Optimisme Dibalik Tantangan Besar Transisi Energi

17 March 2022 | 1035 hits
OptimismeDibalikTantanganBesarTransisiEnergi.jpg

Jakarta, 17 Maret 2022, Transisi energi menuju energi hijau tidak mudah dilakukan setiap negara. Untuk mencapai target karbon netral, net zero emmision – jumlah emisi karbon sama dengan penyerapannya – pada tahun 2060, banyak hal yang harus dikorbankan dan membutuhkan dana yang sangat besar. Namun dibalik itu semua terdapat sejumlah peluang yang terbuka lebar. Spirit optimisme itu disampaikan Presiden Joko Widodo Ketua G20 dalam pidato kunci pada S20 High Level Policy Webinar on Just Energy Transition, sebagaimana disiarkan langsung melalui situs s20indonesia.org dan YouTube dan sosial media Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Acara ini dihelat kerjasama AIPI dengan ADB, Kamis, 17 Maret 2022.

Mengawali pidatonya, Presiden Joko Widodo menyampaikan, ”Setiap negara memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda dalam mentransformasikan sistem energi. Transisi energi bukan hanya tentang perubahan pemanfaatan dan penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan, tetapi menyangkut aspek yang sangat-sangat kompleks dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan aspek sosial ekonomi dan lingkungan”.

Presiden Joko Widodo memandang bahwa ada tiga tantangan besar dalam transisi energi yang perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Pertama, terkait dengan akses energi bersih, dunia menghadapi kenyataan bahwa tidak semua warga dunia memiliki akses pada energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern.

"Kita harus mendorong energi bersih untuk semua, terutama energi untuk elektrifikasi dan clean cooking, leaving no one behind," ungkapnya.

Tantangan kedua, terkait dengan masalah pendanaan. “Proses transisi membutuhkan dana yang sangat besar. Transisi energi membutuhkan proyek-proyek baru, artinya juga dibutuhkan investasi yang baru. Karena itu dibutuhkan eksplorasi mekanisme pembiayaan yang tepat agar tercipta keekonomian, harga yang kompetitif, dan tidak membebani masyarakat,” imbuh Presiden Jokowi.

Tantangan ketiga adalah dukungan riset dan teknologi. “Dalam transisi energi diperlukan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan teknologi baru yang lebih efisien dan lebih kompetitif sehingga bisa menurunkan biaya dan meningkatkan nilai tambah pada produk industri energi baru terbarukan. Selain itu, diperlukan persiapan berbagai kompetensi dan keahlian dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi sehingga tersedia SDM yang unggul untuk mendukung transisi energi,” lanjut Ketua Presidensi G20 2022 ini.

"Saya optimistis dibalik semua tantangan itu ada sejumlah peluang yang terbuka lebar. Kemampuan kita mengatasi tantangan transisi energi akan membuka peluang baru dan lapangan kerja baru, peningkatan kebutuhan keahlian inovasi teknologi dan digitalisasi, terbukanya peluang ekonomi baru ekonomi hijau untuk mempercepat pemulihan global," tandasnya.

Presiden Jokowi berharap G20 dapat menjembatani dan mendorong negara-negara berkembang dan maju pada keanggotaan G20 untuk mempercepat proses transisi energi, memperkuat sistem energi global yang adil dan berkelanjutan dalam suatu kesepakatan global.

“Negara yang bebannya berat harus dibantu dan diberikan kemudahan, negara yang sudah siap bisa jalan terlebih dahulu sambil membantu negara lain yang belum mampu,” pesan terbuka Presiden Jokowi.

"Kita harus membangun lebih banyak kolaborasi untuk mempermudah akses layanan energi yang terjangkau, menciptakan inovasi teknologi dan terobosan pendanaan, merumuskan strategi yang konsisten dan berkelanjutan. Terakhir, saya harapkan webinar ini akan menghasilkan gagasan-gagasan yang implementatif untuk mendorong tercapainya kesepakatan global yang kuat dan fokus untuk mewujudkan ekosistem transisi energi yang berkeadilan," tandasnya.

 

(Sigit Asmara Santa - Biro Administrasi Ilmu Pengetahuan)

Hak Cipta © 2014 - 2017 AIPI. Dilindungi Undang-Undang.