Webinar “Rehabilitasi Kawasan Pesisir untuk Pembangunan Rendah Karbon”

28 March 2022 | 1542 hits
AIPI_CIFOR.jpg

Siaran Pers, Jakarta, 28 Maret 2022, Kawasan pesisir Pekalongan, Tosale - Kabupaten Donggala, Tambakrejo - Semarang Utara, dan Sayung – Kabupaten Demak, setidaknya sedikit contoh ekstrem dari banyak wilayah kawasan pesisir di Indonesia yang terkena abrasi sebagai  dampak krisis iklim. Banyak faktor pemicu bencana hidrometeorologi itu, antara lain faktor kenaikan muka air laut, penyusutan garis pantai dan penurunan tanah –sebagaimana dilansir oleh peneliti Universiteit Amsterdam, Bosman Batubara, yang meneliti pesisir kawasan Sayung.

Kesadaran masyarakat, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan pemangku kepentingan lainnya terhadap upaya secara bersama memitigasi dampak perubahan iklim yang ditimbulkan akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) ini, telah banyak dilakukan. Namun, belum memberikan resultante hasil yang menggembirakan. Gerakan memitigasi dampak nyata krisis iklim, ditempuh oleh pemerintah dan warga diberbagai wilayah dengan sejumlah inisiatif menanam mangrove tidak selalu berjalan mulus. Pemulihan ekosistem lahan basah di kawasan pesisir, khususnya penanaman mangrove, yang dikenal memiliki potensi yang besar sebagai solusi untuk perubahan iklim berbasis alam (nature-based climate solution, NBCS), tidak selamanya sesuai harapan. Banyak tanaman mangrove terhempas oleh sapuan ombak arus laut dan angin.

Paradigma baru pembangunan Indonesia yang mendasarkan pada Pembangunan Rendah Karbon (PRK), bertujuan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan sosial melalui kegiatan pembangunan rendah emisi dan meminimalkan pemanfaatan berlebihan sumber daya alam. Melalu paradigma baru ini, pertumbuhan ekonomi dan sosial ingin tetap dapat diwujudkan, di semua sektor pembangunan, dengan tetap memperhitungkan keberlanjutan planet bumi yang terhindar dari dampak perubahan iklim akibat yang ditimbulkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK).

Soal komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi GRK tidak perlu diragukan. Janji Indonesia telah diserahkan kepada Sekretariat Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) pada bulan Juli tahun 2021, dalam dokumen Updated Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK secara mandiri sebesar 29%. Apabila didukung dengan skema pedanaan internasional maka Indonesia akan mampu memperbesar komitmennya menjadi 41% dibandingkan dengan skenario business as usual (BAU). Dukungan Perpres No. 98/2021 mendorong implementasi penurunan emisi dengan baseline nasional 2.869 juta ton CO2e dapat dilakukan secara nasional, sub nasional dan sektoral, juga menjadi salah satu bukti tekad Indonesia menuju net zero emission pada 2060.

Untuk dapat memberikan solusi nyata isu-isu di atas secara komprehensif, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan badan otonomnya - Akademi Ilmuwan Muda (ALMI), Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (KemenKoMarves) akan mengangkat berbagai isu ini melalui webinar yang bertajuk “Rehabilitasi Kawasan Pesisir untuk Pembangunan Rendah Karbon”. Webinar ini didukung oleh  Conservation International, Pemerintah Jerman (Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety, BMU) melalui International Climate Initiative (IKI) sebagai mitra Pemerintah Indonesia (Bappenas) dalam mencapai tujuan Pembangunan Rendah Karbon (PRK).

Webinar akan dihelat pada Kamis, 31 Maret 2022 pukul 14.00 – 16.00 WIB, terselenggara secara bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) dan dikemas dalam format pleno dan sesi kelompok parallel.  Pada sesi pleno peserta memperoleh  kesempatan untuk menyerap kebijakan pemerintah dari narasumber, dan pada sesi paralel para panelis yang dipandu moderator akan memantik diskusi dengan peserta untuk merumuskan aspek arah dan strategi nasional pengelolaaan ekosistem mangrove, rehabilitasi mangrove untuk mitigasi perubahan iklim di tingkat sun   nasional dan sektoral, dan adaptasi perubahan iklim di kawasan pesisir dan NDC yang berbasiskan bukti dan pengetahuan.

