Inovasi Mega Struktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Indonesia

25 September 2020 | 870 hits
InovasiMegaStrukturdanInfrastrukturTahanGempaIndonesia_ok.jpg

Jakarta, (Berita AIPI) 25 September 2019 -  Unjuk kemampuan dan capaian inovasi dalam desain, pelaksanaan dan operasional pembangunan Mega Struktur dan Infrastuktur Tahan Gempa itu, seakan digelontorkan tuntas di hadapan masyarakat luas oleh para ilmuwan dan engineer terbaik Indonesia dalam perhelatan lokakarya virtual pada 24 September 2020, selama 4 jam lebih.

Lokakarya Virtual Akbar yang bertajuk “Mega Stuktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Indonesia Karya Anak Bangsa” ini, buah kerjasama antara Kementerian PUPR, melalui Pusat Studi Gempa National (PuSGeN), dan AIPI, melalui Komisi Ilmu Rekayasa (KIR) dan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (KIPD). Tujuannya adalah mendiseminasikan dan mempromosikan buah pemikiran dan inovasi dalam upaya memperkenalkan karya anak bangsa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi struktur dan konstruksi bangunan tahan gempa.

Lokakarya Virtual yang dibuka oleh Menteri PUPR, Dr. Ir. M. Basuki Hadimuljono, M.Sc. ini mendapat sambutan luar biasa dari audien. Diikuti oleh 1.384 peserta, terdiri dari 783 peserta tergabung melalui aplikasi Zoom Meeting dan 601 melalui Youtube Livestream, dan terdapat 177 pertanyaan. Menteri PUPR menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada AIPI dan segenap partisipan pada lokakarya ini atas atensi dan kontibusinya terhadap pemutakhiran iptek dan kerekayasaan infrastruktur di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan mitigasi bencana gempa. “Teknologi konstruksi bangunan tahan gempa dan teknologi mitigasi bencana telah banyak dihasilkan oleh para akademisi, peneliti dan praktisi dari berbagai instansi. Teknologi tersebut telah digunakan pada infrastruktur baik skala kecil, menengah hingga besar,” ujarnya seraya mengungkapkan prestasi anak bangsa dalam desain, perencanaan dan konstruksi mega struktur seperti jembatan bentang panjang, bendungan dan gedung2 pencakar langit tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun teknologi tersebut masih belum banyak diketahui oleh masyarakat dan dunia usaha.

Disampaikan pula oleh Menteri, salah satu manfaat lokakarya ini adalah menyebarkan teknologi terbaik yang kita punya sampai dengan hari ini. Lokakarya ini menjadi ajang untuk saling berbagai dan bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman kerekayasaan. Banyak kisah tentang perancangan mega struktur dan infrastruktur tahan gempa yang telah dilakukan para engineer Indonesia. Lokakarya ini menjadi wadah memperkenalkan dan sekaligus mengapresiasi karya dan capaian anak bangsa di bidang konstruksi tahan gempa dan mitigasi bencana. “Potensi gempa, bila tidak diantisipasi secara memadai dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menimbulkan kerusakan langsung terhadap infrastruktur serta menimbulkan resiko yang sangat tinggi bagi masyarakat,” lanjut Menteri PUPR mengingatkan.

Mengambil pelajaran dari pandemi Covid-19 yang tidak terduga, Menteri menampaikan harapannya, “Di masa depan kita perlu memiliki pengetahuan dan teknologi, khusus untuk infrastruktur yang memiliki daya tahan terhadap multiple disaster. Saya berharap pengetahuan yang didiskuikan pada hari ini, dapat disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dapat menjadi rujukan bagi berbagai kalangan dalam perencanaan dan perancangan infrastruktur tahan gempa serta pengurangan resiko bencana gempa Indonesia.”  Menteri Basuki mengajak audiens bersama-sama mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, dan inovasi untuk melayani masyarakat dengan lebih baik. Meningkatkan kualitas hidup serta jaminan keselamatan masyarakat Indonesia, guna terwujutnya pembangunan berkelanjutan.

