Herawati Sudoyo: Penelitian adalah Panggilan, Bukan Pekerjaan

25 April 2018 | 2074 hits
herawatisudoyo.png

Seri Dedikasi dan Pengabdian Perempuan Peneliti I

 

Jakarta, (Berita AIPI)- Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional, kami akan mempublikasikan profil ilmuwan-ilmuwan perempuan yang menjadi anggota AIPI. Dalam tulisan pertama ini kami mengangkat profil Prof. Herawati Sudoyo, ilmuwan bidang biologi molekuler yang kini menjadi Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI.

Herawati Sudoyo telah lama berkarir di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan kini menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental. Kiprahnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan mengantarkannya mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk Habibie Award pada 2008. 

Namanya semakin dikenal setelah berperan penting dalam mengungkap identitas pelaku bom Kedutaan Australia pada 2004 melalui analisis DNA bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Saat ini Herawati Sudoyo terus mendalami penelitian genetik, yang dapat menjelaskan asal usul manusia Indonesia, bahkan dunia.

Berikut petikan wawancara kami dengan Prof. Herawati Sudoyo

T: Apa yang membuat Anda memilih menjadi peneliti, dan tidak menjadi klinisi setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia?

J: Ya, mengapa saya tidak menjadi klinisi, dokter spesialis anak, kandungan, penyakit dalam atau bedah?  Empat bidang besar yang menjadi favorit teman-teman seangkatan saya pada waktu itu.  Saat lulus dari FKUI saya sudah memiliki satu anak, sehingga merasa bahwa mungkin yang paling cocok untuk saya adalah menjadi staf pengajar jurusan preklinik, yang memungkinkan saya memiliki banyak waktu untuk anak-anak kelak.

Saya kemudian diterima menjadi staf bagian Biologi Kedokteran FKUI, yang kebetulan memiliki banyak staf pengajar dan giat melakukan penelitian. Tetapi saya menyadari juga bahwa karir dalam bidang preklinik akan berbeda dengan bidang klinik.  Jenjang akademik yang harus saya kembangkan dan jalani adalah melalui bidang penelitian.  Itulah titik tolak hidup saya sampai sekarang–pengembangan diri sendiri, learning by doing.

T: Ada alasan tersendiri yang membuat Anda jatuh cinta dengan bidang biologi molekuler?

J: Saya memilih bidang biologi molekuler karena bidang tersebut kompetitif, banyak teknologi baru dikembangkan untuk mendukung penelitiannya. Selain itu, saya memang diberikan kesempatan untuk mengambil bidang tersebut. 

Di luar negeri, lebih banyak laki-laki yang bekerja di laboratorium kompetitif karena waktu kerja yang tidak terbatas. Selain itu kami juga dituntut untuk mendapat hasil secepatnya.  Jadi boleh dibilang, pada zaman itu saya memasuki dunia laki-laki. Nyatanya, saya memang senang bekerja di laboratorium.  Kerja outdoor seperti kerja lapangan di tempat-tempat terisolasi dengan sarana dan prasarana minim merupakan tantangan dan sebenarnya bagian dari kerja di laboratorium. Ada variasi, sehingga kita dapat menghayati apa yang kita teliti.

T: Apa pencapaian terbaik Anda sebagai ilmuwan?

J: Sebagai peneliti yang bergerak dalam bidang penelitian fundamental, tujuan utama kami tentu saja menerbitkan hasil studi dalam jurnal ilmiah internasional.  Bisa diterima dalam jurnal ilmiah bergengsi seperti Nature atau Science merupakan salah satu pencapaian terbaik, tentunya.

Namun sebagai seorang peneliti senior, kini tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat peneliti muda yang dulu bekerja di bawah bimbingan saya berkembang dan sukses. Terlebih saat anak didik kita dapat menularluaskan budaya ilmiah yang dipelajarinya.

T: Apa dampak penelitian yang telah dilakukan, yang menurut Anda paling signifikan?

J: Orang sering kali menanyakan apa hasil atau produk dari penelitian kami. Apakah ada yang sudah dipasarkan? Masih banyak yang belum memahami bahwa ada penelitian fundamental yang meneliti tentang patomekanisme atau penyebab kita sakit. Banyak pula yang pun tidak mengerti mengapa kami harus cukup puas dengan adanya terbitan jurnal. Untunglah ada dua peristiwa penting yang menurut saya mengubah pandangan masyarakat.

