AKSI S20 UNTUK PENGUATAN SISTEM KETAHANAN KESEHATAN MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

05 September 2022 | 380 hits
Flyer_AKSI_S20_08.jpg

Siaran Pers: Presidensi G20 Indonesia

Webinar Internasional Perubahan Iklim dan Kesehatan

Jakarta, 4 September 2022.

Tantangan terbesar yang dihadapai umat manusia dewasa ini dan ke depan, masih berkutat pada persoalan pandemi Covid-19, yang belum juga reda; dan perubahan iklim, yang semakin nyata dampaknya pada tingkat lokal, regional, maupun global.

Merujuk laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), terbukti bahwa aktivitas manusia yang tidak terkendali, telah menghangatkan atmosfer, lautan, dan daratan. Peningkatan suhu yang terjadi, teramati semakin cepat dan meluas di lingkungan atmosfer, laut, kriosfer dan biosfer. 

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor penentu tingkat kesehatan masyarakat dan lingkungan. Udara yang bersih, air minum yang aman, pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup dan tempat tinggal yang aman, menjadi persyaratan dasar kehidupan manusia yang sehat.

Suhu udara yang sangat tinggi, berkontribusi langsung pada kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan, terutama di kalangan orang tua. Pola curah hujan yang tak menentu, menyebabkan terjadi kekeringan panjang di musim kemarau, dan banjir di musim hujan, menyebabkan menggangu pasokan air bersih.  Kurangnya pasokan air bersih dapat mengganggu derajat kebersihan dan kesehatan lingkungan, dan dapat meningkatkan risiko penyakit diare. Resiko penyakit ini  tercatat menyebabkan kematian lebih dari 500.000 anak berusia di bawah 5 tahun, setiap tahun.

Polusi udara juga berkontribusi pula pada percepatan terjadinya perubahan iklim. Paparan polusi udara pada tingkat yang membahayakan kesehatan - seperti yang terungkap dalam seri keenam Webinar Kebijakan Tingkat Tinggi S20, 30 Juni 2022 - telah terjadi pada empat milyar atau 92% warga dunia di Asia dan Pasifik terpapar mereka (UNEP, 2019). Paparan polusi udara dalam jangka panjang menyebabkan perawatan kesehatan yang lebih buruk pasien COVID-19, terutama rawat inap (Imperial College London, 2021). Polusi udara juga terbukti telah merugikan lingkungan, ekosistem dan keanekaragaman hayati, hasil pertanian, dan ekonomi. Biaya kerusakan kesehatan dari polusi udara partikel halus (PM2.5) saja dilaporkan setara dengan 9,3 persen dari PDB di Asia Timur dan Pasifik dan 10,3 persen di Asia Selatan pada 2019 (Bank Dunia, 2022).

Menimbang hal-hal di atas, maka perlu dibangun solusi terintegrasi Sistem Ketahanan Kesehatan yang mampu beradaptasi dan memitigasi perubahan iklim. Sistem Kesehatan yang dibangun harus mampu memastikan dan menjalankan sistem kesehatan dapat terus memberikan fungsi kesehatan yang penting selama kejadian ekstrem dan di bawah pengaruh tekanan perubahan iklim.

Dalam rangka memperbicangkan isu tersebut, Kelompok Keterlibatan (Engagement Group-EG) S20 dalam Presidensi G20, bekerja sama dengan InterAcademy Partnership (IAP), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan acara bincang-bincang yang bertajuk Bring Science into Policy: Strengthening and Integrating Climate Change Adaptation and Mitigation Solutions and Health System Resilience. Acara ini merupakan seri webinar ketujuh dari Webinar Internasional Kebijakan Tingkat Tinggi yang diselenggarakan EG S20 sejak peluncurannya pada 16 Desember 2021.

Tujuan utama bincang-bincang tentang penguatan dan integrasi sistem kesehatan menghadapi tantangan perubahan iklim ini adalah untuk menggali dan mengkonstruksi rumusan aksi-aksi nyata S20, dalam rangka memperkaya langkah-langkah kongkrit untuk penyelesaian 5 isu utama kesepakatan bersama negara anggota S20. Para ilmuwan terkemuka dari berbagai lembaga internasional tersebut akan membeberkan kondisi terkini perubahan iklim dan membahas berbagai bukti tentang ketahanan sistem kesehatan menghadapi perubahan iklim, dan memberikan praktek baik berbagai kebijakan berbasis bukti (evident based policy) pada isu ketahanan sistem kesehatan dan perubahan iklim.

Acara ini akan dihelat pada 8 September 2022, jam jam 14.30 – 16.30 WIB, dan terbuka dan dapat diikuti oleh cendekiawan, ilmuwan, peneliti, dosen, mahasiwa, dan juga untuk masyarakat umum pemerhati. Peserta memperoleh Sertifikat Peserta secara gratis dari penyelenggara. Webinar dapat disaksikan melalui tautan https://bit.ly/S20CCOH  atau https://bit.ly/youtubeS20-D1.