Dalam penyampaian pembuka Lokakarya Virtual itu, Ketua AIPI, Prof. Satryo Sumantri Brojonegoro, menyitir ucapan Charles Darwin dua abad lalu, Bukan yang paling kuat yang bisa bertahan hidup, bukan juga yang paling pintar. Yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling bisa beradaptasi.” Ungkapan ini layak disampaikan ulang dan relevan dengan tema lokakarya yang mengangkat capaian para ilmuwan, engineer dan praktisi anak bangsa, bidang Mega Struktur dan Infrastruktur dalam beradaptasi dengan permasalahan gempa yang dihadapi negara kita sepanjang masa.  

“Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merupakan satu-satunya wadah ilmuwan Indonesia terkemuka yang bertujuan menghimpun para ilmuwan untuk memberikan pendapat, saran, dan pertimbangan mengenai penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam rangka menjalankan fungsi tersebut, AIPI aktif menjalin kerjasama dengan lembaga dan para ahli terkait sesuai dengan permasalahan yang dihadapi bangsa kita,” lanjutnya.

Sebagai negara yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia yang memiliki jalur gempa subduksi lebih dari 9000 km. Itulah sebabnya Indonesia dikenal sebagai negara vulkanik teraktif di dunia. Tidaklah mengherankan kalau Indonesia merupakan Negara yang paling terpapar pada bencana gempa. Kesadaran akan ancaman bahaya abadi yang ditimbulkan ini, maka kesiagaan dan kewaspadaan terhadap bahaya gempa harus terus ditingkatkan melalui upaya mitigasi gempa yaitu mengurangi risiko. Salah satu upaya mitigasi gempa adalah melalui penguatan bangunan dan infrastruktur, bukan hanya bangunan tinggi di daerah perkotaan saja tetapi juga seluruh infrastruktur yang tersebar di Indonesia.

“Untuk menghasilkan inovasi dalam desain, pelaksanaan serta operasional diperlukan ilmuwan dan engineer yang canggih, yang mengikuti ilmu terkini di engineering, serta kaidah, maupun standar-standar nasional maupun internasional terkini, dalam mewujudkan suatu karya infrastruktur yang aplikatif hingga ke lokasi yang terpencil sekalipun, untuk memudahkan masyarakat dalam memenuhi dan menunjang secara penuh kebutuhan dasarnya, tanpa adanya rasa ragu terhadap keamanan dari bencana, kekuatan, serta terintegrasi dengan baik terhadap lingkungan penunjang maupun yang terkait dengan infrastruktur tersebut,” ungkapnya lebih rinci. 

Sementara itu, Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Dr. Ir. Haris H Sumadilaga, M.Eng. Sc., dalam pengantar Lokakarya menyampaikan, letak Indonesia yang berada di Ring of Fire membuatnya dikenal sebagai “supermarket” bencana, terutama bencana gempa dan erupsi gunung berapi, yang berpotensi memicu bencana turunan seperti tsunami, likuifaksi dan lain sebagainya. “Kerugian yang diderita akibat bencana sangat besar, baik korban jiwa, kerusakan bangunan dan infrastruktur, maupun kerugian finansial. Sepanjang tahun 2000 s/d 2016, jika dirata-­rata kerugian ekonomi langsung akibat bencana alam setiap tahunnya mencapai sekitar Rp. 22,8 triliun”, ungkapnya.  

Rangkaian cakupan lokakarya ini cukup luas, melibatkan K/L terkait, akademisi, serta pelaku industri jasa konstruksi dalam membeberkan ke publik capaian-capaian inovasi teknologi rekayasa gempa terkini, meliputi: (1) penguatan sistem monitoring dan pemrosesan informasi gempa yang lebih cepat dan akurat; (2) metode perbaikan tanah untuk mitigasi likuifaksi dan problema daya dukung tanah; (3) teknologi pereduksi gaya gempa dan aplikasinya pada struktur jembatan/elevated; (4) sistem struktur dan metode konstruksi jembatan khusus (irregular bridge); (5) metode 6 uji laik fungsi jembatan bentang panjang; (6) perancangan bangunan tahan gempa tertinggi di Indonesia; (7) perkembangan teknologi base isolation; dan (8) bangunan gedung tahan gempa berkinerja tinggi dengan sistem pracetak.

