Siaran Pers
Membaca Ulang Tata Kelola Bencana di Era Antroposen: Menjembatani Sains, Politik, dan Etika
Jakarta, 1 Juli 2026.
Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak ilmuwan meyakini bahwa umat manusia telah memasuki era baru yang dikenal sebagai Antroposen, suatu periode ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan dominan yang mempengaruhi sistem bumi.
Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi ekosistem, amblasan tanah, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem menunjukkan bahwa krisis lingkungan kontemporer tidak lagi dapat dipahami sebagai fenomena alam semata. Krisis tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara sistem ekologis, sistem ekonomi, sistem politik, dan sistem nilai yang membentuk arah pembangunan manusia. Berangkat dari kesadaran tersebut, Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), berkolaborasi dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Paramadina Public Policy Institute (PPPI) Universitas Paramadina menyelenggarakan Diskusi Meja Bundar Para Pakar dengan mengusung tema “Integrasi Sains, Politik, dan Etika dalam Pembangunan Kawasan dan Tata Kelola Risiko Bencana di Indonesia”.
Forum ini bertujuan menggali pemikiran mutakhir mengenai bagaimana pengetahuan ilmiah, proses politik, dan pertimbangan etis dapat diintegrasikan dalam menghadapi tantangan lingkungan dan kebencanaan yang semakin kompleks.
Forum Diskusi Meja Bundar Para Pakar ini diposisikan dan diharapkan menjadi kuali peleburan (melting pot) integrasi pemikiran dan pandangan dari perspektif sains, politik dan etika; yang selanjutnya digunakan untuk mencari solusi dan mengatasi bencana sebagai suatu produk sistem. Sains dipahami sebagai evidence system yang menyediakan dasar pengetahuan mengenai risiko dan ancaman. Politik dipahami sebagai arena tempat keputusan publik dirumuskan dan dijalankan. Sementara etika berfungsi sebagai value system yang menentukan arah dan tujuan pembangunan, termasuk keadilan sosial, keberlanjutan ekologis, dan tanggung jawab antargenerasi.
Ketiga unsur tersebut selama ini sering berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu menghasilkan kebijakan yang lebih aman, lebih adil, atau lebih berkelanjutan.
Melalui diskusi lintas disiplin yang menghadirkan ilmuwan, ekonom, antropolog, pakar hukum, jurnalis lingkungan, dan organisasi masyarakat sipil, forum ini berupaya mengidentifikasi kondisi aktual hubungan antara sains, politik, dan etika dalam tata kelola risiko bencana Indonesia, sekaligus merumuskan arah transformasi menuju kondisi yang lebih ideal.
Forum diskusi diarahkan untuk menjawab tiga pertanyaan utama yaitu: pertama, bagaimana realitas hubungan antara sains, politik, dan etika dalam tata kelola pembangunan kawasan dan risiko bencana di Indonesia saat ini?; kedua, bagaimana pola hubungan idela yang seharusnya dibangun agar menghasilkan tata kelola yang lebih adil, berkelanjutan, dan berbasis pengetahuan?; dan ketiga langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menjembatani kesenjangan dan bergerak dari kondisi yang ada saat ini menuju kondisi yang ideal tersebut
Diskusi Meja Bundar Para Pakar ini akan diselenggarakan pada Senin, 6 Juli 2026 pukul 09:00 – 16:00 WIB di Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur. Diskusi dihelat secara luring dengan kapasitas terbatas, namun dapat diikuti melalui siaran tautan live streaming youtube.com/@universitas.paramadina. Kegiatan ini tidak dirancang sebagai seminar terbuka, namun sebagai forum diskusi yang memungkinkan pertukaran gagasan secara langsung antar peserta. Agenda Forum Diskusi terbagi dalam dua sesi dengan menghadirkan delapan narasumber yang kompeten dengan kepakaran disiplin ilmu yang relevan dengan tema utama diskusi. Setiap narasumber diminta menyampaikan position paper selama 10 menit sebagai paparan utama dalam diskusi dalam perspektif bidang keilmuannya. Selanjutnya narasumber lainnya akan menanggapi materi paparan tersebut.
