Prof. Syafruddin adalah seorang dokter dan ilmuwan yang menekuni bidang parasitologi dan biologi molekuler. Berbagai penelitian telah dilakukan dan menghasilkan program yang digunakan oleh masyarakat dan Pemerintah. Prof. Syafruddin adalah peneliti senior di Institute of Molecular Biology Eijkman dan menjadi anggota Poverty-Related Infections Diseases-Oriented Research (PRIORI).
Prof. Syafruddin juga berpengalaman menjadi panel untuk hibah penelitian kompetitif untuk riset teknologi kesehatan dan kedokteran di tingkat nasional dan global, serta menjadi anggota Komite Etik Nasional Litbangkes Kemkes. Prof. Syafruddin merupakan seorang penulis dan co-author sejumlah artikel yang diterbitkan dalam jurnal internasional terkemuka (Scopus H-index 30). Kontribusi utama dari kegiatan riset adalah elusidasi dari sistem transduksi energi pada parasit malaria dengan menggunakan Plasmodium berghei (rodent malaria sebagai model). Fondasi dari capaian tersebut adalah pengembangan platform riset in vivo dan in vitro parasite cultivation di Lembaga Eijkman, yang kemudian di transfer ke berbagai lembaga riset Nasional dan Universitas. Platform riset in vivo dan in vitro Plasmodium cultivation telah menopang upaya pengembangan obat (drug discovery), uji obat untuk menentukan mekanisme kerjanya pada tingkat molekuler dan pengembangan teknologi diagnostik berbasis molekuler (DNA barcoding) untuk organisme Eukaryote, misalnya Plasmodium dan nyamuk.
Prof. Syafruddin menerima penghargaan ”Paul-Ehrlich’s Magic Bullet Award for the scientific contribution Germany antimalarials drug resistance in Indonesia: A moleculer analysis”. Saat ini Prof. Syafruddin menjadi reviewer beberapa jurnal internasional, diantaranya American Journal Tropical Medicine, Journal Parasitology International, Journal Experimental Parasitology, Journal Parasite ad Vector dan Journal Andrologia.
Prof. Syafruddin berkontribusi pada tingkat nasional sebagai ?anggota komite ahli nasional penanggulangan vektor dan binatang pembawa penyakit, anggota komisi ahli malaria, dan anggota task force untuk pandemic preparedness, dari aspek penyakit parasitic. Selain itu, pada skala internasional, Prof. Syafruddin sebagai ahli pada WHO meetings on drug resistance, WHO meeting on insect repellent (Vector control advisory committee) dan saat ini sebagai national expert committee on vector contro and disease-carrying animal.
AIPI akan lebih berdampak dengan menjadikan Prof. Syafruddin sebagai anggota Komisi Ilmu Kedokteran, dengan berbagai riset dan inovasi di bidang ilmu kedokteran parasitologi dan biologi molekuler. Beliau akan berkontribusi dalam menjawab tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan masa depan, khususnya terkait dalam hal penanganan pandemi penyakit dari aspek parasitologi.