Wallace Menjadi Inspirasi Ilmuwan Muda

13 October 2018 | 4411 hits
wallacea_week_2018.jpg

JAKARTA, KOMPAS – Karya Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris, bisa menjadi inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia. Wallace, kendati tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, mempunyai sumbangsih besar bagi ilmu pengetahuan tentang keragaman hayati dan antropologi. Dari karya fenomenal Wallace berjudul The Malay Archipelago, masih banyak ilmu pengetahuan yang perlu digali di Indonesia. Wallace melakukan perjalanan ke kepulauan Nusantara pada periode 1854-1862. Selama empat tahun terakhir perjalanannya itu, ia banyak bermukim di Ternate, Maluku Utara. Delapan tahun perjalanan Wallace, sebanyak 125.600 spesimen dikumpulkan dari berbagai jenis serangga, burung, mamalia, reptil, dan binatang lainnya.

“Karya-karya Wallace dalam bentuk buku dan jurnal ilmiah bisa menjadi bahan pembelajaran bagi ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia. Mereka lebih punya banyak tenaga dan pikiran untuk menggali lebih lanjut karya Wallace tersebut,” ujar Sangkot Marzuki, pakar Wallacea dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dalam acara bedah buku The Malay Archipelago, Jumat (12/10/2018), di Jakarta.

Menurut Sangkot, peran untuk menggali dan mempublikasikan warisan ilmiah Wallace ke khalayak tidak cukup dilakukan pemerintah saja. Perlu dukungan banyak pihak, baik dari pihak independen maupun media massa. Media massa punya peran strategis mempublikasikan karya ilmiah ke masyarakat umum dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Buku berjudul Kepulauan Nusantara yang merupakan terjemahan dari The Malay Archipelago, karya Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris.

Penulis Letters from The Malay Archipelago, John van Wyhe, menambahkan, kendati tidak memiliki latar belakang ilmuwan, karya Wallace adalah karya ilmiah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Yang bisa diteladani dari perjalanan Wallace adalah kegigihannya yang luar biasa untuk menempuh perjalanan sulit masuk hutan, menyeberangi laut, dan mencatat segala hal yang menarik dengan detil. “Dia memang bukan ilmuwan, tetapi naturalis yang punya ketertarikan pada mahkluk hidup. Namun, karyanya punya andil besar terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri,” ucap John.

Aristides Katoppo, wartawan senior, mengatakan, ketelitian dan kegigihan Wallace mengagumkan. Sifatnya yang pantang menyerah menghasilkan karya luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Selain itu, kemampuannya mendeskripsikan flora dan fauna di Nusantara sangat baik. “Generasi muda sekarang sebaiknya meniru kegigihan berpetualang yang dimiliki Walace. Jurnalis, khususnya, harus punya kemauan meneliti dan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap suatu hal, serta mencari informasi penting di balik hal tersebut,” kata Katoppo.

Terlupakan Karya Wallace yang didapat selama petualangannya di Nusantara, menurut sejarawan JJ Rizal, kurang begitu dirawat di Indonesia itu sendiri. Banyak artefak atau peninggalan sejarah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan diabaikan. Padahal, artefak sangat penting untuk dijadikan pijakan awal menggali lebih dalam warisan ilmiah Wallace di Indonesia.

“Sebaiknya, peringatan 150 tahun buku The Malay Archipelago dijadikan pintu awal untuk merayakan sejarah dan merawat warisan ilmu pengetahuan,” kata Rizal.
Wallace dikenal terutama untuk studi tentang zoogeography, termasuk penemuan dan penjelasan tentang diskontinuitas fauna. The Wallace Line atau garis imajiner Wallace membentang antara pulau Bali dan Lombok, serta Kalimantan dan Sulawesi, dan menandai batas-batas timur terjauh spesies hewan Asia dan, sebaliknya, batas-batas barat terjauh binatang Australia.

 

Artikel ini pertama kali diterbikan di Harian Kompas: Aris Prasetyo 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.