DISKUSI TERPUMPUN AIPI: KERENTANAN DAN KETANGGUHAN BUDAYA DI ERA DIGITAL

20 August 2022 | 733 hits
kk23082022.jpg

Siaran Pers AIPI

Jakarta, 20 Agustus 2022. Tak dapat dipungkiri lagi, era digital telah melanda seluruh pelosok jagat dunia dewasa ini. Transformasi digital yang terjadi, telah dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19 yang mengungkung kehidupan kita secara lebih terbatas. Hal ini menuntut komunikasi dan interaksi antar manusia dan masyarakat berubah drastis dengan menggunakan sistem-sistem digital yang berkembang cepat. Disrupsi melanda disemua aspek kehidupan, tak terkecuali pada budaya masyarakat Indonesia, yang dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman budaya yang sangat tinggi. Rekam jejak arkeologis membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah lintas budaya yang panjang.

Keragaman budaya Indonesia sebagai suatu bangsa dan dinamika persilangan budaya yang terjadi, di satu sisi, telah menampakkan ketangguhannya. Nilai-nilai lokal yang menekankan keguyuban, praktik untuk membangun musyawarah bersama dan semangat gotong royong ikut memperkuat kebersamaan masyarakat  bangsa.

Namun, di sisi lain, akhir-akhir ini rajutan budaya sebagai satu bangsa itu tergoyahkan oleh berbagai gesekan dan masalah. Keragaman menjadi liabilitas ketika diikuti oleh kesenjangan multi-dimensi; dari pendidikan sampai akses terhadap teknologi dan sarana-prasarana. Potensi kerentanan meruncing, tatkala keragaman budaya direduksi menjadi politik identitas yang  dimainkan untuk kepentingan kuasa. Hiruk-pikuk sosial media dalam transformasi digital menghancurkan nalar khalayak - yang cenderung berpegang pada keyakinan diri sendiri tanpa perlu menguji kebenaran sebagai fenomena pasca-kebenaran.

Lompatan dari era digital 4.0 - yang belum tuntas - ke era masyarakat 5.0 telah menjadikan masyarakat semakin terpapar arus deras informasi lokal-global melalui berbagai platform media sosial dan teknologi informasi. Transformasi digital deras menerjang masyarakat, bahkan sebelum terbangun literasi kritis agar selamat mengarungi  dunia yang kini dicirikan oleh kompleksitas, ketersambungan, dan globalitas.

Menimbang kompleksitas permasalahan budaya dan kesiapan masyarakat dalam memasuki era digital yang diwarnai dengan konektivitas dan globalitas, mendorong Komisi Kebudayaan – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (KK-AIPI) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya - UI (FIB-UI) bekerjasama menyelenggarakan Diskusi Terpumpun (FGD) dalam bentuk webinar untuk mengurai masalah Kerentanan dan Ketangguhan Budaya. Sasarannya adalah terwujudnya peta jalan strategi penguatan ketangguhan budaya, mencakup pemetaan kerentanan budaya secara umum dan berdasarkan studi kasus untuk menggali potensi ketangguhan budaya untuk mengatasi kesenjangan antar kolektiva sosial budaya dan untuk membangun kohesi sosial; strategi pengembangan kompetensi kewargaan (termasuk tata nilai, wawasan budaya, etika, etos, literasi kritis) yang menguatkan basis karakter dan kompetensi untuk memasuki era global lintas-batas; menggali potensi alih nilai lintas generasi dan identitas kebangsaan dalam proses transformasi digital dan arus budaya lintas-batas.; menelisik strategi penguatan pranata budaya yang ada, dan penciptaan pranata budaya baru dalam menghadapi transformasi lingkungan alam, sosial dan budaya.

Diskusi Terpumpun (FGD) ini akan dihelat pada Selasa, 23 Agustus 2022, pukul 14.00-16.30 WIB, melalui aplikasi Zoom dengan Meeting ID: 853 8756 6585 dan Passcode FGDKKAIPI, dan disiarkan juga melalui kanal Youtube melalui tautan https:/bit.ly//fgdkkaipi. Webinar terbuka untuk umum, para akademisi, praktisis, pembuat kebijakan, mahasiswa dan pemangku kepentingan lainnya.

