BLUE CARBON SUMMIT

19 July 2018 | 3569 hits
BLUE_CARBON_SUMMIT.png

Memaksimalkan Potensi Pesisir dan Laut, Mendorong Perekonomian Berkelanjutan

Jakarta, 17 Juli 2018-Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai lebih dari 90.000 kilometer Indonesia berpotensi menjadi pemimpin dalam pengembangan ekonomi biru. Ekonomi yang berorientasi pada laut dan kelautan memerlukan keberlanjutan dengan mengurangi dampak dan meningkatkan manfaat. Indonesia dianugerahi ekosistem pesisir yang amat kaya, termasuk kawasan hutan bakau (3 juta hektar) dan padang lamun (300.000 hektar). Kedua ekosistem ini mampu menyimpan karbon–sering disebut sebagai karbon biru dengan sangat baik sehingga berpotensi besar untuk mitigasi perubahan iklim. Kemampuannya menangkap sedimen dan membangun lahan timbul juga berpotensi melakukan adaptasi perubahan iklim, khususnya kenaikan muka laut, arus dan ombak penyebab abrasi. Ekosistem mangrove dan padang lamun juga memberikan jasa lingkungan yang besar bagi kehidupan biota laut, pesisir, perikanan dan ekowisata.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) menyelenggarakan Blue Carbon Summit pada 17-18 Juli 2018 di Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta. Acara ini menampilkan sejumlah pembicara kunci, antara lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan; Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang P.S Brodjonegoro; Ketua AIPI Satryo Soemantri Brodjonegoro; Direktur Jenderal CIFOR Robert Nasi, serta para ahli dan praktisi di bidang lingkungan dan kemaritiman dari Indonesia dan berbagai negara.

Dalam posisinya sebagai lembaga ilmiah yang independen, melalui Summit ini AIPI dan CIFOR hendak  menyumbangkan  pemikiran tentangan penanganan karbon biru yang dihimpun dari berbagai kalangan kepada pemerintah dengan cara:

Memfasilitasi dialog antar pemangku kepentingan yang peduli terhadap karbon biru.
Mengidentifikasi kesenjangan dan hambatan dalam mengarusutanakan karbon biru dalam agenda pembangunan nasional.
Membuat peta-jalan pengembangan karbon biru di Indonesia sejalan dengan agenda global.

Pertemuan dua hari ini menampilkan 18 pembicara yang dikelompokkan dalam 4 panel tentang:  (i) “Pandangan Masyarakat” mengenai karbon biru yang diwakili 4 lembaga, (ii) “Forum Donor” yang diwakili 5 negara/lembaga, (iii) “Inisiatif Internasional”, diwakili 5 lembaga; dan “Forum Tingkat Tinggi” diwakili 4 lembaga pemerintah.  Summit juga didukung oleh kalangan ilmiah yang akan menyumbangkan sekitar 40 makalah yang dikelompokkan dalam delapan Forum Diskusi seputar industri perikanan, perekonomian berkelanjutan, tata kelola dan kelembagaan, pembiayaan karbon biru, perubahan iklim, serta berbagai dinamika di kawasan pesisir.

Berikut fakta-fakta seputar ekosistem laut dan pesisir di Indonesia:
Hampir seperempat hutan bakau dunia berada di Indonesia. Dengan luas mencapai tiga juta hektare, total hutan bakau di Indonesia hampir setara dengan luas Belgia.

Namun 52,000 hektare di antaranya hilang setiap tahun, sebanding dengan luas kota New York. Sekitar 40 % kerusakan hutan bakau disebabkan oleh kegiatan akuakultur. Ironisnya, hutan bakau sebenarnya amat penting untuk pemijahan ikan.
Emisi karbon yang terjadi akibat rusaknya hutan bakau Indonesia mencapai 190 juta ton setara dengan karbon dari 9,5 juta knalpot mobil yang dipakai mengelilingi dunia, dua kali.

 

Sumber:
Fact File: How mangroves contribute to climate change mitigation in Indonesia
Cut emissions, not mangroves: Indonesia’s best hope for slowing climate change blog.cifor.org/31112

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.