Sains Indonesia Dibangun Oleh Siapa? Membongkar Jejak Kolonialisme Hingga Kekuasaan di Balik Produksi Pengetahuan


Siaran Pers

AIPI, ALMI, dan The Conversation Indonesia mengajak publik menelusuri sejarah pembentukan sains Indonesia lintas disiplin ilmu untuk memahami siapa yang membentuk pengetahuan dan ke mana arah masa depannya.

Jakarta, 10 November 2026.

Siapa sesungguhnya yang membangun sains Indonesia? Apakah perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini sepenuhnya lahir dari kebutuhan bangsa sendiri, atau justru dibentuk oleh warisan kolonialisme, kebijakan negara, dan kepentingan kekuasaan yang terus berubah?

Pertanyaan ini jarang muncul ketika publik membicarakan sains. Perhatian lebih sering tertuju pada penemuan, inovasi teknologi, prestasi ilmuwan, atau peringkat riset Indonesia. Padahal, ada persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana institusi keilmuan dibentuk, siapa yang menentukan arah penelitian, dan kepentingan apa yang memengaruhi produksi pengetahuan di Indonesia? Persoalan itulah yang akan dibongkar dalam Diskusi Publik Bersama bertajuk “Sains dan Inovasi Indonesia: Produksi Pengetahuan Lintas Bidang Ilmu”, hasil kolaborasi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), dan The Conversation Indonesia (TCID), Selasa, 10 November 2026, pukul 14.00–15.30 WIB. Diskusi diselenggarakan secara daring dapat diikuti dengan Aplikasi Zoom melalui tautan https://link.aipi.or.id/Sains&Inovasi; atau Meeting ID: 850 6717 7400 dan Passcode: 799800. Perhelatan Diskusi Publik Bersama ini juga disiarkan secara langsung dengan YouTube di https://link.aipi.or.id/YTSains&Inovasi .

Gagasan utama diskusi ini sederhana, tetapi mendasar: masa depan sains Indonesia tidak mungkin dibicarakan secara utuh tanpa memahami sejarah yang membentuknya.

Selama ini, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan Indonesia lebih banyak dituturkan secara terpisah berdasarkan disiplin. Sejarah kedokteran memiliki jalurnya sendiri, begitu pula teknik, pertanian, sejarah, dan ilmu sosial. Padahal, ketika berbagai perjalanan tersebut disandingkan, muncul gambaran yang lebih besar tentang bagaimana sistem pengetahuan Indonesia dibangun, diwariskan, dan mengalami perubahan.

Di balik perkembangan setiap disiplin terdapat sejarah institusi dan kekuasaan. Lembaga-lembaga keilmuan Indonesia tumbuh melalui perjalanan panjang yang berakar pada administrasi kolonial, mengalami penataan ulang pada masa pembangunan nasional, dan kemudian menghadapi perubahan melalui berbagai kebijakan serta tata kelola riset negara.

Warisan sejarah itu tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Ia dapat terus memengaruhi cara institusi bekerja, prioritas penelitian ditetapkan, sumber daya dialokasikan, hingga hubungan antara ilmuwan, negara, dan masyarakat dibangun.

Karena itu, sejarah sains bukan sekadar cerita tentang siapa menemukan apa. Ia juga merupakan sejarah tentang siapa yang memiliki kewenangan menentukan agenda pengetahuan, bagaimana institusi dibentuk, dan untuk kepentingan siapa ilmu pengetahuan dikembangkan.

Dari warisan kolonial hingga teknologi dirgantara

Untuk membaca persoalan tersebut secara lebih menyeluruh, diskusi akan mempertemukan ilmuwan senior dan ilmuwan muda dari sejumlah bidang keahlian. Sejarah produksi pengetahuan akan ditelusuri melalui kedokteran, teknik, ilmu pertanian, sejarah, dan etnomusikologi, kemudian dipertemukan melalui perspektif komparatif ilmu sosial. Empat narasumber akan menyampaikan perspektif lintas disiplin. Prof. Dr. Sangkot Marzuki, Ketua AIPI Periode 2008-2018 yang juga Direktur Lembaga Eijman 1922-2014, akan membahas sejarah bidang kedokteran. Prof. Dr. Damayanti Buchori, Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar – AIPI, akan membahas perkembangan ilmu pertanian. Sedangkan Dr. Pramudita Satria Palar dari ALMI akan membahas bidang teknik dirgantara, sementara itu Dr. Citra Aryandari, S.Sn., M.A. akan membawa perspektif sejarah dan etnomusikologi.