Pertama, kasus terorisme berupa bom bunuh diri Bali dan bom di depan Kedutaan Australia pada 2004.  Hanya dalam tempo 13 hari, pemeriksaan DNA pada berbagai sampel yang diperoleh dari daerah sekitar pemboman dapat mengungkap identitas pelaku. Dengan begitu Polri dapat segera menindak kelompok yang bertanggung jawab. 

Bagaimana kami dapat melakukannya dalam waktu singkat?  Hal itu dimungkinkan karena laboratorium kami memiliki kepakaran dalam studi populasi menggunakan marka DNA mitokondria. DNA ini memiliki keistimewaan karena jumlahnya banyak sehingga masih ada kemungkinan mendapatkan potongan DNA meskipun jaringan telah terbakar hebat.

Kedua, hasil penelitian kami turut meluruskan isu pribumi/Indonesia asli dan non pribumi.  Karena telah melakukan studi pada populasi etnik di kepulauan Nusantara secara menyeluruh, kami dapat menganalisa struktur populasi yang memperlihatkan kelompok populasi Indonesia barat, Indonesia tengah sebagai daerah Wallacea, dan Indonesia timur.  Tidak hanya itu, studi tersebut juga dapat menggambarkan pengaruh setidaknya empat gelombang migrasi yang mempengaruhi latar belakang genetik.  Teknologi genomik terkini bahkan bisa memperlihatkan dengan jelas jejak campuran beberapa gelombang migrasi pada tiap individu.  Dengan kata lain, sulit dibuktikan adanya orang Indonesia “asli”.

T: Siapa tokoh yang menginspirasi Anda untuk menjadi ilmuwan?

J: Sayangnya dulu Indonesia belum memiliki sosok panutan perempuan peneliti yang dapat diandalkan. Oleh karena itu saya tidak memiliki panutan dari dalam negeri dan mencoba mengetahui kehidupan dan perjuangan perempuan peneliti dari berbagai literatur.    

Dalam bidang biologi molekul, tidak dapat dipungkir bahwa saya terbentuk karena guru saya, Profesor Sangkot Marzuki, yang saya jadikan panutan.  Beliau memimpin laboratorium di Universitas Monash yang terpandang dan sangat kompetitif, serta telah banyak meluluskan doktor orang Australia.  Saya adalah lulusan pertama dari tiga murid Indonesia yang diterima bekerja di laboratoriumnya.  Budaya ilmiah, etos kerja sebagai ilmuwan, kemampuan untuk trouble shooting dan kesiapan berkompetisi, semua didapatkan di bawah bimbingan beliau. Itulah yang membentuk saya seperti saat ini.

T: Adakah pengalaman yang dapat dibagi dengan para pembaca tentang menyeimbangkan karier profesional dan keluarga?

J: Berkarya sambil tetap menyeimbangkan perhatian untuk keluarga sangat mungkin dilakukan. Terlebih di zaman modern ini ketika laki-laki dan perempuan

memiliki kesempatan sama untuk berkarya dan berbagi dalam tanggung jawab

kehidupan keluarga.

Selagi menyelesaikan PhD, kedua anak tinggal bersama saya di Melbourne.  Jadi saya untuk sementara bisa disebut menjadi single mother merangkap supir, sembari menjadi  mahasiswa.  Berat? Tentu, tapi itu sesuai dengan ungkapan sengsara membawa nikmat. Sekarang saya sudah mengantarkan mereka ke jenjang Master (S2) di Amerika dan Australia.

T: Terakhir, adakah pesan untuk perempuan Indonesia, baik secara umum maupun untuk yang ingin menjadi ilmuwan?

J: Saat ini partisipasi perempuan Indonesia dalam sains sudah cukup banyak. Tapi perlu diingat bahwa komitmen untuk penelitian itu bukan hanya sesaat tetapi berkesinambungan.  Kita sebenarnya perlu panutan sehingga generasi muda akan tertarik untuk tetap menggeluti berbagai bidang penelitian. Perlu juga digaris bawahi bahwa dalam sains, penelitian itu adalah panggilan dan bukan pekerjaan. 

 

 

Pembuat artikel : Anggrita D. Cahyaningtyas

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.