HUT ke 32 AIPI dan WNML “Perspektif Sosial dan Ekonomi Hidupan Satwa Liar”

10 October 2022 | 420 hits
WNML.jpg

Siaran Pers AIPI

Jakarta, 10 Oktober 2022. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dalam rangkaian peringatan hari jadinya yang ke 32 menyelenggarakan serangkaian acara utama: Sidang Paripurna akhir tahun, Peluncuran Buku, dan Widjojo Nitisastro Memorial Lecture (WMNL) 2022. Rangkaian acara tersebut akan digelar pada 13 Oktober 2022 di Auditorium lantai 2, Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdaka Selatan No. 11, Jakarta. Tema yang diusung adalah “Sains di Medan Merdeka”, diselenggarakan secara hybrida, daring maupun luring.

Acara Sidang Paripurna bagi seluruh anggota AIPI, hanya dapat diikuti anggota dan mitra AIPI, digelar pada pukul 10.00-12.00 WIB secara hibrida, akan mendengarkan laporan pimpinan AIPI, mengevaluasi program kerja yang telah dijalankan, dan menetapkan program kerja mendatang, serta membahas hal-hal penting dan strategis bagi kelangsungan dan peningkatan peran dan fungsi AIPI dalam mengemban misi mendorong budaya ilmiah unggul.

Selanjutnya meneruskan tradisi ilmiah yang dibangun sejak 2019, AIPI dengan bangga mempersembahkan Widjojo Nitisastro Memorial Lecture (WMNL) 2022 yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. Jatna Supriatna, anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, AIPI sejak 2011, yang dikenal sebagai pemerhati dan aktivis bidang Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Indonesia.

Kuliah ini terbuka untuk umum, pecinta lingkungan, pemerhati satwa liar, mahasiswa, dosen, peneliti dan kalangan ilmuwan lainnya. Prof. Jatna akan mengusung tema “Perspektif Sosial Dan Ekonomi Hidupan Satwa Liar", yang merupakan usaha menyinergikan pelestarian spesies satwa liar dan pemberdayaan ekonomi.

Acara WNML diselenggarakan secara Hibrida pada:

Hari /tanggal            

: Kamis, 13 Oktober 2022

Waktu                        

: 14.00 - 15.30 WIB

Tempat

: Auditorium Lantai 2, Gedung Perpustakaan Nasional RI

Kuliah Daring            

: Aplikasi Virtual dengan tautan https://bit.ly/WNML2022_P

ID: 857 0411 4239; Passcode: WNML2022, dan

Disiarkan YouTube     

: https://bit.ly/YTWNML2022  

 

Seluruh rangkaian acara kuliah Hibrida ini akan dipandu oleh Prof. Damayanti Buchori -anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, AIPI - yang juga dosen IPB University. Rangkaian acara akan dibuka langsung oleh Ketua AIPI, Prof. Satryo Sumantri Brodjonegoro, dan Sambutan Penutup akan disampaikan oleh Wakil Ketua AIPI, Prof. Sofian Effendi.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Widjaja Laksmi Kusumaningsih, putri Prof. Widjojo Nitisastro, akan pula menyampaikan kisah-kisah yang dialami dan disaksikannya sebagai anak tentang kiprah perjuangan ayahnda membangun Indonesia. Prof. Widjojo dikenal sebagai Menteri Indonesia, arsitek utama perekonomian orde baru. Pernah diangkat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971- 1973 dan Menko Ekuin sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-1983. Prof. Widjojo sering dianggap sebagai “Pemimpin para Menteri di bidang ekonomi dan keuangan” — sebuah julukan yang diberikan kepada sekelompok menteri yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto.

Prof. Jatna Supriatna, dalam Wijoyo Nitisatro Memorial Lecture kali ini, akan membahas aspek sejarah dan juga sosial ekonomi perspektif hubungan manusia dan satwa liar. Fokusnya adalah membahas hubungan manusia-satwa liar dilihat dari landasan etika, konservasi, pakan, wisata dan kejadian zoonotik yang lalu di Indonesia, juga bagaimana prediksi hubungan itu ke depan. Bahasan panjang lebar terkait nilai kebaruan yang sangat penting adalah nilai sosial ekonomi hidupan satwa liar di Indonesia, khususnya yang jarang dibahas yaitu wisata hidupan satwa liar.