Webinar ini dikemas dalam cakupan yang begitu luas, akan melibatkan banyak pihak kalangan pemerintah, perguruan tinggi, LSM, swasta, Kedutaan Besar dan Badan-badan PBB di Jakarta, serta terbuka untuk kalangan umum. Tujuan adalah, pertama memfasilitasi dialog antar sektor dan pemangku kepentingan yang memiliki perhatian tentang ancaman perubahan iklim, pembangunan rendah karbon, dan pengelolaan kawasan pesisir; Kedua, adalah mempertukarkan gagasan tentang arah dan strategi pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan dan sejalan dengan agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim nasional. Selanjutnya, ketiga adalah memadukan pendapat yang berbasis bukti ilmiah sehingga dapat menjawab tantangan dan peluang kawasan pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim dan sosial-ekonomi masyarakat.

Webinar akan menghadirkan dari kalangan pemerintahan, Menko Marves,  HE Luhut Binsar Panjaitanyang akan memberikan sambutan awal, yang sebelumnya didahului  oleh sambutan Prof. Satryo S. Brodjonegoro - Ketua AIPI dan Dr. Robert Nasi - Direktur Jenderal CIFOR. Prof. Daniel Murdiyarso akan memberikan pengantar webinar. Tiga pembicara kunci akan menyampaikan tema Strategi Jangka Panjang Pengelolaan Mangrove untuk Pembangunan Rendah Karbon oleh Dr. Arifin Rudiyanto - Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian PPN/Bappenas; tema Kebijakan Nasional Rehabilitasi Mangrove Blue Carbon akan disampaikan oleh Dr. Nani Hendiarti - Deputi Bidang Koordinasi dan Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kemenkomarves; dan  Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK - Ir. Laksmi Dhewanthi, M.A. – akan menguraikan tema Nilai Ekonomi Karbon Kawasan Pesisir dalam Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Prof. Damayanti dari AIPI akan memimpin 3 sesi paralel. Sesi papalel 1 mengetengahkan diskusi panel berjudul Arah Strategi Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove, yang moderator Dr. Intan Suci Nurhani, dari ALMI sebagai pemantik diskusi para panelis ysng terdiri dari Dr. Medrilzam, Bappenas; Muhammad Yusuf, S. Hut, MSi, KKP, dan Dr. Yonviter, Chairman Indonesian Mangrove Society. Di sesi paralel 2 dengan tema Rehabilitasi Mangrove untuk Mitigasi Perubahan Iklim di Tingkat Sub National dan Sektoral dimoderatori oleh Dr. Hawis Madduppa, ALMI, akan memandu jalannya dikusi yang menghadirkan pakar-pakar Dr. M. Zainal Arifin, Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove, KLHK; Prof. Mohammad Basyuni, USU; Bapak Yus Rusila Noor, Direktur Yayasan Lahan Basah. Sedangkan sesi paralel 3 menghadirkan pakar-pakar Sri Tantri Arundhati MSc, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, KLHK; Dr. Perdinan, IPB University; dan Dr. Muhamad Ilman, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, yang akan dipandu oleh Prof. Jamaluddin Jompa, UNHAS/AIPI.

Luaran yang diharapkan dari kegiatan webinar ini adalah buku putih (white paper) yang menghimpun pemikiran strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan, langkah-langkah mitigasi perubahan iklim dengan ekosistem mangrove di tingkat provinsi, dan integrasi kawasan pesisir ke dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim melalui NDC.

Pembaca Budiman. Silakan mengikuti acara ini melalui aplikasi Zoom yang linknya akan disampaikan setelah melakukan pendaftaran melalui tautan Registrasi yang tertera di poster, atau juga dapat disaksikan melalui You tube dan media sosial AIPI. 

(Sigit Asmara Santa – Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.