Pada Sesi Pertama menghadirkan empat narasumber berasal dari kalangan akademisi dan praktisi yang akan menguraikan kertas posisinya, yaitu narasumber pertama, Fajar Ibnu Thufail, Antropolog sosial dan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Fajar juga sebagai peneliti aktif yang berafiliasi pada Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman. Fokus penelitiannya pada soal-soal yang berkaitan dengan hubungan antara masyarakat, lingkungan, perubahan sosial, dan risiko bencana di Indonesia. Narasumber kedua adalah Iqbal Damanik, seorang praktisi dan advokat lingkungan yang menjabat sebagai Manajer Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. Iqbal akan menyampaikan presentasi terkait dengan pengalaman kerja-kerja yang mencakup perubahan iklim, transisi energi berkeadilan, tata kelola sumber daya alam, serta advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
Narasumber ketiga adalah Wardah Alkatiri – akademisi dan peneliti di bidang Ekologi Manusia dengan fokus pada relasi antara Islam, masyarakat Muslim, dan keberlanjutan lingkungan. Memiliki pengalaman penelitian dan kolaborasi akademik dengan University of Canterbury dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Dan narasumber keempat pada Sesi Pertama ini adalah Laode M. Syarif, seorang akademisi yang pernah menjabat Wakil Ketua KPK periode 2015-2019. Syarif adalah pakar hukum lingkungan dengan fokus pada tata kelola sumber daya alam, kebijakan lingkungan, dan reformasi kelembagaan.
Pada Sesi Kedua yang berlangsung setelah Isoma, mengagendakan paparan empat narasumber lainnya – yang terutama berasal dari kalangan praktisi dan seorang dari kalangan akademisi. Nailul Huda, Ekonom dan Direktur Economy Center of Economic and Laws Stidies (CELIOS) sebagai narasumber kelima akan memaparkan materi dengan fokus kajian mencakup ekonomi politik pembangunan, kebijakan ekonomi, transformasi industri, transisi energi, serta dampak ekonomi dari kebijakan publik di Indonesia. Selanjutnya Muhamad Rosyid Jazuli, Direktur Eksekutif PPPI Universitas Paramadina, didapuk sebagai narasumber keenam. Alumnus University College, London ini, aktif sebagai peneliti dan praktisi kebijakan publik dengan fokus pada ekonomi politik kebijakan, tata kelola pemerintahan, organisasi kepemudaan, dan pemberdayaan generasi muda. Direktur Program Trend Asia, Ahmad Ashov Birry, sebagai narasumber ketujuh. Lembaga ini berfokus menangai isu-isu transisi energi, keadilan iklim, tata kelola sumber daya alam, serta dampak sosial dan ekologis dari pembangunan berbasis ekstraksi,. Birry yang aktif dalam berbagai advokasi dan kajian kebijakan terkait transformasi sistem energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, diminta untuk mengungkapkan pengalamannya selama ini. Dan narasumber kedelapan, Joni Aswira Putra, adalah seorang Jurnalis lingkungan dan anggota Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), diminta untuk memaparkan catatan pengalaman selama ini dalam peliputan isu lingkungan, perubahan iklim, kebencanaan, serta tata kelola sumber daya alam, dengan perhatian pada peran media dalam memperkuat akuntabilitas dan kesadaran publik terhadap isu-isu ekologis.
Seluruh rangkaian acara Forum Diskusi Meja Bundar para pakar ini akan dipandu oleh Abdul Malik Girsang, Senior Advisor di PPPI. Acara diawali dengan Sambutan Pembuka Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, Ketua Yayasan Wakaf Paramadina yang juga Head Advisor PPI, dan pesan Sambutan Pembuka Diskusi disampaikan Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso.
Di akhir acara forum diskusi, M. Amin Abdullah, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, akan menyampaikan butir-butir ringkasan sementara hasil Forum Diskusi Meja Bundar para pakar ini yang nantinya – oleh tim penyusun – akan diolah dan diperkaya menjadi sebuah buku kompilasi akademik yang memuat refleksi lintas disiplin mengenai hubungan antara sains, politik, dan etika untuk perbaikan tata kelola kawasan terdampak bencana. Karya buku ini adalah luaran utama dari rangkaian kegiatan forum diskusi dengan berbagai pihak lintas disiplin – sebagai sumbangsih ilmuwan untuk masyarakat dan pengambil kebijakan di republik ini.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Penulis Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa
humas@aipi.or.id Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI.