Siaran Pers
Peluncuran EAT–Lancet 2025 Menyoroti Ancaman Tersembunyi Di Balik Pola Makan Masyarakat Indonesia Dan Mendesak Perubahan Kebijakan Pangan Nasional.
Jakarta, 15 Mei 2026.
Di banyak kota Indonesia hari ini, makanan cepat saji, minuman tinggi gula, dan pangan ultra-proses jauh lebih mudah ditemukan dibanding buah segar atau makanan bergizi seimbang. Harga makanan sehat sering kali lebih mahal, sementara pola hidup serba cepat membuat masyarakat semakin bergantung pada pangan instan. Akibatnya mulai terlihat jelas: obesitas meningkat, diabetes menyerang usia lebih muda, hipertensi meluas, sementara stunting dan kekurangan gizi belum sepenuhnya terselesaikan. Situasi tersebut menjadi akan sorotan utama dalam peluncuran laporan terbaru Komisi EAT–Lancet 2025 di Jakarta, Senin (18/5). Forum yang digelar atas kerja bareng Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan EAT Foundation, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Global Alliance for Improved Nutrition, Food and Land Use Coalition, Foodstartup Indonesia, dan Enhance Global itu mempertemukan para ilmuwan, pejabat pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku industri pangan untuk membahas masa depan sistem pangan Indonesia.
Laporan EAT–Lancet yang dikenal luas sebagai salah satu rujukan ilmiah global paling berpengaruh dalam isu diet sehat dan keberlanjutan pangan. Edisi 2025 memperbarui berbagai bukti ilmiah mengenai hubungan antara pola makan, kesehatan manusia, ketahanan pangan, dan krisis lingkungan.
Perhelatan ini akan diselenggarakan di Hotel Millennium, Jln. Fachrudin 3, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Seni n 18 Mei 2026, pukul 08.30-12.30 WIB, terbuka untuk untuk umum terutama pemerhati dan penentu kebijakan publikmasalah pangan, kesehatan masyarakat, dan perubahan iklim, serta kalangan media. Dengan kapasitas ruangan luring terbatas, maka peserta diminta mendaftarkan diri secara online melalui tautan https://bit.ly/PeluncuranLaporan2025.
Perlehatan Seminar dan Peluncuran EAT-Lancet 2025 akan dibuka oleh Prof. Dr. Daniel Murdiyarso, Ketua AIPI, Sambutan Pembukaan oleh Dr. Fabrice DeClerck dari Perwakilan EAT-Foundation. Paparan 2 orang aPembicara Kunci akan disampaikan oleh Prof. dr. Rina Agustina, M.Gizi., Ph.D., Anggota Komisi Ilmu Kedokteran AIPI yang juga Komisioner EAT–Lancet dan Guru Besar Departemen Gizi, FKUI; dan Dr. Shakuntala H. Thilsted dari Co-Chair EAT–Lancet; WorldFish, CGIAR, Malaysia. Prof. dr. Yodi Mahendradhata, Ph.D., Anggota Komisi Ilmu Kedokteran AIPI yang juga Dekan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada, akan bertindak sebagai moderator di sesi Paparan Nara Sumber Utama.
Pada sesi Diskusi Panel bertema “Rekomendasi EAT–Lancet Commission 2025 : Penerapan Sistem Pangan yang Sehat, Berkelanjutan, dan Berkeadilan di Indonesia”, menghadirkan penelis dari berbagai kalangan yaitu Ilman Dzikri, MBA (Sweef Capital); Ibnu Budiman, M.Sc. (GAIN); Fachrial Kautsar (CISDI); dr. Melyarna Putri Sp. GK. (ENHANCE GLOBAL). Pada sesi ini dikusi panel ini akan dimoderatori oleh dr. Vita Datau, MPM (Foodstartup Indonesia, Indonesian Gastronomy Network).
Laporan EAT-Lancet Commision 2025 secara Simbolis diserakkan kepada perwakilan pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante S Harbuwono, Sp.PD.-KEMD, Ph.D.; dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Pungkas Bahjuri Ali, STP, M.S., Ph.D., yang sekaligus akan memberikan pernyataan komitmen pemerintah pada perkara ini. Selanjutnya sebagai Penutup perhelatan ini, pesan-pesan pokok dan harapan ke depan dengan peluncuran EAT-Lancet Commission 2025 ini, akan dismpaikan oleh Jarot Indarto, Ph.D., Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas; Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D. , Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI; dan Roberta Alessandrini, Ph.D., Physicians Association for Nutrition.
Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI, Herawati Sudoyo, pada kesempatan Webinar International “Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health:Scientific Evidence on Ultra-Processed Foods, Dietary Guideline Alignment, Policy Gaps, and Global Responses”, yang dihelat 23 April lalu – kegiatan yang mengawali Seminar dan Peluncuran EAT-Lancet 2025 ini – mengatakan Indonesia kini menghadapi tantangan besar karena persoalan gizi tidak lagi tunggal.
“Kita menghadapi beban ganda bahkan triple burden of malnutrition. Stunting masih ada, kekurangan mikronutrien masih terjadi, tetapi obesitas dan penyakit tidak menular meningkat sangat cepat,” katanya ketika itu.
Data kesehatan menunjukkan tren kenaikan obesitas dan diabetes terus terjadi dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia produktif. Di sisi lain, konsumsi gula, garam, dan lemak masyarakat masih relatif tinggi, sementara konsumsi sayur, buah, dan protein berkualitas belum ideal.
Semnetara itu, Rina Agustina, Komisioner EAT–Lancet, menyebut persoalan tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada individu atau keluarga. Sistem pangan, menurut dia, turut membentuk pilihan konsumsi masyarakat.
“Kalau makanan sehat sulit dijangkau dan lebih mahal, maka masyarakat cenderung memilih makanan yang paling mudah dan murah. Karena itu transformasi sistem pangan harus dilakukan secara struktural,” ujar akademisi Universitas Indonesia tersebut.
Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk membangun sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Keragaman pangan lokal, sumber protein tradisional, dan kekayaan biodiversitas dapat menjadi kekuatan besar apabila didukung kebijakan yang tepat.
Forum ini juga ingin mengingatkan dan mengkampanyekan bahwa tantangan pangan masa depan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, melainkan juga perubahan iklim. Produksi dan konsumsi pangan global menyumbang tekanan besar terhadap lingkungan, mulai dari emisi karbon, kerusakan lahan, hingga hilangnya biodiversitas.
Co-Chair EAT–Lancet Commission, Shakuntala H. Thilsted, yang menjadi narasuber utama akan menjelaskan aspek transformasi sistem pangan yang harus dipandang sebagai investasi masa depan, bukan sekadar agenda kesehatan.
“Kesehatan manusia dan kesehatan planet tidak bisa dipisahkan,” ujarnya Ketika dihubungi untuk dimintai menjadi pemateri pada perhelatan Seminar dan Peluncuran AEAT-Lancet 2025.
Diskusi dalam forum tersebut juga menyinggung dan menguak lebih jauh ketimpangan akses pangan sehat di Indonesia. Banyak keluarga berpenghasilan rendah menghadapi pilihan sulit antara harga dan kualitas gizi. Di sisi lain, penetrasi pemasaran pangan ultra-proses terus meningkat melalui berbagai platform digital. Diharapkan, peluncuran EAT–Lancet 2025 di Indonesia ini tidak berhenti pada penyampaian laporan ilmiah. Forum ini juga ditujukn untuk mendorong dialog kebijakan dan penyusunan rekomendasi strategis lintas sektor, mulai dari kesehatan, pertanian, pendidikan, perdagangan, hingga investasi, melalui dialog terbukan antar pihak yang berkepentingan
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Daniel Murdiyarso, akam membuka penyelenggaraan event penting ini, karena transformasi pangan sudah menjadi perhatian utama dan harus dijadikan sebagai salah satu agenda pembangunan nasional. Pangan adalah soal kualitas manusia Indonesia di masa depan.
Pesan utama yang ingin disampaikan dalam forum ini sejatinya cukup sederhana namun sangat mendasar, makanan sehat tidak boleh menjadi kemewahan. Sistem pangan harus dibangun agar setiap orang, tanpa memandang tingkat ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat.
Website : aipi.or.id
Instagram : aipi_Indonesia
Tweeter : AIPI_id
Youtube : AIPI_Indonesia
Penulis Siaran Pers:
Sigit Asmara Santa
Biro Adm. Ilmu Pengetahuan, AIPI.