AIPI Dorong Upaya Komunikasi Sains

06 August 2018 | 2741 hits
AIPI_Dorong_Upaya_Komunikasi_Sains_2018.png

Jakarta, 6 Agustus 2018- Di masa modern, komunikasi sains menjadi hal yang amat penting. Pesatnya perkembangan sains dan teknologi perlu dipahami oleh masyarakat luas agar dapat dimanfaatkan dengan baik dalam berbagai aspek kehidupan. Komunikasi sains yang baik serta informasi-informasi faktual yang mewarnai ruang diskusi juga akan meminimalisir penyebaran kejahatan siber, berita palsu, dan informasi berbau radikal.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menjadi tuan rumah International Workshop on SHARE (Science, Health, Agriculture, Risk and Environment) Communication pada 6-7 Agustus 2018. Kegiatan ini akan mempertemukan lebih dari 60 profesional di bidang komunikasi sains dari berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, Korea, India, Filipina, Azerbaijan, Vietnam, Turki, Thailand, China, Pakistan, Kyrgyztan, dan Georgia. Mereka membahas berbagai aspek termasuk kebijakan, penelitian, praktik-praktik, dan media yang berkaitan dengan komunikasi sains.

Komunikasi sains penting dilakukan agar pemerintah dapat membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran berdasarkan bukti dan data. Masyarakat juga mendapatkan informasi yang valid dan terbiasa berpikir kritis. “Ilmuwan perlu berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami publik dan mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya sains dan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan,” ujar Wakil Ketua AIPI, Profesor Armida Alisjahbana, saat membuka acara, Senin, 6 Agustus 2018.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Muhammad Sadly menyampaikan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk mengkomunikasikan berbagai risiko kebencanaan kepada masyarakat. Menurut Sekretaris Utama BPPT, Profesor Wimpie N. Aspar, mengatakan bahwa komunikasi sains tidak hanya berpengaruh pada fungsi perekonomian masyarakat, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

 

Adapun, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dra. Rosarita Niken Widiastuti,  M.Si, menekankan pentingnya memanfaatkan jumlah pengguna internet di Indonesia yang besar, mencapai 143 juta pengguna. Generasi muda juga bukan hanya berperan sebagai  konsumen informasi, tetapi juga dapat memproduksi informasi melalui berbagai media sosial. “Kita semua harus memahami bahwa informasi yang salah tidak hanya bisa merusak masyarakat, tetapi juga mengancam keutuhan bangsa,” ujarnya.

Ketua Association of Academies and Societies of Sciences in Asia (AASSA), Profesor Yoo Hang Kim, menekankan bahwa ilmuwan perlu memahami partisipasi publik dalam media sosial agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan signifikansi sains dan teknologi.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebenarnya merupakan kunci untuk membuat pendekatan komunikasi sains yang atraktif dan tepat guna bagi masyarakat. Pesatnya perkembangan internet di Indonesia sangat potensial untuk dimanfaatkan. Terdapat lebih dari 143 juta pengguna Internet yang setara dengan 54% dari total 262 juta penduduk Indonesia. Dalam survey pada tahun 2017 terkait penggunaan gawai, pengguna cenderung mengakses Youtube (43%), Facebook (41%), Instagram (38%), Twitter (27%), dan lain-lain. Sedangkan Whatsapp (40%) menjadi aplikasi obrolan yang paling populer, diikuti dengan aplikasi  Line (33%), BBM (28%), FB Messenger (24%), Skype (15%), WeChat (14%), dan lainnya. Ditinjau dari durasi penggunaannya, rata-rata waktu yang dipakai pengguna untuk mengakses Internet mencapai durasi 7 jam per hari (Kominfo, 2017).

International Workshop on SHARE Communication merupakan kerja sama antara Association of Academies and Societies of Sciences in Asia (AASSA), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan dukungan dari InterAcademy Partnership (IAP).

 

 

Pembuat artikel: Anggrita D. Cahyaningtyas

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.