Kisah Profesor ITB yang Namanya Diabadikan Jadi Nama 6 Spesies Hewan

05 April 2018 | 1780 hits
FotoDok._Prof._Dr._Djoko_Tjahjono_Iskandar_ITB..jpg

"Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Kumparan (05 April 2018) dengan judul "Kisah Profesor ITB yang Namanya Diabadikan Jadi Nama 6 Spesies Hewan", oleh Utomo Priyambodo.

 

Guru Besar SITH ITB, Prof. Dr. Djoko T. Iskandar adalah Anggota AIPI dan sebagai Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, beliau ahli dalam bidang herpetologi dunia.

Ketika suatu spesies baru ditemukan, maka para peneliti yang menemukan spesies tersebut memiliki hak untuk memberikan nama spesies tersebut. Nama pemberian itu kemudian akan dijadikan nama ilmiah resmi dari spesies baru tersebut.

Tak jarang, para peneliti mendedikasikan nama seseorang yang mereka anggap berjasa di bidang-bidang tertentu untuk dijadikan nama spesies baru yang ditemukan tersebut.

Penghargaan seperti inilah yang pernah diterima oleh Prof. Dr. Djoko Tjahjono Iskandar, ahli herpetologi dunia sekaligus guru besar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). 

Tercatat, sejumlah peneliti dunia pernah mengabadikan nama Djoko Iskandar sebagai nama enam spesies reptil dan amfibi, antara lain ular Djokoiskandarus annulatus, katak Polypedates iskandari, kadal Draco iskandari, katak Fejervarya iskandari, tokek Luperosaurus iskandari, dan Collocasiomya iskandari

Mereka menjadikan nama Djoko Iskandar sebagai nama enam spesies hewan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam dunia herpetologi. Herpetologi merupakan cabang ilmu zoologi yang mempelajari reptil dan amfibi.

Nama Djoko Iskandar sendiri telah mendunia sejak ia giat melakukan penelitian terhadap katak-katak yang ada di Indonesia. Selain meneliti katak yang membuat namanya mendunia, profesor ITB kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950 ini, juga menggeluti penelitian hewan lainnya seperti cicak dan ular. 

Namun begitu, Djoko mengaku lebih tertarik dalam mempelajari katak dikarenakan sebaran spesiesnya yang beragam. Sebagai contoh, untuk 1.500 ekor ular setelah diteliti hanya ditemukan 5 spesies yang berbeda, sedangkan untuk katak dapat ditemukan hingga 40 spesies berbeda.

 

Kekurangan Uang Membuat Djoko Memilih Meneliti Katak

Ketertarikan Prof. Djoko terhadap katak berawal dari pulangnya dirinya ke tanah air setelah menyelesaikan studi magister dan doktoral di Université des Sciences et Techniques du Languedoc, Montpellier, Prancis. Djoko pulang dalam kondisi kekurangan uang.

“Saya tidak mampu membeli peralatan untuk meneliti tikus karena harga perangkap yang mahal, sedangkan untuk mengobservasi katak saya hanya perlu tangan dan senter,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung SITH ITB, Rabu (28/03), dilansir laman ITB.

Pada awal penelitiannya sekitar tahun 1976 itu, Djoko juga merasa kekurangan informasi karena bekal ilmu dalam mempelajari katak yang ia miliki sangatlah minim sehingga membuat dirinya perlu mencari berbagai literatur tentang katak. Mirisnya, sejak setelah kemerdekaan Indonesia hingga tahun 1976, hanya ada 5 jurnal ilmiah dalam negeri yang membahas tentang eksistensi spesies katak. 

Hal inilah yang kemudian membangkitkan semangat Djoko untuk meneliti katak dan mempublikasikan jurnal ilmiah sebanyak-banyaknya untuk menunjukkan kepada dunia tentang keanekaragaman katak di Indonesia.

Pada 1977, Djoko melakukan ekspedisi ke Kalimantan Tengah dan berhasil menemukan katak tanpa paru-paru. Padahal biasanya katak dewasa bernapas dengan menggunakan selaput rongga mulut, paru-paru, dan kulit sehingga bisa hidup di air maupun di darat.

Djoko saat itu curiga ada yang unik pada katak tersebut karena ketika ditempatkan dalam wadah, keesokan harinya katak itu mati meski tanpa mengalami kontak dengan manusia. Akhirnya setelah bersusah payah menemukan katak dengan spesies yang sama dan kemudian menelitinya dengan penuh kehati-hatian, terungkaplah bahwa katak tersebut memang tidak memiliki paru-paru. 

Setelah mengkonfirmasi hal ini melalui penelitiannya, Djoko kemudian mengabarkan temuannya ini kepada rekannya di Chicago, Amerika Serikat. Fenomena ini membuat publik Amerika tercengang. Penemuan Djoko terhadap Barbourula kalimantanensis, yang masuk famili Discoglossidae ini kemudian menjadi momentum awal kariernya menjadi seorang herpetologis yang dikenal dunia.