Wisata alam dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap konservasi keanekaragaman hayati. Pertama, dapat menjadi sumber untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui pendapatan langsung dari wisatawan berupa biaya masuk atau tiket masuk kawasan, pajak, dan lainnya. Kedua, sebagai alternatif pendapatan tambahan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Ketiga, membenarkan upaya para aktivis lingkungan dalam melestarikan keanekaragaman hayati. Keempat, pemerintah pusat dan provinsi kemudian memiliki kewenangan dan/atau justifikasi untuk mengembangkan daerah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kelima, menyediakan kegiatan berbasis ekonomi di kawasan konservasi untuk bisnis yang terlibat dalam konservasi keanekaragaman hayati (Honey, 1999).

Di Indonesia, wisata alam hidupan liar belum jelas siapa yang mengampu dan mengembangkan dari mulai pembuatan destinasi sampai kepada pemasaran. Memang pengampu masalah hidupan liar adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tetapi tugas pokok mereka adalah menjaga dan mengembangkan kawasan konservasi dan seisinya termasuk satwa liar, sementara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif masih belum mampu membantu dalam pengembangan wisata hidupan liar. Pemerintah daerah juga belum tahu bagaimana mengembangkan kebijakan wisata berbasis satwa liar. Bila pengembangan wisata hidupan liar ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ekologi satwa yang menjadi daya tarik wisata, maka alih-alih mendapat dana mungkin satwa liar tersebut populasinya menjadi terganggu. 

Secara global, lebih dari separuh populasi manusia, bergantung langsung pada keanekaragaman hayati. Satwa liar mendukung kehidupan 15% populasi manusia, dan merupakan sumber utama protein bagi lebih dari 1 miliar penduduk termiskin. Nilai total pemanenan satwa liar diperkirakan mencapai USD 400 M. Penurunan populasi satwa liar dapat meningkatkan ketidakstabilan regional dan peningkatan terorisme di beberapa negara

Konservasi satwa liar di Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berat. Meskipun di atas sudah diuraikan tentang nilai-nilai satwa liar bagi kemaslahatan manusia, tetapi kesadaran konservasi satwa liar masih sangat rendah, baik di level masyarakat maupun para pengambil kebijakan. Tidak mudah untuk mendamaikan konflik-konflik kepentingan dalam perebutan ruang hidup antara satwa liar dan manusia dalam realitas sosio-ekonomi Indonesia. Lemahnya inovasi teknologi pertanian dan rendahnya ketersediaan lahan akan meningkatkan kompetisi satwa dan manusia. Ini adalah tantangan terberat bagi para konservasionis satwa liar.

Konservasi satwa liar pada dasarnya membutuhkan metodologi transdisipliner, yaitu integrasi dan koordinasi disiplin-disiplin ilmu dengan inovasi masyarakat. Problema konservasi satwa liar di Indonesia sering kali menemukan jalan buntu tanpa pemecahan karena sempitnya sudut pandang dan penerapan ilmu-ilmu lingkungan ortodoks yang memandang problem secara simpel dan mengabaikan kompleksitas kondisi setempat.

Dalam rangkaian acara tersebut, Prof. Jatna juga akan meluncurkan buku barunya, yang ditulis bersama dengan Ralph Lennz, diterbitkan oleh Penerbit Obor berjudul “Sustainable Environmental Management – Lessons from Indonesia” dengan kata pengantar Alue Dohong dan Emil Salim.

Pembaca Budiman. Ikuti terus rangkaian kegiatan-kegiatan ilmiah AIPI melalui situs resmi dan sosial media AIPI.

Website         :  aipi.or.id  

Instagram     :  aipi_Indonesia

Tweeter         : AIPI_id

Youtube         :  AIPI_Indonesia

Informasi lebih lanjut siaran pers ini dapat pula ditanyakan ke e-mail AIPI melalui aipi.indonesia1990@gmail.com.

(Sigit Asmara Santa – Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

 

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.