Atma Jaya dan AIPI Rancang Strategi Pangan Masa Depan Indonesia

02 October 2019 | 18 hits
aipi02102019.jpg

Jakarta, 20 September 2019 - Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)  menyelenggarakan loka karya bertajuk “Paradigma Baru Pangan Masa Depan: Gizi, Mikrobiota, dan Pengolahan” sekaligus peluncuran pra resmi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tempe (P3T) dan Pusat Riset Rempah Nasional (PRRN) di Kampus 3 BSD, Kamis (19/09/2019).

Ketua pelaksana Dr. Ir. Rory A. Hutagalung, DEA, mengatakan, tujuan dari acara ini untuk melihat paradigm pangan yang akan terjadi kedepannya serta berdiskusi mengenaiinovasi yang akan dilakukan khususnya dalam bidang pangan.

“Mengingat Indoneisa memiliki sumber daya dibidang pangan, namun masih rendah dalam pengelolahannya. Itulah sebabnya kami mengudang beberapa narasumber yang tidak hanya pakar di bidang pangan nasional, tetapi juga pakar dalam bidang kesehatan dan kedokteran, biologi, institusi pangan, obat dan juga kebijakan tentang pangan untuk melihat perspektif pangan kedepan dari berbagai bidang,” katanya.

Senada dengan Dr.Rory, selaku perwakilan AIPI Prof. Dr. Ir Purwiyatno Hariyadi mengatakan bahwa acara diharapkan memunculkan perspektif lintas ilmu dan inovasi baru khususnya dibidang pangan Indonesia. Selain itu, dia juga memberikan apresiasi kepada Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya atas peresmian P3T dan PRRN.

“Melihat tema yang diusung kali ini, diharapkan kita dapat mengembangkan pemikiran mengenai paradigm pangan kedepannya sehingga dapat memuncul kan inovasi baru dalam bidang ini. Saya juga mengucapkan selamat atas peresmian P3T dan PRRN Unika Atma Jaya. Semoga ini dapat mendukung dalam pengembangan pengan nasional,” ujar Prof. Purwiyatno dalam sambutannya.
 
Pada sesi diskusi, loka karya ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi (FakultasTeknologi Pertanian, IPB & Komisi Ilmu Rekayasa AIPI), Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto, M.Sc. (Dekan FakultasTeknobiologi, Unika Atma Jaya), Prof. Dr. F.G. Winarno (PT Embrio Biotekindo &Komisi Ilmu Rekayasa AIPI), Prof. dr. Sultana M.H. Faradz, PhD (FakultasKedokteran, Universitas Diponegoro & Komisi Ilmu Kedokteran AIPI), Prof. dr.Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. (Lembaga BiologiMolekuler Eijkman &Komisi Ilmu Kedokteran AIPI), Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D. (Kaprodi Magister Bioteknologi,Unika Atma Jaya &Dexa Group), dan Dr. Roy Sparringa (Senior Advisor at the Agency for the Assessment and Application of Tech).

Prof. Purwiyatno menjelaskan rekayasa pangan (food engineering) telah dan terus memberikan kontribusi penting dalam inovasi proses produksi pangan, menjamin keamanan, kualitas dan gizi, serta kuantitas pangan. Namun, dengan perkembangan dan perubahan tantangan yang harus dijawab, maka perlu penyesuaian dan pengembangan konsep baru untuk lebih efektif menjawab tantangan tersebut.

“Disiplin rekayasa pangan perlu dikembangkan sebagai disiplin inti dalam proses di industry pangan; menjadi motor pendorong strategis pertumbuhan industry pangan. Tantangan yang ada, seperti keamanan pangan, kesehatan, dan lingkungan, merupakanf actor pendorong utama disiplin ilmu rekayasa pangan,” jelasnya.

Di sisilain, Prof. Antonius memaparkan bahwa konsumsi berbagai pangan lokal di Indonesia secara langsung mau pun tidak langsung terpaut dengan pro biotik atau para probiotik yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada tubuh manusia.

“Hampir semua pangan fermentasi local sangat kaya dengan probiotik atau para probiotik yang mempunyai fungsi lebih dari sekadar pelengkap nutrisi manusia. Mikro biom pangan selain memberikan kontribusi pada bio sintesis berbagai vitamin dan senyawa bio aktif unik, juga berpotensi dalam modulasi system kekebalan, supresi penyakit, kesehatan psikis, dan tingkah laku pada manusia," kata Prof. Antonius.
 
Sementara Prof. Winarno mengatakan perlu adanya inovasi baru untuk menunjang pengolahan pangan di Indonesia, salah satunya terkait madu. Menurutnya, madu merupakan pangan yang bekhasiat bagi kesehatan tubuh dan peran madu besar bagi keseimbangan mikroba dan kesehatan usus. Itu sebabnya, ia menyarankan didirikan Institut Madu Indonesia.

“Indonesia memiliki madunya sendiri / indigenous, bermututinggi, dan memiliki sifat therapeutic yang unggul. Peran madu besar bagi keseimbangan mikroba dan kesehatan usus. Karena itu perlu didirikan Institut Madu Indonesia,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat melihat para digma pangan kedepannya. Tujuan lain adalah agar para peserta menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing bagaimana merumuskan model dan implementasi pangan dengan inovasi baru yang efisien dan inklusif terkait dengan gizi dan kesehatan, layak secara bisnis dan berkelanjutan (SDGs).

 

Pembuat Artikel: mnctrijaya

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.