Lokakarya Virtual ini diselenggarakan dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan 5 nara sumber dan sesi kedua menampilkan 3 nara sumber ahli dibidangnya dari kalangan pemerintah, akademisi, praktisi, kalangan swasta dan organisasi profesi.

Sesi pertama dimoderatori oleh Prof. Sri Widiyantoro, Anggota KIR-AIPI, menampilkan lima pembicara dari berbagai kalangan pemerintah, akademisi, swasta dan asosiasi profesi, meliputi: 

  1. Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., - Kepala BMKG – dengan judul “Penguatan Sistem Monitoring dan Prosesing Gempa di Indonesia“;
  2. Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE., Ph.D., - AIPI/PuSGeN/HATTI -  dengan judul “Metoda Perbaikan Tanah Terkini untuk Proyek Infrastruktur Utama di Indonesia”;
  3. Prof. Ir. Iswandi Imran, MASc., Ph.D., - ITB/PuSGeN/KKJTJ -  dengan judul “Current Technology for Earthquake Resistant Elevated Structures”,
  4. Ir. Arvilla Delitriana, MT, - Perancang Struktur /Cipta Graha Abasi -  dengan judul “Keistimewaan Desain Jembatan Lengkung: Studi Kasus Jembatan Lengkung LRT Kuningan”; dan
  5. Prof. Bambang Suhendro, - UGM/KKJTJ/Komite K2 – dengan judul “Perkembangan Teknik dan Metode Uji untuk Kelaikan Fungsi jembatan Bentang Panjang“.

Pada sesi presentasi kedua yang dimoderatori oleh, Ir. Dian Irawati, MT, Direktur BTPP Ditjen Cipta Karya PUPR, menyajikan presentasi nara sumber pakar dibidangnya meliputi: 

  1. Prof. Ir. Indra Djati Sidi, M.Sc., Ph.D., - ITB/TABG DKI Jakarta - , dengan judul  “Desain Bangunan Tertinggi Tahan Gempa di Indonesia Saat Ini; Tower 1 Proyek Thamrim Nine”;
  2. Ir. Davi Sukamto, IP-U, - Davi Sukamta& Partners/PuSGen/TABG DKI Jakarta – dangan judul “Teknologi Base Isolationuntuk Gedung Tinggi”; dan
  3. Ir. Lutfi Faizal, - DBTPP, DJCK, PUPR/PuSGeN – dengan judul “Bangunan Gedung Tahan Gempa Berkinerja Tinggi dengan Sistem Pracetak Menggunakan Sambungan Paska Tarik Tanpa Lekatan dan Alat Pendisipasi Lokal”.

Lokakarya Virtual Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Indonesia Karya Anak Bangsa ini dapat disaksikan ulang melalui link https://youtu.be/UXQsSoz5m4U.

Sebagai media diseminasi, seluruh materi paparan dan informasi terkait Lokakarya Virtual Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Indonesia Karya Anak Bangsa ini dapat diunduh dan disebarluaskan melalui tautan berikut: http://bit.ly/MateriLokakaryaMegastrukturTahanGempa.

Lokakarya ditutup oleh Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah, Ketua KIR AIPI, dengan mengharap para ilmuwan, engineer, dan praktisi untuk terus meningkatkan upaya mengurangi risiko, khususnya melalui penguatan bangunan dan infrastruktur, bukan hanya bangunan tinggi di daerah perkotaan saja tetapi juga seluruh infrastruktur yang tersebar di Indonesia. Tak lupa pula menyampaikan apresiasi keterlibatan engineer muda – berusia tiga puluh tahuanan - yang telah berperan dalam pekerjaan-pekerjaan mega struktur dan infrastruktur tahan gempa yang membanggakan ini.

 

Pembuat artikelBiro Iptek 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.