Diskusi dipandu Prof. Dr. Inaya Rakhmani, anggota Komisi Ilmu Sosial – AIPI sekaligus anggota kehormatan ALMI, yang memiliki keahlian dalam ekonomi politik budaya dan sejarah Indonesia modern.

Perspektif ilmu sosial menjadi penting untuk menghubungkan berbagai pengalaman tersebut. Sebab, sejarah perkembangan suatu disiplin tidak selalu dapat dipahami hanya dari kemajuan teori atau penemuan teknologinya. Ada konteks politik, ekonomi, sosial, dan kelembagaan yang ikut menentukan bagaimana ilmu pengetahuan tumbuh.

Pertemuan ilmuwan senior dan ilmuwan muda juga menghadirkan dimensi antargenerasi. Pengalaman ilmuwan senior dalam menyaksikan perkembangan institusi dan disiplin ilmu akan dipertemukan dengan pandangan generasi muda yang tengah membangun masa depan riset Indonesia.

Dengan demikian, forum ini tidak dimaksudkan sebagai perayaan nostalgia atas perjalanan sains Indonesia. Sebaliknya, sejarah digunakan sebagai alat untuk menguji kembali berbagai asumsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan mempertanyakan apakah sistem yang diwariskan selama ini telah cukup kuat untuk menopang kemandirian sains nasional.

Masa depan sains tidak boleh terputus dari sejarahnya

Bagi AIPI, ALMI, dan The Conversation Indonesia, membawa sejarah sains ke ruang publik merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan ilmiah sekaligus memperkuat percakapan berbasis bukti.

Ketiga lembaga menghadirkan kekuatan yang saling melengkapi. AIPI membawa otoritas dan pengalaman keilmuan para ilmuwan senior. ALMI menghadirkan perspektif generasi ilmuwan muda yang akan menentukan perkembangan riset pada masa mendatang. Sementara itu, The Conversation Indonesia memperluas jangkauan gagasan melalui jurnalisme berbasis bukti dengan independensi editorial.

Kolaborasi ini juga dirancang agar gagasan yang lahir dari ruang diskusi tidak berhenti di lingkungan akademik. The Conversation Indonesia akan mengembangkan sebuah artikel fitur berdasarkan substansi pembahasan, melalui proses dan keputusan editorial independen TCID. Dengan begitu, hasil percakapan ilmiah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk jurnalis, pembuat kebijakan, dan organisasi masyarakat sipil. Momentum 10 November memberikan dimensi kebangsaan tersendiri bagi diskusi ini. Bertepatan dengan Hari Pahlawan dan Hari Sains Dunia untuk Perdamaian dan Pembangunan yang ditetapkan UNESCO, forum ini mengajak publik melihat

sains bukan semata-mata sebagai instrumen kemajuan teknologi, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan pembentukan bangsa.

Pada akhirnya, ambisi membangun kemandirian sains Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan anggaran riset, pembangunan laboratorium, atau pencapaian publikasi ilmiah. Bangsa ini juga perlu memahami bagaimana sistem pengetahuannya terbentuk, warisan apa yang masih memengaruhinya, serta struktur kelembagaan dan kebijakan apa yang perlu diperkuat atau diperbarui.

Sebab, bagaimana mungkin Indonesia menentukan masa depan sainsnya sendiri jika sejarah pembentukan sistem pengetahuannya belum sungguh-sungguh dipahami?

Pertanyaan itu menjadi inti dari diskusi publik ini. Bukan hanya tentang apa yang telah ditemukan ilmuwan Indonesia, melainkan juga tentang siapa yang membentuk ruang bagi penemuan itu, bagaimana pengetahuan diproduksi, dan sejauh mana bangsa ini memiliki kendali atas arah perkembangannya.

Website         :  aipi.or.id  
Instagram     :  aipi_Indonesia
Tweeter         :  AIPI_id
Youtube        :  AIPI_Indonesia

Penyusun Siaran Pers:  
Sigit Asmara Santa
humas@aipi.or.id
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI.