Membangkitkan Kesadaran Nasional Peduli Gempa dan Gunung Api

19 July 2019 | 7655 hits
LOKAKARYA_GEMPA_dan_GUNUNG_API.jpg

Jakarta, (Berita AIPI) 19 Juli 2019 -  Lokakarya Akbar “Kesadaran Nasional Peduli Gempa dan Gunung Api” yang dihelat di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta pada 18 Juli 2019 itu, seakan menjadi ajang unjuk kemampuan dan kapasitas semua unsur sumber daya Indonesia. Gagasan besar, perencanaan, pelaksanaan, pengalaman yang telah diperoleh dan tantangan ke depan dalam penanggulangan bencana alam – khususnya Gempa dan Gunung Api – dibahas dari berbagai dimensi. 

Lokakarya ini bertujuan sebagai langkah sosialisasi dalam meningkatkan Kewaspadaan Terhadap Bencana Nasional di Indonesia, mendesiminasikan dan mempromisikan ilmu pengetahuan dn teknologi terkait bencana gempa dan gunung api, serta meningkatkan kemampuan memahami resiko, memperkuat tatakelola, berinvestasi dalam ketahanan dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana. 

Sebagai negara yang terletak pada cincin api, salah satu masalah terbesar yang di hadapi bangsa Indonesia adalah masalah dan bahaya yang timbul dari gempa dan gunung api. Masih lekat dalam ingatan kita sederetan gempa yang terjadi di Indonesia. Terakhir seperti gempa Palu 2018 silam menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah. Peristiwa likuifaksi Palu mencadi catatan sejarah peristiwa geoteknik ekstrim, sehingga menjadikan Palu sebagai laboratorium likuifaksi internasional. Berbagai peristiwa itu membuat kita harus mempersiapkan diri mengahadapi resiko gempa dan gunung apai agar bangsa Indonesia tangguh menghadapi musibah itu

Rembug nasional ini diprakarsa Komisi Ilmu Rekayasa dan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI, dan dalam penyelenggaraannya bekerjasana dengan Kementerian PUPR. Kementerian ini paling aktif dalam upaya mitigasi bencana geologi. Lokakarya diikuti perserta dari berbagai kalangan antar lain dari Kementerian-Lembaga terkait, Perguruan Tinggi Asosiasi Profesi, BUNM, Pemerintah Provinsi/Kabupaten dan Kota, kalangan swasta dan LSM. 

Lokakarya diawali sambutan Ketua AIPI yaitu Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro yang mengemukakan peran AIPI dalam menghimpun para ilmuwan Indonesia terkemuka untuk memberi pendapat, saran, dan pertimbangan mengenai penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dn teknologi kepada pemerintah serta masyarakat untuk mencapai tujuan. Dalam menjalankan fungsinya tersebut, AIPI aktif menjalin kerjasama dengan Lembaga terkait sesuai dengan permasalahan yang dihadapi bangsa. 

“Upaya mitigasi dan pengurangan resiko bencana gempa dan gunung api selalu kita lakukan. Berbagai karya ilmiah tentang hal tersebut juga telah banyak diterbitkan dan didesiminasikan. Namun upaya yang terkoordinasi, efisien, efektif dan lestari hanya dapat dicapai melalui pelembagaan,” lanjutnya. Ia membeberkan bahwa soal kelembagaan gempa dan gunung api, Indonesia masih tertinggal jauh dari Jepang yang sudah memiliki Earthquake Research Institu (ERI) yang didirikan 1925, Amerika memiliki US Geology Survey (USGS) dan National Earthquake Information Center (NEIC), dan bahkan Singapura telah mempunyai Earth Observatory of Singapore (EOS).

Sementara itu, Menteri PUPR, Dr. Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa tahan 2018 merupakan tahun yang berat bagi Indonesia. Serentetan bencana signifikan mulai dari Gempa Palu, Gempa Lombok, Letusan Gunung Agung, lutusan Gunung Anak Kratatau, yang tidak hanya berdampak dari goncangan gempa dan letusan gunung api, tetapi juga dari bahaya sekundernya. 

“Kita semua sudah sadar tentang bahaya bencana alam. Apalagi para ilmuwan. Yang masih perlu diintensifkan adalah membangun kesadaran masyarakat agar dapat berperilaku adatif terhadap ancaman bencana alam,” lanjutnya menekankan unsur komunikasi dengan masyarakatlah yang perlu digarap. 

Pada kesempatan itu, Menteri PUPR juga meluncurkan 15 buku terdiri atas 4 buku berupa SNI dan RSNI, serta 11 judul buka laporan hasil penelitian tentang kegempaan dan kegunung-apian karya sejak 2016-2019.

Lokakarya sehari ini diselenggarakan dalam dua sesi. Sesi pertama adalah Diksusi Panel menampilkan nara sumber dari kalangan pemerintah, swasta dan organisasi kemanusiaan - PMI.  Sesi Kedua berbentuk presentasi para ilmuwan dari kalangan universitas, pemerintah/lembaga dan anggota AIPI. 

Dalam diskusi panel yang mengusung tema “Tantangan Managemen Bencana Gempa Bumi dan Gunung Api” dimoderatori Dewi Fortuna Anwar-AIPI, menampilkan tujuh pembicara dari berbagai kalangan. 

  1. BNPB : Tantangan Penanggulangan Bencana dan Rehabilitasi Pasca Bencana
  2. Bappenas : Tantangan Perencanaan Kawasan di Kawasan Rawan Bencana
  3. Waskita Karya : Peran BUMN dalam Mitigasi Bencana Gempa dan Gunung Api
  4. BMKG : Tantangan Pemantauan Gempa Bumi dan Tsunami
  5. Badan Geologi: Tantangan Pemantauan Gunung Api  
  6. Dirjen Cipta Karya : Tantangan Mitigasi Kawasan Pemukiman di Kawasan Rawan Bencana
  7. PMI : Tantangan Tanggap Darurat Pasca Bencana

Pada sesi presentasi menampilkan nara sumber pakar dibidangnya meliputi: 

  1. Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE., Ph.D  - (ITB-PuSGen-AIPI): “Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia”.
  2. Dr. Danny Hilman N  - (LIPI-PuSGen): “Geologi Kegempaan”.
  3. Dr. Irwan Meilano, ST., M.Sc  - (ITB-PuSGen); “Tektonik Indonesia”.
  4. Prof. Ir. Iswandi Imran, MASc., Ph.D – (ITB-PuSGen): “Rekayasa Bangunan dan Infrastruktur Tahan Gempa”.
  5. Prof. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D – (ITB-PuSGen-AIPI): “State of the Art ilmu Pengetahuan dan teknologi Gunung api di Indonesia”.
  6. Ir. Kasbani, M.Sc – (Badan Geologi): “Pengamatan Gunung Api di Indonesia Pembelajaran dari Anak Krakatau Pemicu Tsunami”.
  7. Dr. Agung Harijoko, ST., M.Eng – (UGM): “Sejarah Penanganan Gunung Api Di Indonesia”. 
  8. Dr. Eko Teguh Paripurna – (UPNV-Ketua Forum PT Pengurangan Resiko Bencana): “Mitigasi Gunung Api”.
  9. Dr. Udrekh, M.Sc. – (BPPT): “Teknologi Kebencanaan”.
  10. Prof. Dr. Sofia Mubarika  dan Haryana, M.Med.Sc., Ph.D – (UGM-AIPI): “Sosial Budaya”. 

Terkuak dalam lokakarya ini, perkembangan teknologi telah dapat ditunjukkan memiliki banyak kontribusi pada setiap lini. Sudah cukup banyak kegiatan untuk menjawab unsur bagaimana dari sisi ilmu pengetahuan, tetapi masih jauh dari kemandirian dalam menjawab unsur bagaimana melalui rekayasa teknologi. 

Tantangan ke depan kita harus mampu mencetak SDM rekayasa yang mampu menguntai secara tepat untuk memenuhi kebutuhan mitigasi gempa dan gunung api. Di sisi lain, lokakarya ini menyadarkan kita semua, bahwa penguatan jejaring merupakan unsur pokok dalam mengatasi persoalan bencana. Belum ada kelembagaan yang mengelola multi sektor yang mengelola multi disiplin keilmuan dan multi sektor untuk perumusan fenomena alam.

Seluruh materi diskusi panel, paparan dan informasi lainnya mengenai Lokarkarya Kesadaran Nasional Peduli Gempa dan Gunung Api dapat diunduh pada tautan berikut http://www.shorturl.at/csL24. Sedangkan rekaman suara terkait dapat diunduh di tautan http://www.shorturl.at/rBINU

Lokakarya ditutup oleh Prof. Dr. Daniel Murdiyarso, Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI dengan mengharap pentingnya kita merawat ingatan melalui pengetahuan, peningkatan kapasitas apparat dan masyarakat, serta penataruangandan penguatan infrastruktur yang mendukung ketahanan terhadap bencana, khususnya dalam hal ini genpa dan gunung api.

 

Pembuat artikelBiro Iptek 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.