Peneliti Jangan Takut Turun Menara Gading

29 June 2019 | 7107 hits
29Juni2919_Cendikiawan_Anggota_AIPI2019.jpg

JAKARTA, KOMPAS — Jarak antara peneliti dengan wartawan harus dikikis guna membumikan hasil-hasil penelitian dan menjadikannya bisa diakses serta dipahami masyarakat. Oleh sebab itu, peneliti kini jangan takut untuk turun dari menara gading guna menyebarluaskan hasil penelitiannya agar dikenal publik sebagai sumbangsih kepada bangsa.

Demikian diutarakan oleh ahli genetika manusia di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof dr Herawati Supolo Sudoyo, PhD ketika menerima penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2019 di Jakarta, Jumat (28/6/2019). Penghargaan ini merupakan bagian dari Ulang Tahun ke-54 Harian Kompas. Selain Herawati, penghargaan juga diberikan kepada pengajar Ilmu Politik di Universitas Airlangga Prof Ramlan Surbakti, MA, PhD yang diwakili puteri sulungnya, Elizabeth Surbakti.

“Masih banyak peneliti yang takut berbicara dengan wartawan karena takut terjadi miskomunikasi yang mengakibatkan hasil penelitiannya dikutip secara keliru,” tutur Herawati.

Pemikiran ini, katanya, sudah berlangsung secara turun-temurun di dunia riset. Dulu, hal tersebut masih bisa dilakukan karena jarak antara media dengan lembaga penelitian relatif jauh. Peneliti sibuk dengan riset dan menulis hasilnya menggunakan istilah-istilah ilmiah yang kompleks dan hanya dimengerti oleh segelintir orang di bidang tersebut. Tujuan penulisan adalah agar makalahnya bisa dimuat di jurnal.

Menurut Herawati, sekarang peneliti tidak bisa mengasingkan diri dari dunia media. Perkembangan komunikasi, terutama dengan gencarnya media sosial membuat masyarakat semakin terpapar berbagai informasi yang tidak semuanya akurat, apalagi bisa dipertanggungjawabkan.

“Justru pada masa seperti sekarang peneliti harus menunjukkan hasil kerjanya. Masyarakat berhak tahu mengenai sumbangsih peneliti kepada kemajuan ilmu pengetahuan Nusantara. Wartawan adalah jembatan agar hal tersebut tercapai karena wartawan yang bisa meramu hasil kerja peneliti menjadi bahasa membumi yang bisa dipahami khalayak,” ujarnya.

Justru pada masa seperti sekarang peneliti harus menunjukkan hasil kerjanya. Masyarakat berhak tahu mengenai sumbangsih peneliti kepada kemajuan ilmu pengetahuan Nusantara.

Herawati dikenal melalui penelitiannya mengenai genetika manusia Indonesia. Ia berpendapat, penelitian ini akan relevan selamanya karena mengungkapkan bahwa di dalam persebaran genetika penduduk Nusantara ada kekayaan gradasi genetik sehingga istilah “pribumi” dan “non pribumi” tidak relevan bagi kondisi nyata masyarakat Indonesia.

Ia mengutarakan semangatnya meneliti genetika penduduk Indonesia sebagai kewajibannya kepada bangsa. “Di dunia memang ada berbagai permasalahan genetika, seperti berbagai jenis penyakit yang harus dicari penyembuhnya. Akan tetapi, kekayaan manusia Nusantara yang dari kelompok etnis dan jenis bahasanya saja ada ratusan tidak bisa dikesampingkan karena penting untuk mengenal jati diri bangsa,” tuturnya.

Memberi arah

Wakil Pemimpin Umum Kompas Rikard Bagun dalam sambutannya memaparkan, Kompas adalah surat kabar sekaligus gagasan. Gagasan tidak bisa hanya diproduksi oleh wartawan, tetapi juga bekerja sama dengan cendekiawan. Di tengah kegaduhan informasi, apalagi di era disrupsi yang membuat semua jenis informasi berseliweran, butuh suara yang tenang dan memberi arah.

“Cendekiawan adalah mereka yang menyuarakan kejelasan dan arah. Masyarakat berutang budi kepada cendekiawan sebagai pembagi ilmu,” katanya. Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa terima kasih.

Komisaris PT Kompas Media Nusantara Irwan Oetama bersama Guru Besar Biologi Molekuler Lembaga Eijkman Herawati Supolo Sudoyo dan Elizabeth Surbakti yang mewakili, ayahnya, Guru Besar Perbandingan Politik Universitas Airlangga Ramlan Surbakti, menerima penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2019 pada Ulang Tahun ke-54 Harian Kompas di Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Ramlan Surbakti melalui rekaman video mengatakan adanya penghargaan tersebut tidak hanya memberi percaya diri kepada peneliti karena dihargai, melainkan juga menjadi pemacu semangat untuk terus memberi hasil penelitian berkualitas kepada masyarakat.

Selain memberi penghargaan kepada para cendekiawan, juga ada apresiasi kepada tiga pembaca setia Kompas selama 54 tahun. Mereka adalah J Harjono Wijaya, Trisno Karmadji, dan Yos Salam Surjadi. 

Kompas juga memberikan penghargaan kepada pembaca Kompas yang berasal dari generasi langgas atau generasi milenial, yaitu Febrian Yudika Efendi (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta), Antonius Prawira (mahasiswa yang baru lulus Universitas Bunda Mulia), dan Nashya Tamara (mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara).

“Hal terpenting yang saya cari dari media adalah berita yang tidak tendensius ke satu pihak dan lebih kepada menjelaskan fenomena. Kalau berita sensasional sudah ada di mana-mana dan enggak bermanfaat,” tutur Antonius.

 

Pembuat artikel: Laraswati Ariadne Anwar

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.