Indonesia Emas 2045 Perlu Dibarengi Pengembangan Sains dalam Negeri


AIPI mendorong pemerintah memiliki agenda dan pengembangan sains yang kuat di berbagai bidang. Hal ini diperlukan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Jajaran Pimpinan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang diketuai oleh Prof Dr Daniel Murdiyarso (paling kiri) saat berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Kompas di Jakarta, Jumat (18/8/2023). Selain untuk memperkenalkan pimpinan baru AIPI, kunjungan ini juga untuk berdiskusi terkait berbagai permasalahan di Indonesia. Kunjungan ini ditemui oleh Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kompas Sutta Dharmasaputra (berkemeja lengan panjang warna biru) dan jajarannya.

JAKARTA, KOMPAS —Visi Indonesia Emas 2045 perlu dibarengi dengan pengembangan sains dalam negeri. Pelibatan akademisi sangat penting dalam mengawal arah pembangunan.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Daniel Murdiyarso mengatakan, sains sangat penting bagi kemajuan bangsa. Tidak hanya dalam menggunakan dan mengadopsinya, tetapi juga mengembangkannya secara mandiri.

Seharusnya Indonesia Emas 2045 dibarengi dengan pengembangan sains dalam negeri karena hal itu yang akan mengawalnya,” ujarnya saat berdiskusi dengan jajaran Redaksi Harian Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (18/8/2023).

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Dr Daniel Murdiyarso (kanan) menerima buku dari Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra saat berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Kompas di Jakarta, Jumat (18/8/2023).

Dengan mengembangkan sains, kekurangan dari penggunaan teknologi akan diketahui sehingga dapat diperbaiki. Selain itu, kemajuan sains juga bisa dipakai mengoptimalkan berbagai potensi untuk kemajuan bangsa.

”Sains tidak boleh dinomorduakan. Oleh karena itu, AIPI ingin pemerintah memiliki agenda sains dan pengembangan sains yang kuat di berbagai bidang,” katanya.

Daniel menuturkan, pengembangan sains tersebut bukan cuma dalam ide dan peraturan, melainkan juga anggaran. Menurut dia, anggaran sains saat ini relatif kecil. Alhasil, banyak penelitian hanya jangka pendek karena pendanaannya terbatas.

”Sudah (anggaran) kecil, juga tidak terarah. Kadang-kadang, fokusnya tidak jelas. Penelitian tidak tuntas karena jangka pendek. Beberapa (penelitian) mengulang yang sudah ada,” ucapnya.

Intelektual atau cendekiawan diharapkan dapat berperan sebagai ”devil’s advocate ” lewat gagasan-gagasan yang mengoreksi kebijakan. Oleh karena itu, peran cendekiawan dibutuhkan dalam proses penyusunan kebijakan.

Dengan mengembangkan sains dan teknologi, Indonesia berpeluang melahirkan transformasi di berbagai sektor. Hal ini membutuhkan kontribusi akademisi lewat inovasi yang lahir dari penelitiannya.

Menurut Daniel, dalam sektor energi, diharapkan energi fosil sudah tidak digunakan pada 2045. Oleh karena itu, pemakaian energi biomassa mesti terus ditingkatkan.

”Bioenergi seharusnya sudah mencapai 25 persen pada 2025. Namun, kenyataannya sekarang baru 13 persen. Jadi, bagaimana bisa mencapainya? Ini menjadi tantangan besar,” ujarnya.

Daniel menambahkan, Indonesia mempunyai sumber bioenergi yang melimpah. Hal ini menjadi potensi besar untuk dimaksimalkan demi memenuhi kebutuhan energi masa depan.

Ketua Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof Dr Amin Abdullah.

Ketua Komisi Kebudayaan AIPI Prof Amin Abdullah menuturkan, intelektual atau cendekiawan diharapkan dapat berperan sebagai devil’s advocate lewat gagasan-gagasan yang mengoreksi kebijakan. Oleh karena itu, peran cendekiawan dibutuhkan dalam proses penyusunan kebijakan.

”Seumpamanya ada utusan golongan cendekiawan (di DPR), dia akan mengoreksi rancangan undang-undang (RUU). Sekarang ini, RUU dilempar ke perguruan tinggi untuk mendapatkan masukan. Namun, sering kali masukan itu tidak dimasukkan (diakomodasi),” ujarnya.

Anggota Komisi Ilmu Rekayasa AIPI, Budhi Muliawan Suyitno, mengatakan, Indonesia mempunyai masa depan sebagai lumbung pangan dunia. Selain itu, saat ini Indonesia juga menjadi incaran banyak negara yang membutuhkan sumber energi, salah satunya logam tanah jarang.

”Bisakah kita hidup serasi, selaras, seimbang dalam harmoni semesta? Tentunya ini perlu kolaborasi semua pihak yang mempunyai kesadaran untuk melestarikan Bumi,” katanya.

Artikel ini pertama kali di terbitkan di Harian Kompas 18 Agustus 2023