Sudah banyak ekspedisi dilakukan Djoko selama 40 tahun kariernya sebagai herpetologis. Ia mengaku telah menjelajah hutan belantara di 32 provinsi di Indonesia serta di luar negeri seperti Inggris, Amerika, dan Kamboja. Walaupun melakukan ekspedisi keluar negeri, ia mengaku bahwa yang ditelitinya tetaplah organisme yang memiliki kekerabatan dekat dengan Indonesia.

“Indonesia sangat kaya biodiversitas (keanekaragaman hayati). Jika seandainya saya lahir 3 kali pun, belum tentu tuntas mengobservasi seluruh kekayaan hayati khususnya reptil,” tutur Djoko. 

Hingga saat ini tercatat lebih dari 100 spesies reptil yang berhasil ditemukan atas kontribusi Djoko sebagai herpetologis. Ia masih ingat betul pengalaman-pengalaman menarik hingga menegangkan yang pernah ia rasakan selama melakukan observasi di lapangan. 

“Kalau ekspedisi di hutan Jawa itu angker, Sumatera disapa erangan harimau, Kalimantan spesies reptil sedikit, Sulawesi dan Papua memiliki keanekaragaman tinggi namun resiko malaria juga tinggi,” kenangnya.

Tak cuma itu, saat melakukan ekspedisi ke wilayah Sulawesi pada tahun 2000 ia juga pernah mengalami kendala oleh konflik di Poso. “Kalau malam-malam ban mobil ditusuk, kita bingung nggak ada bengkel terdekat, bahkan di beberapa wilayah sering disangka sebagai orang kaya gila ngabisin duit cuma buat keluar masuk hutan, makanya sering dimanfaatkan,” tuturnya.

 

Jadi Tuan di Daerah Tak Bertuan

Kepiawaiannya melihat peluang telah mengantarkannya menjadi herpetologis yang dipercaya dunia. Katak yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap sebagai hewan yang menjijikkan, dalam sudut pandangnya justru adalah hewan yang istimewa. 

Penerima penghargaan Habibie Award 2005 di bidang sains ini mengatakan, mempelajari katak dapat mengungkapkan misteri yang tersembunyi. "Katak dapat mewakili kondisi lingkungan habitatnya, keselarasan proses biologi dengan geologi serta mampu memberikan prediksi kondisi geologi dimasa lalu, semisal di wilayah Sulawesi ditemukan 7 spesies katak yang berbeda namun memiliki kekerabatan yang dekat," terangnya. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa di masa lalu Pulau Sulawesi merupakan tujuh pulau terpisah yang akhirnya bergabung dan menurut beberapa literatur hal ini dikonfirmasi benar. Selain itu, dapat diprediksi pula kapan waktu terjadinya penggabungan pulau tersebut dengan melihat pola evolusi katak-katak tersebut.

Djoko berpesan kepada para peneliti Indonesia lainnya agar bisa menjadi tuan di daerah bertuan. “Jadilah tuan di daerah bertuan. Ingat, perlakukan objek yang kalian teliti seperti bayi. Rawat, dedikasi, dan kontrol,” sarannya. 

Jadi tuan di daerah tak bertuan yang dikatakan Djoko memiliki makna agar menjadikan objek penelitian pada lingkup kajian yang belum diteliti atau bahkan tak terpikirkan oleh orang lain. Misalnya adalah dengan menemukan antibiotik alami dengan mempelajari zat pertahanan tiap spesies katak, mempelajari gerakan stereoskopik mata katak untuk mengembangkan alat pengintai, dan hal-hal lainnya. 

Setelah menemukan objek yang ingin diteliti, Djoko memberi tips agar setiap peneliti senantiasa bersikap konsisten, jangan cepat puas, dan konseptual. 

"Konsisten berarti harus gigih untuk terus melakukan observasi dan analisis, jangan hanya mencoba 5 sampling sebagai data informasi, lakukan sebanyak-banyaknya sampling agar data semakin akurat dan konseptual yang bermaksud baca banyak literatur untuk memperkuat analisis, perbanyak hasil diskusi untuk memperkecil peluang peneliti lain mengkaji hal-hal yang tidak disebutkan dalam jurnal yang kalian terbitkan," paparnya. 

Wilayah Indonesia sendiri sebenarnya sangatlah berpotensi untuk menjadi tempat penelitian. Diapit oleh dua benua (Asia dan Australia), dua samudra (Hindia dan Pasifik), dan dua sirkum (Mediterania dan Pasifik), Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat biodiversitas yang tinggi. Tercatat, lebih dari 10 persen spesies dunia hidup di Indonesia.

Sedikitnya, Indonesia memiliki 25.000 spesies tumbuhan berbunga, 1.592 spesies burung, 515 spesies mamalia, 35 spesies primata, 781 jenis reptil, dan 270 spesies amfibi.

 

 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.