Webinar akan digelar dalam dua sesi utama yaitu: Sesi Pembicara Kunci, Bincang-bincang para pakar dan diskusi, dan diikuti dengan kesimpulan penutup oleh ilmuwan terkemuka dari penasihat khusus IAP, yang juga Co-chair IAP Project on Climate Change and Health.

Sesi pertama webinar akan menampilkan  Pembicara Kunci, Andrew Haines, Profesor Perubahan Iklim dan Kesehatan Masyarakat dari London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM). Andrew Haines yang memperoleh gelar Sir dari Kerajaan Inggris 2005 berkat jasa-jasanya yang luar biasa di bidang kedokteran. Ia pernah pula menjadi dekan di LSHTM selama 10 tahun, dan berkiprah luas di sejumlah komite internasional dan nasional utama.  Ia adalah Co-Chair IAP, ketua Working Group on Climate Change and Health. 

Ia akan menyampaikan materi utama terkait bertema perspektif global perubahan iklim dan kesehatan dengan memfokuskan pembahasan pada aspek solusi. Lebih khusus Andrew Haines akan menyoroti persamaan dan perbedaan regional masalah perubahan iklim dan kesehatan, dan memberikan saran bagi para pembuat keputusan untuk implementasi di tingkat global, regional dan nasional, dengan memperhatikan keadaan lokal dan kebutuhan strategis.

Dalam sesi Bincang-bincang pakar & Diskusi, acara talk-show ini akan menampilkan 4 panelis yaitu Maria Nilsson, Sofia Mubarika, Anas Ma’ruf dan Shabana Khan. 

Nilsson adalah professor ilmu Kesehatan masyarakat yang memfokuskan diri pada studi perubahan iklim dan kesehatan, dengan minat utamanya bidang adaptasi iklim, komunikasi risiko dan kesehatan serta translasi pengetahuan ke kebijakan. Pengajar Universitas Umea Swedia dan Editor Kepala Global Health Action ini, akan menyampaikan pengalamannya menangani translasi pengetahuan menjadi kebijakan publik.

Mubarika adalah ketua Gugus Tugas Kesehaan EG S20. Profesor dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM ini akan menyampaikan tantangan kesehatan masyarakat terutama terkait dengan ancaman stunting dan pengamatan nyata akibat perubahan iklim yang terjadi di tingkat nasional.

Dr. Anas Ma’ruf, M.K.M., Direktur Penyehatan Lingkungan – Kementerian Kesehatan, akan menguraikan kebijakan-kebijakan pemerintah terkait dengan strategi ketahanan Kesehatan dalam menghadapai ancaman pandemi Covid-19 dan perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya bagi masyarakat terutama aspek pencegahan dan pengendalian penyakit.

Sedangkan Dr. Shabana Khan, Direktur Akademi Penelitian India, New Delhi, India, akan memperbincangkan pengalamannya sebagai anggota komite ilmiah Anggota Komite Ilmiah - Kelompok Kerja Iklim dan Kesehatan, Asosiasi Akademi dan Masyarakat Ilmu Pengetahuan di Asia (AASSA), berfokus pada persoalan mengelola perubahan iklim, komunikasi resiko, dan tanggap bencana dari perspektif interdisipliner.  

Simpulan dan luaran webinar Bincang-bincang Perubahan Iklim dan Ketahanan Sistem Kesehatan ini akan dikupas oleh Prof. Volker ter Meulen, dosen Universitas Wuerzburg, spesialisasi dalam pediatri dan ahli virologi klinis.  Ia adalah peneliti terkemuka aspek molekuler dan patogenik infeksi virus, yang juga menjadi  penasihat organisasi penelitian dan kementerian sains Jerman dan beberapa lembaga internasional. Meulen adalah Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman Leopoldina (2003—2010) dan Co-Chair InterAcademy Partnership (IAP), Jaringan Global Akademi Sains, Medis dan Teknik, serta menjabat sebagai IAP-President 2017-2021. Diharapkan kompetensi dan pengalamannya yang dalam dan luas dapat memberikan gambaran menyeluruh pokok persoalan yang dihadapi dunia, dan pandangan mutakhir dalam acara webinar yang dikemas dalam bentuk bincang-bincang ini.

Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua S20 Presidensi G20 Indonesia yang juga Ketua AIPI, akan menyambut seluruh Pembicara Kunci, para Panelis dan peserta webinar dengan ucapan selamat datang dan menyampaikan harapan luaran webinar kontribusi ini dapat berkontribusi dalam rumusan Komunike (Kesepakatan Bersama) S20. Prof. Ova Emilia, Rektor UGM akan menyampaikan sambutan pembukaan dan pengantar pada pada gelaran Webinar S20 ini. Sedangkan Prof. Herawati Sudoyo, ketua Komisi Ilmu Kesehatan AIPI, akan menyampaikan sambutan penutup menandai pula selesainya rangkaian 7 seri Webinar Internasional Kebijakan Tingkat Tinggi S20.

Pembaca Budiman. Silakan ikuti terus acara-acara perbincangan publik dari  nara sumber para ilmuwan terkemuka tingkat nasional maupun internasional, yang dapat diikuti melalui aplikasi Zoom, YouTube dan berbagai sosial media AIPI.

(Sigit Asmara Santa – Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.