KOLONIALISME, DEKOLONIALISME, DAN MASA DEPAN ILMU KEDOKTERAN

03 July 2018 | 3533 hits
KOLONIALISME_DEKOLONIALISME_DAN_MASA_DEPAN_ILMU_KEDOKTERAN_Berita_Homsea.jpg

Jakarta - Indonesia dan Kawasan Asia memiliki sejarah panjang dalam bidang sosial, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan yang turut mempengaruhi perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan di sana. Oleh sebab itu, sejarah yang terentang sejak masa kerajaan, era kolonialisme, hingga masa prakemerdekaan maupun kontemporer tetap relevan untuk dipelajari dan dihubungkan dengan konteks masa kini. 

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) memfasilitasi terselenggaranya pertemuan antara History of Medicine in South East Asia (HOMSEA) dan Asian Society for the History of Medicine (ASHM) dalam simposium bertema Colonial Medicine in Post-Colonial Times: Continuity, Transition, and Change pada 27-30 Juni 2018 yang mempertemukan lebih dari 100 ahli di bidang sejarah ilmu kedokteran dan kesehatan di Asia. “Perkembangan ilmu kesehatan di Asia, termasuk Indonesia, sangat dipengaruhi oleh masa kolonialisme dan turbulensi sosial yang menyertainya.  Simposium ini akan membahas perkembangan sejarah dan pengaruhnya terhadap ilmu kedokteran dan kesehatan di Asia serta perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan di masa depan,” ujar Ketua AIPI, Profesor Sangkot Marzuki. 

Simposium ini merupakan pertemuan ilmiah terbesar tentang sejarah ilmu kedokteran dan kesehatan yang pernah dilakukan di Indonesia. Pertemuan ini dihadiri ahli dari berbagai negara di Asia seperti Jepang, Taiwan, Hong Kong, India, Vietnam, dan Singapura. “Saya amat terkesan dengan banyaknya ilmuwan Indonesia yang mempelajari sejarah ilmu kedokteran yang jumlahnya lebih banyak daripada para ahli di luar negeri. Ternyata penelitian tentang sejarah ilmu kedokteran dapat berkembang sangat baik di sini,” ujar Wakil Ketua HOMSEA, Profesor Hans Pols. 

Berbagai sesi pleno dan diskusi panel yang berlangsung selama tiga hari akan membahas sejarah dan perkembangan ilmu kesehatan yang sangat relevan untuk kondisi Indonesia terkini, di antaranya: 

Berbagai sesi pleno dan diskusi panel yang berlangsung selama tiga hari akan membahas sejarah dan perkembangan ilmu kesehatan yang sangat relevan untuk kondisi Indonesia terkini, di antaranya: 
Sesi Pleno:
1. Probing the Turbulent Transition of 1940-1955
2. Eclampsia: An Inquiry into its Origin and Treatment
3. Hospitals Before and After Independence: Continuity, Transition, and Change
4. Leprosy in Indonesia

Sesi Diskusi Panel:
1. Histories of the Malaria War: Exploring Malaria around the Japanese Occupation of Indonesia and Malaysia
2. The Future of Medical Research and Medical Care in Asia
3. Indonesia’s 1965 Tragedy: Towards a Redefinition of History? (disertasi penampilan Paduan Suara Dialita yang beranggotakan perempuan yang peduli dan terkena dampak kekerasan sejarah 1965-1966) 
4. Modern Cities and Urban Sanitation in Asia
5. Traditional Medicine in Transition
6. Drugs and the Medical Treatment of Addiction in Indonesia
7. Diet, Nutrition, and Health

Pada pembukaan simposium, diluncurkan pula buku Gelanggang Riset Kedokteran di Bumi Indonesia: Jurnal Kedokteran Hindia-Belanda 1852-1942, yang merupakan versi Bahasa Indonesia dari buku The Medical Journal of The Dutch Indies 1852-1942. A Platform for Medical Research yang membahas perkembangan dunia kedokteran pada masa kolonial, saat Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Buku ini menggunakan Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI) sebagai sumber utama, yaitu jurnal kedokteran tertua di Hindia-Belanda yang terbit terkala sepanjang 1852-1942. Buku ini membahas berbagai isu kesehatan di Hindia Belanda, termasuk pola penyebaran penyakit, wabah penyakit berikut pencegahan dan penangannya, hingga perilaku para dokter di masa itu, GTNI merupakan sumber penting bagi penelitian tentang sejarah kedokteran serta sejarah Hindia Belanda. Dalam rangkaian simposium ini, AIPI juga mendukung diluncurkan buku Daftar Nama Tamatan Perguruan Tinggi yang Bermukim di Pulau Jawa pada Tahun 1942-1943 (Somadikarta) dan Pahlawan dari Batavia: Narasi Pieter Everbeld Melawan Kompeni (Bradley Horton & Mayumi Yamamoto).

 

 

Pembuat artikel : Anggrita D. Cahyaningtyas

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.