah komunike S20 sebagai luaran kegiatan Pra-KTT S20 secara hybrid ini; menjadi sebuah komunike yang menghimpun pemikiran rencana aksi nyata global, sebagai bahan masukan untuk komunike S20 final berupa dengan mengetengahkan evident based policy berbasiskan ilmu pengetahuan, yang kelak, 20-21 September 2022 pada KTT S20 akan disodorkan ke G20 Presidensi dalam rangka ikut serta mewarnai komunike KTT G20 tahun 2022, November 2022 mendatang. Silakan mengikuti terus acara S20 Presidensi ini melalui aplikasi Zoom, YouTube dan media sosial AIPI. 

(Sigit Asmara Santa – Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.