Webinar Terpumpun ini tersusun atas tiga sesi.  Diawali dengan sambutan Pembukaan dan Sambutan Pengantar. Selanjutnya akan digelar tiga sesi diskusi berturutan meliputi Sesi 1 - Pemantik Diskusi, Sesi 2 -Pembahasan Kasus; dan dilanjutkan dengan Sesi 3 - Diskusi Interaktif. 

Pada Sesi 1 – Pemantik Diskusi, akan menghadirkan 3 orang Pembicara

  1. Amrih Widodo, Ph.D., dari Australian National University (ANU) membahas topik bertajuk “Kewarganegaraan Budaya dan Tanggung Jawab Kewargaan”. Amrih akan membahas masalah budaya paling mendasar yang dihadapi masyarakat Indonesia – dari berbagai tataran kolektif  sampai ke tataran negara bangsa - dalam mengarungi transformasi di era digital. Bagaimana peluang mengisi kekosongan tata-nilai yang membangun perilaku keseharian dan tanggung jawab kewargaan, dan membeberkan berbagai potensi dalam mengangkat pranata budaya lokal menjadi praktik trans-lokal untuk memperkuat ketangguhan budaya di era yang terkoneksi tanpa batas sekat
  2. Yudi Latief, Ph.D., anggota Komisi Kebudayaan AIPI mengusung tema “Ideologi Negara dan Ketangguhan Budaya”. Secara rinci akan mengemukakan masalah seputar bagaimanan membumikan ideologi negara yang dapat    membangun ketangguhan budaya warga, membeberkan etos dan etika kewargaan yang diperlukan untuk mengokohkan  basis karakter, daya juang dan kohesi social, serta membahas ranah peradaban apa saja dan bagaimana yang harus ditegakkan agar Indonesia dapat mengarungi tantangan di era digital.
  3. Prof. Azyumardi Azra, Ph.D., anggota Komisi Kebudayaan AIPI yang dikenal sebagai  kolumnis yang tulisannya banyak menghiasi media masa di Indonesia dan sekarang juga sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia, akan memnyampaikan tema  berjudul “Agama dan Solidaritas Lintas Batas” . Azyumardi Azra akan membahas peran peran agama sebagai pengisi tata-nilai dalam membangun keadaban, menguraikan potensi kerentanan jika agama dipakai sebagai politik identitas untuk kepentingan kekuasaan dan untuk meliyankan yang berbeda berbasis dogma, dan mengupas potensi agama untuk membangun solidaritas lintas-batas dan kohesi dan mengatasi kesenjangan

 

Sesi 2 merupakan Pembahasan Kasus dengan menampilkan 4 orang pembicara yaitu:

