Pola Makan Sehat
Pangan Berkelanjutan, Tingkatkan Kesehatan
JAKARTA, KOMPAS — Tingginya konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, hingga pangan ultraproses merupakan penyebab utama berbagai masalah gizi di Indonesia. Karena itu, perlu ada transformasi sistem pangan berkelanjutan dan berkeadilan untuk meningkatkan kesehatan warga, sekaligus melindungi Bumi.
Hal tersebut terangkum dalam Laporan EAT-Lancet 2025 di Indonesia bertajuk “Pola Makan Sehat dan Sistem Pangan Berkelanjutan serta Berkeadilan untuk Indonesia”. Laporan ini diluncurkan di Jakarta, Senin (18/5/2026), yang digelar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan EAT Foundation dan lembaga lainnya.
Laporan EAT-Lancet dikenal sebagai salah satu rujukan ilmiah global paling berpengaruh dalam isu diet sehat dan keberlanjutan pangan. Laporan edisi 2025 itu memperbarui berbagai bukti ilmiah terkait hubungan pola makan, kesehatan manusia, ketahanan pangan, dan krisis lingkungan.
Laporan ini menyoroti data kesehatan di dunia menunjukkan tren kenaikan obesitas dan diabetes terus terjadi dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia produktif. Di sisi lain, konsumsi gula, garam, dan lemak masyarakat masih relatif tinggi, sedangkan konsumsi sayur, buah, dan protein berkualitas belum ideal.
Komisioner EAT-Lancet, yang juga Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Indonesia (UI), Rina Agustina mengemukakan, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada individu atau keluarga. Sebab, sistem pangan turut membentuk pilihan konsumsi masyarakat. “Kalau makanan sehat sulit dijangkau dan lebih mahal, warga cenderung memilih makanan yang paling mudah dan murah. Oleh karena itu, transformasi sistem pangan harus dilakukan secara struktural,” ujarnya.
Rina menilai, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Keragaman pangan lokal, sumber protein tradisional, dan kekayaan biodiversitas dapat menjadi kekuatan besar apabila didukung kebijakan yang tepat.

Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan. — Rina Agustina
Dalam laporan EAT-Lancet disebutkan, pangan merupakan faktor utama untuk mengoptimalkan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan di Bumi. Laporan ini pun menetapkan sasaran ilmiah untuk pola makan sehat dan produksi pangan berkelanjutan.
Pola makan sehat mencakup asupan kalori yang optimal. Sebagian besar asupan kalori tersebut terdiri dari beragam jenis pangan nabati, sedikit pangan hewani, mengandung lemak tak jenuh, dan sedikit biji-bijian olahan, pangan olahan, dan gula tambahan.
Komisi EAT-Lancet juga menganalisis dampak potensial dari perubahan pola makan terhadap mortalitas penyakit. Hasil analisis menunjukkan, perubahan pola makan ini memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, salah satunya mencegah sekitar 11 juta kematian per tahun atau setara dengan 19-24 persen dari total kematian dewasa.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di Harian Kompas, 19 Mei 2026.