Tingkat Emisi Rujukan Dirumuskan

24 August 2018 | 2642 hits
tingkatemisirujukandirumuskan.png

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Harian KOMPAS: ICH

JAKARTA, Badan Restorasi Gambut menyusun tingkat emisi rujukan pada tujuh area prioritas. Hal ini untuk mengetahui penurunan emisi gas rumah kaca yang bisa didapatkan Indonesia setelah restorasi di provinsi-provinsi prioritas.

Langkah ini pun membantu pengukuran capaian kontribusi nasional (NDC) dalam Perjanjian Paris. Dalam NDC, 70 persen emisi akan diturunkan dari sektor hutan dan lahan, termasuk kebakaran hutan dan restorasi gambut.

"Dari tim ahli sudah selesai menghitung, tinggal sedikit lagi ada yang ingin kami bahas, "kata Nazir Foead, Kepala Badan Restorasi Gambut, Kamis (23/8/2018), di Jakarta, Tim ahli itu dipimpin Daniel Murdiyarso, peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor serta beranggotakan sejumlah ahli lain dan pakar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Nazir mengatakan, penentuan tingkat emisi rujukan ini dilakukan untuk menjawab perintah Wakil Presiden Jusuf KaIla. Wapres ingin mengetahui penurunan emisi saat gambut kering berhasil dibasahi dan level muka air gambut naik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga memiliki tingkat emisi rujukan. Namun, perhitungan saat itu pada kondisi gambut kering dan belum memasukkan efek dari pembasahan. Referensi baru itu melengkapi data dan metodologi Indonesia yang diperlukan dalam berbagai laporan ke Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).

BRG sengaja meminta Daniel Murdiyarso untuk memimpin tim penentuan referensi tingkatan emisi karena posisinya sebagai panel dalam pakar perubahan iklim (IPCC) UNFCCC. "Jadi, kami berharap metodologi bisa selaras dengan IPCC, "ujarnya, Secara terpisah, Daniel Murdiyarso mengatakan, perhitungan saat ini tingkat emisi rujukan gambut sekitar 580 juta ton C02e atau karbon dioksida ekuivalen. Ini didapatkan dari data pada tahun 2006-2015.

"Jadi jangkauan panjang dengan meliputi 2-3 periode kebakaran (hutan dan lahan di Indonesia). Harus fair ketika ada kebakaran tinggi emisinya sehingga referensi fair dan realistis, "katanya yang ditemui seusai meraih Sarwono Award 2018 dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kemarin.

Stok karbon

Daniel mengatakan, gambut signifikan berperan dalam perubahan iklim. HaI itu disebabkan gambut menyimpan stok karbon yang amat tinggi. Meski tak ada vegetasi di atasnya, stok karbon di bawah atau "bagian tanah" bisa sangat tinggi. "Kalau ukur biomassa di atas 5, di bawah bisa 15- 20. Kalau i tu terbakar dan berulang, sama seperti membakar hutan," katanya.

Karena itu, pekerjaan rumah Indonesia berupa restorasi gambut dinilainya merupakan program amat besar dan ambisius. Apalagi jumlah luasan yang direstorasi mencapai 2 juta ha.

"Istilah restorasi ini agak berat buat BRG untuk mewujudkan. Sebab, yang rusak ini adalah ekosistem BRG yang terbentuk selama ribuan tahun, bagaimana mungkin direstorasi dalam lima tahun, "ungkapnya. la mengatakan, kegiatan saat ini lebih tepat dikatakan sebagai rehabilitasi gambut. Namun, ia bisa memahami pemilihan kata restorasi merupakan semangat
dan keseriusan Indonesia dalam memperbaiki gambut.

Daniel memaparkan, emisi gas rumah kaca dari sektor lahan dan hutan sekitar 70 persen atau 800-900 juta ton C02e dari total emisi Indonesia. HaI itu bersumbel' dari konversi lahan, kebakaran, dan oksidasi bahan organik.

Untuk merestorasi, kata Danie, perlu mengedepankan pelibatan masyarakat, termasuk korporasi. Pelibatan itu diharapkan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

 

 

 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.