  1. Annisa R. Beta, Ph.D. dari University of Melbourne yang akan menyampaikan tema bahasan kasus  “Kaum Muda, Aktivisme Digital, dan Pedagogi Publik”. Annisa akan menyampaikan temuannya terkait dengan kerentanan dan ketangguhan kaum muda di ruang digital masa kini sebagai lokasi dan kesempatan untuk berpendapat, berdebat, dan membentuk identitas sosial. Annisa akan juga menelisik bagaimana pembentukan identitas kaum muda yang dimediasi media digital dapat menghasilkan identifikasi yang dapat dianggap konservatif maupun progresif. Mereka merefleksikan potensi dunia digital sebagai alat pedagogi publik yang dapat mengembangkan kompetensi dan pengetahuan kaum muda Indonesia.
  2. Mokh. Sobirin, M.Si. dari Jaringan Kelompok Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPG) akan membawakan temuan kajiannya berjudul “Dari Samin untuk Indonesia. Shobarin akan menguraikan temuannya bagaimana komunitas Samin mengarungi berbagai proses peliyanan dan peminggiran melalui berbagai siasat perlawanan, dengan tetap konsisten berpegang pada tata-nilai dan budaya yang egaliter, humanis dan jujur; membahas bagaimana komunitas Samin membangun kolaborasi lintas batas dalam menghadapi perusakan habitat yang menjadi basis penghidupan dan landasan jati diri mereka; bagaimana potensi kerentanan dan sekaligus juga agensi yang dihadapi komunitas Samin dalam menghadapi transformasi teknologi dan kebutuhan membangun kompetensi literasi, khususnya dalam peralihan generasi; dan merefleksikan bagaimana pengalaman dan tata-nilai komuntas Samin dapat disumbangkan untuk penguatan karakter dan etika kewargaan masyarakat Indonesia.
  3. Reza Idria, Ph.D. dosen UIN Ar-raniry, Banda Aceh ini akan mengusung tema  “Meretas Luka Budaya dan Memori Kolektif Pasca Konflik. Reza akan menguraikan bagaimana luka budaya pasca-konflik, jika tidak diarifi dan luput dijadikan landasan membangun kebijakan budaya yang damai, berpotensi menjadi kerentanan di wilayah seperti Aceh; membahas bagaimana ruang-ruang memori kolektif di Aceh – melalui pendidikan dan gerakan masyarakat - menjadi potensi empati lintas batas, atau sebaliknya, jika pola kekerasan Negara terus berulang, berpotensi menguatkan ingatan yang membelah; dan selanjutnya merefleksikan bagaimana tatanan nilai-budaya Aceh dan memori kolektif yang panjang sejak era pra-kemerdekaan memberi peluang untuk membangun identitas budaya Aceh yang kohesif.
  4. Lian Gogali, S.Si., M. Hum dari Institut Mosintuwu, Poso membawakan bahasan kajian kasus berjudul “Merebut Kembali Pranata Budaya yang Dihilangkan.” Gogali akan menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana sistem yang dibangun pasca-konflik di Poso menghilangan pranata budaya lokal yang pernah ada melalui pembangunan yang berorientasi fisik dan orientasi pada pencapaian materi; membahas upaya aktifisme warga melalui pendidikan kritis untuk membongkar sistem dominasi melalui bahasa dan simbol, menggali ulang bahasa dan pranata budaya yang dihilangkan; menunjukkan upaya merebut kembali dan mereka ulang bahasa dan pranata budaya lokal yang membangun solidaritas dan keguyuban dan berorientasi pada keadaban dalam praktik sehari-hari di desa; dan menunjukkan bagaimana agensi perempuan dibangkitkan untuk membangun ketangguhan komunitas desa dan merajut solidaritas lintas batas.

Selanjutnya dalam sesi Diskusi Interaktif dengan para peserta, penyelenggara webinar (K0misi Kebudayaan – AIPI) akan menginventarisir isu-isu kerentanan budaya apa saja yang perlu segera mendapat perhatian dalam konteks, kasus, atau wilayah yang teramati. Disamping itu akan pula dipetakan potensi ketangguhan budaya apa saja yang masih memerlukan penguatan, dan apa saja strategi dan pendekatan yang perlu diambil untuk mengubah kerentanan menjadi ketangguhan budaya.

Seluruh rangkaian acara webinar akan dimoderatori oleh Prof. Melani Budianta -Anggota Komisi Kebudayaan AIPI - yang sekaligus akan merangkum butir-butir pokok hasil webinar dan menindaklanjutinya.  Webinar akan dibuka langsung oleh Ketua AIPI, Prof. Satryo Sumantri Brodjonegoro,  dan  Sambutan Pengantar oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Dr. Bondan Kanumoyoso, M. Hum., S. Kom., serta Sambutan Penutup oleh Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, Prof. Amin Abdullah.  

Pembaca Budiman. Silakan mengikuti acara ini melalui aplikasi dan sosial media AIPI yang disediakan. Peserta yang mendaftarkan diri akan mendapat e-Sertifikat secara gratis.

 

(Sigit Asmara Santa – Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.